Keluwesan Perempuan Bugis dalam Tari Pakarena

Tari pakarena lahir dan berkembang dalam kultur dan tradisi di daerah Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba. Gerakan tarian ini merupakan representasi perempuan Bugis yang lembut.

Diterbitkan 24 Mei 2025, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makassar - Tari pakarena tumbuh dan berkembang di Sulawesi Selatan. Tarian ini merupakan salah satu dari lima tari klasik populer dari provinsi tersebut.

Tari pakarena lahir dan berkembang dalam kultur dan tradisi di daerah Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba. Gerakan tarian ini merupakan representasi perempuan Bugis yang lembut.

Mengutip dari laman Indonesia Kaya, gerakan tarian ini tercipta dari gerakan-gerakan puteri khayangan yang turun ke bumi. Masyarakat asli Gowa percaya bahwa dahulu ada sekelompok putri khayangan yang turun ke bumi dengan misi mengajar berhias dan menenun kepada perempuan bumi. Hal itu pula yang tampak jelas dalam gerakan tari pakarena berupa sanrobeja dan angani.

Dahulu, tari pakarena dipentaskan oleh penari perempuan yang terdiri dari dua baris. Masing-masing barisnya terdiri dari tiga hingga lima orang.

Namun dalam perkembangannya, pakem tersebut tidak lagi digunakan. Dalam panggung kontemporer, jumlah penari pakarena disesuaikan dengan besar-kecilnya panggung.

Meski pakem jumlah telah berubah, tetapi fungsi penari sebagai punggawa pakarena tetap dipertahankan. Punggawa pakarena merupakan seseorang yang bertugas sebagai pemimpin yang selalu memukul genrang sepanjang pementasan.

Para penari pakarena tampil dengan mengenakan kostum berupa baju bodo berwarna merah dan dilengkapi berbagai aksesori, seperti tokeng (kalung), bangkara (anting), karro-karro tedong (gelang), silepe (ikat pinggang), kutu-kutu (hiasan kepala), kipas, dan pinang goyang di bagian kepala. Mereka juga mengenakan sarung sutera yang warnanya disesuaikan dengan warna baju.

 

Dulu Hanya Kaum Bangsawan

Dahulu, terdapat peraturan bahwa baju bodo merah hanya dikenakan oleh kaum bangsawan, sementara untuk kalangan luar istana mengenakan warna hijau. Namun, kini penari pakarena bebas menentukan warna baju bodo yang akan dikenakan.

Untuk iringan musiknya, tari pakarena diiringi musik dinamis dan menghentak. Irama tersebut bersumber dari suara gendang atau juga disebut gentang maupun genrang.

Adapun alunan alat musik tradisional lainnya adalah pui-pui dan sia-sia. Pui-pui merupakan alat musik berbahan kayu jati yang pangkalnya dibuat dari besi dan diselipkan potongan janur sebagai penghasil bunyi. Sementara itu, sia-sia merupakan alat musik bambu yang bagian ujungnya diberi celah, sehingga menghasilkan bunyi yang nyaring.

Menariknya, tari pakarena memiliki gerakan yang gemulai dan luwes. Gerakan tersebut sangat kontra dengan iringan musiknya yang cenderung memiliki ritme menghentak dan bersemangat.

Tari pakarena muncul pada salah satu sisi uang kertas Rp10.000 tahun emisi 2022. Sementara sisi satunya bergambar pahlawan nasional Frans Kaisiepo.

Penulis: Resla