Sukses

Generasi Milenial Perlu Tahu Siapa Itu 'Paus Sastra' HB Jassin

Liputan6.com, Gorontalo - Penjabat Gubernur (Penjagub) Gorontalo Hamka Hendra Noer meminta Pusat Studi dan Dokumentasi (PSD) Hans Bague Jassin Provinsi Gorontalo menyosialisasikan tokoh nasional tersebut kepada generasi milenial.

Menurutnya, saat ini banyak generasi milenial tidak tahu ada tokoh yang dijuluki Paus Sastra di Indonesia. Tidak hanya ketokohanya, Hamka meminta agar karya-karya HB Jasin juga terus dipamerkan.

"Saya minta lembaga ini bisa menyosialisasikan dan mengenalkan HB Jassin kepada generasi milenial. Tidak hanya HB Jassin saja, tetapi juga tokoh-tokoh besar Gorontalo lainnya seperti JS Badudu. Milenial harus tahu ini," kata Hamka.

Hamka bahkan menggagas agar PSD HB Jassin dapat membuat dan menyusun sebuah buku yang berisi tulisan dari para penulis Gorontalo tentang tokoh sastrawan nasional dan dunia tersebut.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan salah satu strategi untuk menghidupkan kembali karya-karya sastra HB Jassin di kalangan masyarakat di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.

"Buat buku yang menghimpun pandangan masyarakat tentang HB Jassin. Judulnya bisa HB Jassin di Mata Tokoh Gorontalo, saya kira banyak tokoh yang bisa menulis tentang hal itu," ujarnya.

Pada kesempatan itu pengurus PSD HB Jassin Gorontalo, Candra Cuga, menyerahkan buku biografi HB Jassin yang menjadi salah satu syarat dalam pengajuan calon Pahlawan Nasional. Tahun ini, Pemprov bersama Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Gorontalo mengusulkan dua tokoh kelahiran Gorontalo menjadi Pahlawan Nasional,

"Keduanya yaitu bapak Aloei Saboe dan HB Jassin. Mudah-mudahan dilancarkan," kata Candra.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Sang Paus Sastra

HB Jassin yang memiliki nama lengkap Hans Bague Jassin merupakan ‘Paus’ bagi sastra Inbonesia. Pria kelahiran Gorontalo 1917 ini telah ‘menafkahkan’ hidupnya bagi kesusasteraan Indonesia dengan cara mendokumentasikan berbagai hal mengenai sastra, khususnya sastra Indonesia.

Pengabdian HB Jassin terhadap sastra Indonesia dimulai sekitar tahun 1933, dengan mengumpulkan dan mendokumentasikan berbagai karya sastra, mulai dari naskah tulisan tangan asli para pengarang, guntingan pers, hingga foto asli berbagai sastrawan dari zaman ke zaman dalam berbagai kegiatan.

Usaha HB Jassin untuk membangun sebuah pusat dokumentasi sastra akhirnya terwujud pada 1976. Bersama para tokoh sastra, termasuk Ajib Rosidi, dirinya membangun sebuah wadah bernama Yayasan Dokumentasi HB Jassin. Kemudian pada 30 Mei 1977, diresmikan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang berada di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat.

PDS HB Jassin di Jakarta masih menyimpan berbagai koleksi dokumentasi peninggalan Jassin, hingga 2013 data koleksi yang masih tersimpan antara lain 21.300 judul buku, nonfiksi 17.700 judul, buku referensi 475 judul, naskah drama 875, biografi pengarang 870, guntingan pers 130.534, foto pengarang sebanyak 690, rekaman suara 742, skripsi dan disertasi sastra sebanyak 789, dan rekaman gambar 25 kaset.

PDS HB Jassin dibuka tiap Senin hingga Jumat, mulai pukul 08.30 hingga 15.30. Selain menjadi tempat koleksi berbagai dokumentasi sastra, PDS HB Jassin juga kerap menjadi tempat bagi mereka yang ingin berdiskusi dan mempelajari sejarah sastra Indonesia.