Menapaki Jejak Kartini di Semarang, Pernah Dirikan Sekolah hingga Berguru ke Kiai Sholeh Darat

Kartini mengusulkan kepada Kiai Sholeh Darat agar Al-Qur'an ditafsirkan ke dalam bahasa Jawa agar bisa dipahami oleh putri-putri Jawa.

Diterbitkan 21 April 2026, 16:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Semarang - Hari ini perempuan di kota Semarang serempak menggenakan pakaian kebaya identik dengan sosok Hari Kartini. Kebaya jadi bentuk penghormatan dilakukan atas emansipasi yang dirasakan perempuan Semarang setelah berdirinya sekolah khusus perempuan Kartini di tahun 1912.

Nawal Arafah Yasin, istri Wakil Gubernur Jawa Tengah dalam peringatan hari Kartini di Rembang menyebutkan kiprah RA Kartini di dunia pendidikan dimulai dari Kota Semarang dengan berdirinya Kartini School atau Sekolah Kartini.

Atas keinginan Kartini, maka sekolah khusus perempuan yang didirikan Yayasan van Deventer perempuan Kota Semarang bisa mengenyam pendidikan dan terus berkembang hingga berdirinya sekolah modern belasan perempuan telah mengenyam bangku sekolah.

Bicara soal data dari Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Jawa Tengah semester I 2025 tercatat sebanyak 38.562.958 jiwa. Dari total tersebut, sebanyak 19.402.189 jiwa didominasi dari kalangan perempuan.

Dengan fakta bonus demografi tersebut, Hari Kartini  mengingatkan kembali makna perempuan bukan lagi sosok "konco wingking" di era milenium. Perempuan bisa punya posisi dan peran yang tak kalah penting dalam urusan pembangunan.

Dalam pembangunan, perempuan menjadi yang terdepan dalam praktik pemberdayaan berbasis perempuan. Bahkan Wali Kota Semarang Agustina melihat sendiri, bagaimana peran menjaga kesehatan masyarakat, diambil alih oleh perempuan sebagai kader Posyandu yang jumlahnya kini mencapai 16.000 kader.

“Ketika saya diundang di California State University, mereka sangat mengapresiasi bagaimana para kader Posyandu mampu menjaga kesehatan masyarakat di sekitarnya. Ini menjadi contoh bagaimana rasa tanggung jawab sosial bisa tumbuh dari masyarakat, khususnya kaum perempuan. Bahkan hingga ke ranah global,” ujar Agustina, Selasa, 21 April 2026.

Satu lagi, dalam urusan pengelolaan lingkungan, perempuan lah paling terdepan dalam menggerakkan Semarang Wegah Nyampah melalui bank sampah. Dengan keterlibatan aktif kader PKK dan komunitas, gerakan ini turut mendorong perputaran ekonomi masyarakat hingga mencapai Rp2,2 miliar.

Sadar akan perannya melindungi perempuan, Pemerintah Kota Semarang terus memberi ruang Komitmen Pemerintah Kota Semarang juga diperkuat melalui pembentukan 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak yang tersebar di seluruh wilayah. Kelurahan menjadi garda terdepan dalam memastikan perempuan dan anak mendapatkan perlindungan sekaligus ruang untuk berkembang.

“Perempuan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek utama perubahan. Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi tangguh, dan Kota Semarang akan semakin hebat,” tegas Agustina.

Kini momentum Hari Kartini menjadi pengingat bahwa kiprah perempuan, khususnya di Kota Semarang, bukan sekedar berada ditataran lokal, tetapi juga harus mampu menginspirasi dan mendapat pengakuan dunia.

"Kita mendorong perempuan untuk belajar, berani mengambil peran, serta memperluas kontribusi di berbagai bidang," tambahnya.

Kartini dan Kota Semarang adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan spiritualnya menjadi tokoh emansipasi perempuan.

Nawal Arafah Yasin, istri Wakil Gubernur Jawa Tengah merekam jejak Kartini sebagai  pahlawan nasional tersebut saat mendirikan sekolah perempuan pertama pada 1912 di Semarang, di tengah keterbatasan ruang gerak perempuan.

 

Persinggungan dengan Kiai Sholeh Darat

Kartini sangat memiliki dimensi religiusitas yang kuat. Saat usia 13 tahun, Kartini bertemu pertama kali dengan Kiai Sholeh Darat saat pengajian di rumah pamannya, Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat. Ia sangat terkesan saat mendengar tafsir Surat Al-Fatihah dalam bahasa Jawa.

Kartini, yang selama ini merasa asing dengan Al-Qur'an karena hanya diajarkan bahasa Arab tanpa makna, menemukan 'cahaya' melalui terjemahan bahasa Jawa yang diberikan Kiai Sholeh Darat.

Proses inilah yang membawa pemikiran Kartini untuk mengusulkan agar Al-Qur'an ditafsirkan ke dalam bahasa Jawa agar bisa dipahami oleh putri-putri Jawa. Usul ini dikabulkan lahirlah kitab Faidhur-Rahman.

Kitab inilah yang menjadi hadiah istimewa saat Kartini menikah. Ia memberikan pondasi spiritual yang kuat bagi Kartini, yang memantapkan langkahnya dalam emansipasi perempuan. Kiai Sholeh Darat sendiri merupakan ulama besar dari Semarang yang juga merupakan guru dari KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

Mbah Sholeh Darat, begitu namanya sering disebut, merupakan tokoh besar ulama Nusantara abad-19 asal Semarang yang bernama lengkap KH Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani (1820-1903). Lahir di Jepara pada 1820 dan menetap di kawasan Darat, Semarang Utara. Dari situlah nama 'Darat' berasal.

Konon Kiai Sholeh Darat berguru dengan banyak ulama di Jawa dan Makkah. Sehingga dirinya aktif menyebarkan Islam melalui pendidikan pesantren dan penulisan kitab, termasuk Faidhir Rahman (tafsir Al-Qur'an pertama di Jawa dengan bahasa Jawa Arab Pegon, atas permintaan RA Kartini) dan Majmu'ah Asy Syari'ah Al Kafiyah. Kiai Sholeh wafat pada 18 Desember 1903 dan dimakamkan di TPU Bergota, Semarang.

Persinggungan dengan Kiai Sholeh Darat inilah yang kemudian yang membuat Nawal Yasin yakin, bahwa Kartini adalah perempuan yang mampu berpikir melampaui zamannya.

Kartini tidak hanya visioner, tetapi juga memiliki gagasan-gagasan besar yang hingga kini tetap relevan. Hal ini semestinya mendorong spirit emansipasi kaum perempuan terus dijaga.

"Kartini bisa berpikir melampaui zamannya. Kartini bisa memiliki visi-visi yang sampai sekarang ini relevan. Dan beliau sudah memancarkan cahayanya, sehingga wanita-wanita pada saat ini harapannya bisa lebih menghidupkan cahaya-cahaya Kartini," sebut Nawal Yasin, dalam peringatan Hari Kartini di Jawa Tengah.

Perempuan tidak cukup hanya berbekal ilmu pengetahuan. Namun juga pentingnya keseimbangan antara intelektualitas, karakter, dan spiritualitas.

"Maka perempuan itu bukan hanya berilmu akan  tetapi harus memiliki karakter yang baik. Seperti acara saat ini dengan tema integritas, perempuan juga perlu memiliki spiritualitas yang baik," katanya.