Peserta Berpakaian Minim, Lomba Binaraga Perempuan Missglamour di NTB Dikecam MUI

Para ulama Lombok menilai lomba tersebut bertolak belakang dengan nilai-nilai religius daerah yang dikenal sebagai “Pulau Seribu Masjid” dan tidak selaras dengan budaya dan nilai Islam yang kental di NTB.

Diperbarui 29 Juli 2025, 10:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Lomba binaraga perempuan bertajuk Missglamour, salah satu mata lomba pada Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII 2025 NTB menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan termasuk tokoh agama karena dianggap mengumbar aurat dan tidak pantas.

Lomba Missglamour tersebut digelar di Hotel Raja, Mandalika, Lombok Tengah. Pada Lomba itu, peserta kontes bergaya dengan pakaian minim sambil bergaya menampilkan lekukan tubuh mereka di hadapan Juri. Meski digelar tertutup, namun para ulama Lombok menilai lomba tersebut bertolak belakang dengan nilai-nilai religius daerah yang dikenal sebagai “Pulau Seribu Masjid” dan tidak selaras dengan budaya dan nilai Islam yang kental di NTB.

Para Tokoh Agama Buka Suara

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB, Lalu Winengan menyayangkan keras sikap panitia fornas yang menggelar acara tersebut. Padahal, saat pembukaan FORNAS yang digelar di kantor Gubernur NTB,  justru sempat ditampilkan peragaan sejarah dakwah Nahdlatul Wathan yang menyebarkan nilai agama di Lombok.

“Saat pembukaan, panitia menayangkan bagaimana besarnya penyebaran agama oleh Nahdlatul Wathan. Jangan sampai kesenangan membawa mudharat bagi kita semua akibat gelaran itu (Missglamour),” kata Lalu Winengan, Senin (28/7).

Winengan mengaku khawatir jika nantinya akan datang bencana akibat kelalaian tersebut. “Yang saya khawatirkan, Allah kutuk kita dan memberikan kita azab. Kita baru selesai gempa, baru selesai banjir. Jangan nanti karena tontonan ini kita dikasih tenggelam oleh Allah SWT,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Mataram, TGH. Ahmad Muammar Nasrullah juga mengecam gekaran tersebut. Ia menilai tontonan yang mempertontonkan aurat tidak pantas digelar di wilayah religius seperti NTB.

“Mewakili MUI Kota Mataram, kami mengecam kegiatan tersebut karena kerusakannya lebih besar daripada manfaatnya,” ujar TGH. Muammar Nasrullah, Senin (28/7/2025).

Kecaman juga datang dari kalangan pesantren pesantren, kritik disampaikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Darul Fallah Pagutan, Mataram, Tuan Guru Haji Muamar Arafat. “Sebelumnya kita sudah banyak dengar tentang kasus asusila. Jadi jangan menambah hal-hal yang tidak bermanfaat di NTB, khususnya di wilayah Lombok,” ucapnya.

 

Panitia Minta Maaf

Menanggapi gelombang kecaman ini, Ketua Panitia Pelaksana FORNAS VIII NTB, Nauvar Farinduan, langsung menyampaikan permintaan maaf. Ia menjelaskan bahwa panitia daerah tidak menerima informasi detail terkait teknis lomba. Ia menegaskan bahwa pihaknya langsung menyampaikan kepada induk olahraga tersebut dan meminta agar kegiatan itu dihentikan.

“Kami mohon maaf atas kejadian ini. Ini memang luput dari pantauan kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan netizen yang telah menyampaikan laporan terkait mata lomba dimaksud. Kami sudah meminta agar jika ada mata lomba serupa, segera dihentikan. Keberatan kami juga telah disampaikan secara resmi,” kata Nauvar Farinduan.

Menurut Farin, penyusunan mata lomba berada di tangan INORGA pusat, yang kemudian mengirimkan daftar itu ke KORMI Nasional (Korminas) dan diteruskan ke panitia daerah. “Sayangnya, kami tidak menerima informasi secara menyeluruh mengenai teknis mata lomba tersebut,” kata dia.

Meskipun diwarnai polemik, Farin memastikan bahwa secara umum penyelenggaraan FORNAS VIII di NTB tetap berjalan lancar dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. “Ini adalah momentum besar bagi NTB. Masyarakat merasakan dampak ekonomi langsung. Kami berkomitmen untuk terus menjaga kelancaran dan kesuksesan penyelenggaraan hingga hari terakhir,” pungkasnya.

Untuk diketahui,Fornas VIII tahun 2025 mulai digelar sejak 27 Juli hingga 1 Agustus 2025. Acara ini digelar di delapan kabupaten se provinsi NTB dengan menghadirkan lebih dari 19.000 peserta dari seluruh Indonesia.