Ngasosi, Prinsip Keseimbangan Hidup Orang Betawi

Sejak dahulu, masyarakat Betawi ahli dalam melaksanakan ragam kegiatan budaya bernapaskan Islami. Budaya ngasosi menjadi bukti dari hal-hal tersebut.

Diterbitkan 03 Mei 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ngasosi merupakan tiga nilai budaya dan nilai hidup yang dipegang teguh oleh masyarakat Betawi. Ngasosi merupakan akronim dari ngaji, solat (salat), san silat.

Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, nilai budaya ngasosi mencerminkan pandangan hidup masyarakat Betawi. Sejak dahulu, masyarakat Betawi ahli dalam melaksanakan ragam kegiatan budaya bernapaskan Islami. Budaya ngasosi menjadi bukti dari hal-hal tersebut.

Mengaji

Mengaji merupakan aktivitas yang mengandung nilai-nilai spiritualitas. Mengaji juga bisa disebut sebagai salah satu cara seorang muslim berkomunikasi dengan Sang Khalik.

Saat mengaji, seseorang sedang mempelajari Al-Qur'an dengan benar. Tak hanya m dari segi bacaan maupun tajwid, mereka juga sedang mempelajari dan memahami makna Al-Qur'an.

Mengaji memiliki manfaat yang besar bagi seorang muslim. Dengan mengaji, seseorang akan meningkat spiritualitasnya, sehingga akan lebih mudah dalam meminta petunjuk saat menghadapi berbagai masalah.

Salat

Salat merupakan Rukun Islam yang ke-2, sehingga wajib dilaksanakan oleh orang Islam. Ibadah ini disusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Untuk melaksanakan salat, seseorang harus memenuhi beberapa syarat. Salat memiliki manfaat dari sisi keagamaan maupun kesehatan, baik fisik maupun mental.

Silat

Masyarakat Betawi merupakan salah satu suku bangsa yang memahami pentingnya menjaga keseimbangan fisik dan mental. Tak heran jika sejak dahulu mereka memaknai silat atau maen pukulan sebagai personifikasi dari silaturahmi antarsesama.

Jika mengaji dan salat merupakan ungkapan masyarakat Betawi dalam membangun hubungan kepada Sang Pencipta, maka silat adalah ungkapan masyarakat Betawi dalam membangun hubungan kepada sesama. Sehari-hari, sebagian laki-laki Betawi menganakan baju tikim, celana pangsi, peci, dan sarung yang diletakkan di pundak sebagai pakaian untuk salat maupun silat.

 

Ngasosi dan Budaya Betawi

Konon, budaya ngasosi dibawa oleh para ulama dan para jawara Betawi. Dalam masyarakat Betawi, jawara dikenal sebagai orang yang diberi kepercayaan untuk menjaga keamanan dan kedamaian kampung. Mereka dipandang sebagai sosok yang ahli dalam menggunakan ilmu silat, sehingga cukup disegani oleh masyarakat.

Ngasosi pada zaman dahulu dilakukan bersama-sama yakni dengan melaksanakan salat bersama-sama setelah mengaji, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan silat setelah salat Isya berjamaah. Rutinitas ini dipandang sebagai identitas yang dimiliki oleh para ulama Betawi tempo dulu.

Bagi masyarakat Betawi, budaya ngasosi memiliki makna mendalam yang mencerminkan makna hidup. Hal tersebut terlihat dari kemampuan orang Betawi dalam tiga hal tersebut, yakni memahami ilmu tajwid (mengaji), melaksanakan ibadah agar hidup tenang (salat), dan menjaga diri dari hal-hal buruk melalui silat.

Sebagai identitas budaya, ngasosi konon lahir dari proses adaptasi kisah Si Pitung. Seorang pendekar ternama dari tanah Betawi ini merupakan tokoh dari cerita rakyat asli Betawi yang muncul dari kehidupan masyarakat Betawi di masa kolonial Belanda.

Sosok Si pitung dikenal pintar, sopan, hormat pada guru dan kedua orang tua, pembela kebenaran dan keadilan, jago silat, rajin beribadah, serta menjunjung nilai-nilai sesuai syariat islam. Dari tokoh si Pitung tersebut, masyarakat Betawi pun memimpikan anak laki-laki yang mirip Pitung.

Dari sanalah, lahir istilah ngasosi. Namun di sisi lain, beberapa tokoh Betawi menyebut bahwa kata Pitung berasal dari kata pituang yang artinya tujuh pendekar. Mereka memiliki ilmu agama sekaligus ilmu silat yang bagus untuk menjaga diri sendiri.

Penulis: Resla