Sukses

Rumah Pelita Diinisiasi Wali Kota Mbak Ita, Sukses Tangani Stunting di Kota Semarang

Begini Rumah Pelita, tempat perawatan anak stunting yang jadi rujukan daerah lain, merupakan inisiasi Mbak Ita, Wali Kota Semarang.

Liputan6.com, Semarang - Bayi-bayi stunting itu dirawat layaknya anak sendiri oleh para pengasuh di Rumah Pelita, di Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.

Tiap hari, para pengasuh dan asisten secara telaten dan penuh kasih, merawat bayi-bayi tengkes yang berusia di bawah dua tahun.

Lana Muthia Thaher tampak menyuapi mungil yang digendongnya dengan telaten. Bayi stunting itu diperlakukannya secara lembut, penuh kasih, layaknya anak sendiri.

Lana merupakan pengasuh anak stunting di Rumah Pelita Manyaran. Lana mengatakan, Rumah Pelita akronim dari Rumah Penanganan Stunting Lintas Sektor bagi Bayi di Bawah Dua Tahun.

Disampaikan, Rumah Pelita diresmikan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu (Mbak Ita), dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati (Bintang Puspayoga), pada 21 Februari 2023.

“Rumah Pelita merupakan terobosan Pemkot Semarang dalam upaya penanganan stunting dari hulu ke hilir. Seperti pola asuh, pemberian gizi, sanitasi, dan lain-lain,” terang Lana, Jumat (14/6/2024).

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Menjadi Rujukan Studi Banding

Lana menyebut, Rumah Pelita Manyaran acap kali dijadikan rujukan tempat studi banding dari sejumlah pemerintah daerah (pemda) dan maupun instansi lain yang berkait dengan penanganan stunting.

Misalnya, belum lama ini Rumah Pelita Manyaran mendapat kunjungan dari unsur dinas Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Selain itu, ada pula kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo.

"Bahkan kepala BKKBN dari berbagai daerah belajar penanganan stunting ke sini," ujar Lana.

Lana menambahkan, belum lama ini juga, para profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Taipei Medical University (TMU) melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat di Rumah Pelita Manyaran.

“Rumah Pelita, tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak stunting saja, tetapi juga mewadahi pelayanan bagi ibu hamil yang mengalami anemia dan kekurangan energi kronis,” ucapnya.

Disebutkan Lana, saat ini Rumah Pelita Manyaran mengasuh 11 anak stunting. Sebelumnya, Rumah Pelita Manyaran telah berhasil menangani 20 anak stunting.

Selain di Manyaran, terdapat sembilan Rumah Pelita lain yang tersebar di berbagai kecamatan di Kota Semarang. Namun, sambung Lana, Rumah Pelita Manyaran yang paling sering menjadi jujugan untuk studi banding.

 

3 dari 4 halaman

Kolaborasi dengan Orang Tua Atasi Stunting

Diakui Lana, meski peran Rumah Pelita tak bisa dinafikan, mengatasi stunting wajib melibatkan orangtua. Sehingga, orang tua didorong mengikuti kelas parenting agar bisa turut berperan mengatasi kondisi stunting pada anaknya.

"Kami di sini juga mencari penyebab anak stunting. Kami mengunjungi ke rumah anak tersebut, ternyata PHBS-nya nggak jalan, rumahnya kumuh, nggak ada ventilasinya. Kan repot, makannya orangtuanya kami edukasi," jelas Lana.

Operasional Rumah Pelita di bawah pengawasan langsung Dinas Kesehatan Kota Semarang. Namun, dinas lain serta unsur pemerintah di mulai dari tingkat kelurahan hingga kecamatan juga dilibatkan.

Sri Endang, salah satu orangtua yang menitipkan anaknya, mengatakan keberadaan Rumah Pelita sangat bermanfaat.

Ibu rumah tangga warga Kelurahan Krobokan, Semarang Barat, ini telah merasakan dampak positifnya sekalipun anaknya kini belum dinyatakan lulus dari stunting.

"Perkembangan anak saya bagus, yang tadinya jarang komunikasi sekarang mulai aktif komunikasi, udah bisa mewarnai. Pokoknya untuk daycare ini bagus dan sangat membantu," ujar Endang, Sabtu (15/6/2024).

Ia mengatakan, selama ini tidak ada pungutan yang dibebankan kepadanya dan orangtua lain. Dia berpendapat, fasilitas yang tersedia di Rumah Pelita sudah memadai. Terdapat wahana permainan, kamar tidur ber-AC, kamar mandi yang bersih. Bahkan setiap hari anaknya diberi makanan pokok, camilan, hingga tambahan gizi.

 

4 dari 4 halaman

Ini Pernyataan Menteri PPPA

Endang berharap program di Rumah Pelita bisa dikembangkan lagi ke depannya. Seperti penambahan kuota anak stunting yang diasuh beserta jumlah pengasuhnya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati -karib disapa Bintang Puspayoga- mengapresiasi adanya Rumah Pelita di Kota Semarang.

Dia mengatakan, Rumah Pelita bisa menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain yang masih memiliki angka stunting cukup tinggi.

"Dalam penanganan suatu isu, kalau dilakukan berkolaborasi dan terintegrasi, maka hasilnya akan maksimal," kata Bintang Puspayoga, beberapa waktu lalu.

Rumah Pelita turut mengantarkan Mbak Ita dan Pemkot Semarang meraih sejumlah penghargaan terkait penanganan stunting.

Di antaranya dari BKKN Pusat, People of The Year 2023, dan terbaru Mbak Ita meraih penghargaan dan diminta menjadi pembicara terkait penangana nstunting di Korea Selatan pada 26 Juni 2024 mendatang.

“Kami merekrut dari Dinas Kesehatan, ada pengasuhnya, ada juru masaknya, ada pendampingan ahli gizi, sehingga jadi satu paket yang komplit,” kata Mbak Ita, perihal Rumah Pelita.

Penulis: Nugroho Purbo

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.