Dihantam Angin Kencang dan Kelangkaan Solar, Nelayan di Serdang Bedagai Menjerit

2 Hari bertahan di tengah gelombang tinggi, nelayan cuma dapat 3 Kg ikan.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 18:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas perekonomian para nelayan di Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) nyaris lumpuh sepekan terakhir. Nelayan hanya bisa menambatkan kapal-kapal motor mereka di tangkahan akibat dua hantaman gelombang sekaligus dampak cuaca buruk di Selat Malaka. Diperparah dengan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar.

"Sudah sekitar satu minggu kami tidak pergi melaut karena angin kencang. Kemudian solar juga susah didapat. Kalaupun nekat berangkat, hasil tangkapan belum tentu cukup untuk menutupi biaya operasional selama di laut," keluh nelayan Ucok (54), Kamis (16/7/2026).

Ada nelayan lain yang sempat nekat melaut justru harus menelan pil pahit. Seperti dialami Parcil (30), nelayan jaring gembung. Dia sampai terombang-ambing selama dua hari di laut dalam kondisi cuaca ekstrem.

Mereka hanya membawa pulang 3 kg ikan gembung kering. Setelah dijual dan dibagi rata, masing-masing Anak Buah Kapal (ABK) hanya mengantongi uang Rp 10.000.

Nasib serupa dialami Hery (45). Setelah menghabiskan dua malam di tengah laut, tangkapannya sangat minim. Upah yang bisa dibawa pulang untuk anak-istri di rumah hanya sebesar Rp 15.000 per orang.

 

Dipersulit Penggunaan Barcode

Melambungnya harga BBM benar-benar memukul mata pencarian nelayan. Belum lagi persoalan harga tambahan yang dibebankan. Penyaluran solar dan Pertalite dilayani melalui Stasiun Pengisian Diesel Nelayan (SPDN) di Dusun I, Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin. Secara resmi, harga solar tertera Rp 6.800 per liter.

Namun realitas di lapangan berbicara lain. Nelayan harus membayar hingga Rp 7.800 per liter untuk biaya pengangkutan menggunakan jeriken. Tak hanya itu, mereka juga terkendala administrasi. Banyak nelayan kecil yang belum memiliki barcode resmi, sehingga mereka terhambat dan kesulitan untuk mengakses solar bersubsidi tersebut.

Saat ini, para nelayan Tanjung Beringin hanya bisa berharap ada mukjizat berupa cuaca yang segera membaik. Mereka juga mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk segera turun tangan membenahi distribusi solar, agar mesin-mesin kapal mereka bisa kembali menderu demi menyambung hidup keluarga.