Tari Tide-Tide, Media Pergaulan Suku Togela di Halmahera Utara

Sebagai media pergaulan, tarian ini memiliki aturan tidak tertulis tentang tata cara interaksi antara penari pria dan wanita. Setiap gerakan mengandung pesan tertentu yang dipahami oleh masyarakat setempat.

Diterbitkan 01 Juli 2025, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Maluku - Pergaulan dalam masyarakat suku Togela di Halmahera Utara memiliki perbedaan dari daerah lain. Mereka tidak hanya mengandalkan percakapan, tetapi juga menggunakan tarian yang bernama tide-tide sebagai sarana bersosialisasi.

Mengutip dari berbagai sumber, tari tide-tide berkembang sebagai bentuk ekspresi budaya suku Togela di Halmahera Utara. Tarian ini biasanya ditampilkan dalam acara-acara penting seperti pernikahan, penyambutan tamu kehormatan, dan pesta rakyat.

Sebagai media pergaulan, tarian ini memiliki aturan tidak tertulis tentang tata cara interaksi antara penari pria dan wanita. Setiap gerakan mengandung pesan tertentu yang dipahami oleh masyarakat setempat.

Tari tide-tide ditampilkan oleh pasangan penari pria dan wanita. Tarian ini biasanya berjumlah antara dua hingga enam pasangan.

Gerakan tangan yang berayun seirama dengan langkah kaki menjadi ciri khas utama tarian ini. Penari pria umumnya mengambil peran lebih aktif dengan gerakan yang tegas, sementara penari wanita merespons dengan gerakan yang lebih halus.

 

Alat Musik Tradisional

Tari tide-tide diiringi oleh perpaduan alat musik tradisional Maluku Utara. Kombinasi tifa, gong, dan biola menghasilkan irama khas yang menjadi panduan gerakan para penari.

Tempo musik biasanya dimulai dengan lambat, kemudian semakin cepat seiring berjalannya tarian. Musik pengiring tidak hanya berfungsi sebagai pengatur irama, tetapi juga mengandung makna simbolis.

Bunyi tifa dalam tari tide-tide melambangkan kekuatan. Sementara alunan biola memberikan nuansa romantis.

Penari pria mengenakan kemeja putih dengan celana panjang hitam, dilengkapi tuwala atau ikat kepala khas dan selendang merah. Sementara penari wanita mengenkan kebaya putih dengan sarung khas Maluku, selendang kotak-kotak, dan sanggul yang dihiasi aksesori tradisional.

Penulis: Ade Yofi Faidzun