Aturan Baru Gubernur NTT: Anak Wajib Belajar 1,5 Jam Bareng Orang Tua

Rendahnya kualitas pendidikan di NTT dipengaruhi minimnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah.

Diterbitkan 29 Mei 2026, 15:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, mewajibkan orang tua atau wali mendampingi anak belajar selama 1,5 jam setiap malam. Kebijakan itu diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di NTT.

“Setiap malam anak harus belajar di rumah didampingi orang tua minimal satu setengah jam. Ini wajib, tidak boleh tidak. Ini instruksi saya,” tegas Melki saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan di NTT, Jumat (29/5/2026).

Menurut dia, rendahnya kualitas pendidikan di NTT dipengaruhi minimnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah. Selama ini, banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah dan guru, padahal keluarga memiliki peran penting.

“Jangan anggap pendidikan itu urusan sekolah dan guru saja. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, terutama orang tua. Kalau di rumah anak tidak dibimbing, jangan salahkan guru kalau hasilnya tidak maksimal,” ujarnya.

Dalam aturan tersebut, orang tua atau wali diminta memastikan anak belajar mulai pukul 19.00 hingga 20.30 WITA setiap hari. Waktu itu diharapkan dimanfaatkan untuk mengulang pelajaran, membaca buku, atau mengerjakan tugas sekolah.

Melki juga memerintahkan kepala dinas pendidikan tingkat provinsi maupun kabupaten/kota memantau pelaksanaan kebijakan tersebut. Dinas Pendidikan diminta berkoordinasi dengan kepala sekolah dan guru untuk mengawasi serta memverifikasi pendampingan belajar di rumah.

“Nanti Dinas Pendidikan harus membuat mekanisme pengawasannya. Guru harus berkomunikasi dengan orang tua. Ini bukan sekadar anjuran, tapi kewajiban. Kita ingin anak-anak NTT cerdas, maka kebiasaan belajar harus dibangun mulai dari rumah,” katanya.

 

Gubernur NTT Tanggapi Pro Kontra

Kebijakan ini menuai beragam tanggapan. Sebagian orang tua mendukung aturan tersebut karena dinilai dapat mempererat hubungan orang tua dan anak sekaligus memperkuat peran keluarga dalam pendidikan.

Namun, sebagian lainnya meminta perhatian bagi orang tua yang bekerja hingga malam hari maupun masyarakat di daerah terpencil yang masih mengalami keterbatasan akses listrik.

Merespons hal itu, Melki menegaskan kendala tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pendampingan belajar anak. Pemerintah, kata dia, akan berupaya memenuhi fasilitas dasar, termasuk penerangan.

“Kendala ada, tapi harus dicari jalan keluarnya. Kalau tidak ada listrik, pakai lampu lain. Yang penting niat dan kehadiran orang tua mendampingi anak belajar. Saya ingin dalam lima tahun ke depan kualitas SDM NTT melonjak jauh lebih baik,” tutupnya.