Legenda Urban: Hantu Noni di Pos 3 Gunung Bawakaraeng

Hantu ini digambarkan sebagai sosok wanita berparas cantik. Ia bergentayangan dan kerap menampakkan diri, terutama saat bulan purnama.

Diterbitkan 16 Juni 2025, 03:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makassar - Gunung Bawakaraeng di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menyimpan legenda urban yang masih dipercaya hingga kini. Konon, Pos 3 di gunung ini dihuni oleh hantu perempuan bernama Noni.

Hantu ini digambarkan sebagai sosok wanita berparas cantik. Ia bergentayangan dan kerap menampakkan diri, terutama saat bulan purnama.

Menurut warga di Kampung Lembanna yang berada di kaki Gunung Bawakaraeng, kemunculan Noni ditandai dengan suara lolongan anjing disertai angin kencang saat bulan purnama. Jika tanda ini muncul, warga menyarankan pendaki untuk menunda pendakian dan tidak keluar dari tenda untuk sementara waktu.

Kisah keberadaan hantu Noni memiliki beberapa versi yang tersebar di masyarakat. Salah satu versi yang paling populer mengatakan bahwa Noni adalah seorang perempuan yang semasa hidupnya sering mendaki Gunung Bawakaraeng bersama kekasihnya.

Aktivitas tersebut ia lakukan sekitar 1970 atau 1980-an. Hampir setiap pekan ia mendaki, sehingga warga sekitar akrab dengannya. Terlebih, saat itu aktivitas pendakian tak seramai sekarang dan wajah Noni mudah dikenali.


Suatu ketika, Noni turun dari kawasan Gunung Bawakaraeng seorang diri. Ia menuju pemukiman penduduk dengan wajah pucat, mata melotot, dan hanya terdiam. Sikap Noni membuat warga heran karena selama ini Noni dikenal periang dan ramah. 


 

Tergantung di Pohon

Beberapa hari kemudian, penduduk yang sedang mencari kayu di kawasan hutan gunung mendapati tubuh Noni tergantung di dahan besar pohon di Pos 3 Gunung Bawakaraeng. Ternyata, Noni yang saat itu tampak pucat adalah arwahnya yang gentayangan.

Sayangnya, penyebab kematian Noni tak diketahui pasti. Kisah Noni pun mulai tersebar ke seluruh warga dan para pendaki.

Perlahan, muncul beberapa asumsi cerita terkait penyebab kematian Noni. Ada yang mengatakan Noni bunuh diri dan ada pula yang berasumsi Noni dibunuh dan jasadnya digantung di dahan pohon agar tak dimakan hewan buas.


Warga setempat dan pendaki percaya bahwa sosok Noni yang gentayangan tidak memiliki maksud jahat. Sebaliknya, ia justru kerap berbuat baik dan membantu para pendaki yang kesulitan, tersesat, kelelahan, maupun kehabisan perbekalan. Bahkan, ada cerita yang mengatakan bahwa Noni sering menemani, membuat makanan, dan menuntun pendaki yang tersesat sampai ke desa terdekat di kaki gunung.



Penulis: Resla