Suami Habisi Nyawa Istri di Kota Serang, Bikin Skenario Perampokan untuk Kelabui Banyak Orang

Minggu dini hari, 01 Juni 2025, sekitar pukul 03.30 wib, warga Perumahan Puri Anggrek, Kota Serang, Banten, digegerkan dengan dugaan perampokan disertai pembunuhan.

Diperbarui 04 Juni 2025, 22:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Minggu dini hari, 1 Juni 2025, sekitar pukul 03.30 WIB, warga Perumahan Puri Anggrek, Kota Serang, Banten, digegerkan dengan dugaan perampokan disertai pembunuhan. Korban tewas bernama Petri Sihombing (35), tergelatak dengan posisi terikat di dalam rumahnya. Kemudian sang suami, Wadison Pasaribu (37), ditemukan di dalam karung, dengan luka lebam di kepala.

Kedua anaknya menangis dan keluar rumah berteriak meminta tolong, sehingga menarik perhatian para tetangga berdatangan.

Tetangga yang datang segera menenangkan sang anak, kemudian membawa Wadison ke RS Sari Asih Kota Serang untuk mendapat perawatan medis. Selanjutnya melaporkan kejadian itu ke Polsek Walantaka. Polisi datang sekitar pukul 05.30 WIB, segera melakukan olah TKP disertai meminta keterangan ke para saksi.

Kala itu, ada perhiasan emas yang hilang di dalam rumah, menguatkan dugaan perampokan disertai pembunuhan. 

Setelah ditelusuri oleh pihak keluarga dan kepolisian, pelaku pembunuhan sebenarnya Wadison Pasaribu, suami dari korban. Sejak Selasa, 3 Juni 2025, dia sudah berada di Polresta Serkot untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Sudah diamankan, tapi kita belum berani rilis, nanti kita akan konpres. Sudah benar (pelaku diamankan), tadi malam, (menyerahkan diri apa ditangkap) ditangkap, nanti dulu ya, biar lengkap ceritanya," ujar Kapolresta Serkot, Kombes Pol Yudha Satria, Rabu, (04/06/2025).

Berdasarkan informasi sementara yang dihimpun, sang istri, Petri Sihombing memergoki percakapan mesra di handphone suaminya dengan seorang wanita. Hal itu membuat sang istri cemburu dan menanyakan isi percakapan tersebut.

Wadison yang terbiasa emosi kemudian mencekik istrinya dengan seutas tali hingga tak bernyawa. Karena panik, dia merancang skenario telah terjadi perampokan di dalam rumahnya, dia dan istrinya dibuat seolah-olah menjadi korban. Kemudian perhiasan emas dia buang ke toilet.

Bahkan, saat melihat jenazah istrinya di rumah duka hingga ke pemakaman, Wadison menangisi kepergian Petri, seolah-olah bukan pelaku pembunuhan.

"Biar tidak ketahuan, pelaku ini menyusun skenario seolah-olah dirampok dan melukai badannya sendiri, dibenturkan benda tumpul ke kepalanya biar dikira dipukul orang lain. Pelaku juga mengambil anting emas korban dan dibuang ke toilet untuk alibi ada perampasan perhiasan korban," terangnya.

Mengaku Usai Dibujuk Keluarga

Usai pemakaman istrinya, keluarga pelaku berbincang di rumah dan menanyakan kronologis kejadian perampokan disertai pembunuhan. Awalnya, Wadison bercerita dengan lancar, seperti yang banyak diberitakan.

Namun ketika berbincang dengan keluarga lainnya, cerita Wadison kerap berubah-ubah dan menyebabkan kecurigaan. Sehingga, oleh keluarga besar dia dibujuk untuk bercerita jujur.

"Di awal itu dia tetap pada keterangan seperti di media, lama-lama makin malam, makin subuh itu mulai oleng, mulai pelintat pelintut. Nah, saya sebagai pengacara punya insting curiga juga ke dia," ungkap Lambastony Pasaribu, perwakilan keluarga pelaku, Rabu, (04/06/2025).

Setelah berkata jujur dan mengakui perbuatannya, Wadison pun pasrah dan minta dijemput polisi di rumah dukanya pada Rabu malam, 3 Juni 2025. Kini, dia sudah berada di Polresta Serkot untuk pemeriksaan lebih lanjut dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Dibujuk secara halus (untuk ngaku). Karena dia enggak konsisten lagi dengan pernyataan. Dan akhirnya mengaku terus minta dijemput sama polisi," tuturnya