Kisah Heroik Dua Bidan di Jepara, Terobos Longsor Demi Bantu Warga Melahirkan

Di tengah adangan lumpur, jalan amblas, dan ancaman longsor susulan, dua bidan Puskesmas Keling I melangkah menunaikan tugas kemanusiaan.

Diterbitkan 11 Januari 2026, 20:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jepara- Di saat bencana longsor memutus akses dan membuat wilayah Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, Jawa Tengah terisolasi, kehidupan justru menemukan jalannya. Di tengah adangan lumpur, jalan amblas, dan ancaman longsor susulan, dua bidan Puskesmas Keling I melangkah menunaikan tugas kemanusiaan.

Mereka menembus keterbatasan demi satu misi, yakni menyelamatkan seorang ibu yang akan melahirkan. Ketika sebagian wilayah Desa Tempur yang berada di Pegunungan Muria masih bergulat dengan dampak bencana, Bidan Liya dan Bidan Cindy memulai perjalanan yang tak biasa.

Dua tenaga kesehatan itu menyusuri jalan yang masih penuh longsoran tanpa menumpang ambulance, untuk menolong persalinan seorang ibu warga Desa Tempur. Meski hanya mengendarai sepeda motor dan harus berjalan kaki karena menapaki badan jalan yang berisiko longsor, mereka bersemangat menjalankan tugas kemanusiaan.

Awalnya, upaya evakuasi terhadap warga Desa Tempur yang hendak melahirkan sudah dilakukan sejak Jumat (9/1/2026) malam. Saat itu, tim medis Puskesmas Keling sempat mencoba menerobos ruas jalan di tengah hujan lebat menggunakan ambulance.

Namun sekitar pukul 21.00–22.00 WIB, akses menuju desa yang berada di Pegunungan Muria benar-benar terputus akibat longsor besar.

Tim medis Puskesmas Keling terpaksa kembali pulang. Meskipun material longsoran tanah dan batu menutup akses jalan ke Desa Tempur, namun tidak memadamkan tanggung jawab mereka.

“Pelayanan kesehatan tetap prioritas. Karena itu, dua bidan kami berangkat langsung Sabtu pagi pukul 07.00,” ujar dr. Murtono, Kepala Puskesmas Keling I pada Minggu (11/1/2026).

Dengan mengendarai sepeda motor, kedua bidan tersebut hanya bisa mencapai wilayah di Dukuh Pajang, Desa Damarwulan. Setelah itu, mereka harus menyusuri jalan lenyap.

Perjalanan misi kemanusiaan itu dilanjutkan dengan berjalan kaki dan menembus jalur sulit. Dibantu relawan tim SAR yang menjemput dan mengawal, mereka akhirnya tiba di rumah warga Desa Tempur yang hendak melahirkan.

Untuk sampai di Desa Tempur, kedua bidan ini membutuhkan waktu tempuh mencapai hampir tiga jam. Medan berat dan suasana mencekam, tidak membuat Bidan Liya dan Bidan Cindy ragu melangkah.

Setiba di lokasi, situasi cemas pun menyelimuti. Seorang ibu bersiap melahirkan anak keduanya, di wilayah yang tengah dikepung longsor. Namun di tempat sederhana itulah, kabar baik akhirnya lahir.

“Persalinan berjalan normal. Bayi laki-laki lahir selamat. Tidak ada komplikasi. Ibu dan bayi dalam kondisi sehat dan stabil,” terang dr. Murtono.

Tangis bayi memecah ketegangan. Di tengah bencana, sebuah kehidupan baru datang, seperti pengingat bahwa harapan selalu menemukan celah.

Usai proses persalinan, tim medis kembali turun menuju Puskesmas Keling sekitar pukul 14.00 WIB melalui jalur Medani–Cluwak Kabupaten Pati.

Sedangkan upaya pembukaan akses jalan terus dilakukan. Bahkan sejak Jumat malam, sejumlah warga telah diungsikan karena rumah mereka terdampak longsor.

Relawan Buka Akses Desa Tempur

Pantauan di Posko Destana Desa Damarwulan menunjukkan alat berat dan relawan terus berjuang membuka jalur. Namun sekitar pukul 15.00 WIB, longsor susulan kembali terjadi.

Aktivitas lapangan terpaksa dihentikan sementara, demi keselamatan dan direncanakan dilanjutkan Minggu (11/1/2026) pagi hari ini. Meski demikian, layanan kesehatan tetap siaga penuh.

“Kami terus melakukan pemantauan kesehatan warga. Sampai saat ini belum ada kondisi darurat, tapi risiko pascabencana seperti diare dan infeksi tetap kami waspadai. Jika perlu, pelayanan kesehatan akan dipusatkan di Damarwulan,” tegas dr. Murtono.

Di tengah lumpur, tebing runtuh dan jalur yang terputus, dua bidan Puskesmas Keling Jepara telah membuktikan tugas kemanusiaan yang tak pernah menunggu cuaca bersahabat.

 

Hujan Deras Guyur Jepara Sejak Jumat

Untuk diketahui, hujan deras yang mengguyur Kabupaten Jepara sejak Jumat, (9/1/2026) malam, berujung pada bencana tanah longsor dan erosi yang parah.

Akses jalan utama dari Desa Damarwulan menuju Desa Tempur, Kecamatan Keling terputus total. Kondisi itu akibat badan jalan sepanjang kurang lebih puluhan meter hilang tergerus air sungai.

Peristiwa ini mengakibatkan seluruh penduduk Desa Tempur terisolasi, dengan tiga rumah tertimpa langsung material longsor.

Polres Jepara merespons cepat dengan menerjunkan personel Pleton Siaga Bhayangkara Pasukan Siaga Bencana, menangani bencana tanah longsor di lokasi tersebut.

Terlihat sejak Sabtu (10/1/2026) hingga saat ini, aparat kepolisian bersama BPBD, pihak terkait serta warga membersihkan material longsor demi memulihkan akses jalan.

Kapolres Jepara AKBP Erick Budi Santoso melalui Kasihumas AKP Dwi Prayitna menegaskan, bahwa kehadiran Polri di tengah bencana merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat.

“Kami hadir bukan hanya menjaga kamtibmas, tetapi memastikan warga bisa kembali beraktivitas dengan aman setelah bencana,” ujar AKP Dwi, Minggu (11/1/2026).

Dia menyebut setidaknya ada 18 titik yang saat ini masih tertutup material longsor berupa tanah, batu besar, dan pohon tumbang. Akibatnya akses utama menuju Desa Tempur mulai dari Dukuh Kajang saat ini tertutup total.