Liputan6.com, Jakarta - Menegur anak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses mendidik, terutama ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan atau berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang lain. Namun, cara menyampaikan teguran ternyata sama pentingnya dengan pesan yang ingin diberikan karena anak bukan hanya mendengar kata-kata orang tua, melainkan juga menangkap nada bicara, ekspresi, serta sikap yang ditunjukkan ketika mereka melakukan kesalahan. Karena itu, memahami kesalahan orang tua saat menegur anak dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih sehat di dalam keluarga.
Dalam kondisi tertentu, orang tua memang bisa kehilangan kesabaran ketika anak mengulangi perilaku yang sama atau tidak segera mengikuti arahan, tetapi reaksi spontan yang terlalu keras belum tentu membuat anak memahami kesalahannya dengan lebih baik. Teguran yang dilakukan dengan cara yang kurang tepat justru dapat membuat anak merasa malu, dibandingkan, atau terus dianggap sebagai sumber masalah, sehingga pesan utama yang seharusnya menjadi pembelajaran malah tidak tersampaikan dengan baik. Berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya diperhatikan orang tua saat menegur anak.
1. Memarahi Anak di Depan Banyak Orang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5386748/original/030282500_1761022620-mother-scolding-her-daughter-living-room.jpg)
Salah satu kesalahan orang tua saat menegur anak adalah memarahinya di hadapan banyak orang, terutama ketika anak melakukan sesuatu yang membuat orang tua merasa malu atau kesal. Situasi seperti ini dapat terjadi di tempat umum, sekolah, rumah kerabat, pusat perbelanjaan, atau lingkungan lainnya ketika anak melakukan tindakan yang dianggap tidak pantas, sehingga orang tua secara spontan langsung meninggikan suara untuk menghentikan perilaku tersebut tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan kondisi emosional anak.
Ketika situasinya tidak membahayakan, orang tua sebaiknya menghindari memberikan teguran panjang di hadapan orang lain dan memilih tempat yang lebih tenang untuk menjelaskan kesalahan anak. Anak mungkin justru lebih sibuk memperhatikan siapa saja yang melihat dirinya dimarahi daripada memahami alasan mengapa perilakunya dianggap salah, sehingga perhatian mereka terpecah antara rasa malu, takut, dan keinginan untuk segera keluar dari situasi tersebut.
Meski begitu, tindakan yang berbahaya tetap perlu dihentikan dengan segera, misalnya ketika anak berlari ke jalan, hendak menyentuh benda berbahaya, atau melakukan tindakan yang dapat mencelakakan orang lain. Setelah kondisi aman, orang tua dapat menjelaskan perilaku yang keliru dengan suara yang lebih tenang dan bahasa yang mudah dipahami, sehingga teguran tetap tegas tetapi tidak menjadikan rasa malu sebagai alat untuk mendisiplinkan anak.
Advertisement
2. Memberikan Instruksi yang Terlalu Umum
Kesalahan berikutnya adalah memberikan instruksi yang terlalu umum sehingga anak tidak benar-benar mengetahui perilaku apa yang sebenarnya diharapkan oleh orang tua. Kalimat seperti “Jangan berantakan”, “Jangan nakal”, atau “Jangan mengganggu adik” memang terdengar jelas bagi orang dewasa, tetapi bagi anak kalimat tersebut belum tentu memberikan petunjuk konkret mengenai tindakan apa yang harus mereka lakukan setelah menerima teguran.
Orang tua dapat membuat arahan menjadi lebih spesifik dengan menjelaskan tindakan yang diharapkan daripada hanya menyebutkan sesuatu yang dilarang. Misalnya, daripada mengatakan “Jangan lempar mainan”, orang tua dapat mengatakan “Tolong letakkan mainan di kotaknya setelah selesai bermain”, karena anak mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai perilaku yang harus dilakukan dan tidak hanya mengetahui bahwa perilaku sebelumnya dianggap salah.
Cara menyampaikan instruksi yang spesifik juga dapat membantu mengurangi kesalahpahaman ketika anak sebenarnya belum memahami aturan yang berlaku. Daripada berulang kali mengatakan “Jangan memukul”, misalnya, orang tua dapat menjelaskan bahwa ketika sedang marah anak boleh mengatakan perasaannya, meminta bantuan, atau memukul bantal dengan aman, sehingga teguran tidak berhenti pada larangan tetapi sekaligus mengajarkan pilihan perilaku yang lebih tepat.
3. Membandingkan Anak dengan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320385/original/031954600_1786348089-05400ad3-1106-476f-b509-0879070da107.jpg)
Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain merupakan kesalahan yang juga sering muncul ketika orang tua sedang kecewa terhadap perilaku mereka. Kalimat seperti “Kakak saja bisa menurut, kenapa kamu tidak?” atau “Lihat temanmu, dia lebih rajin” mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi anak dapat menangkap pesan yang berbeda, yaitu bahwa dirinya dianggap kurang baik dibandingkan orang lain.
Kebiasaan membandingkan juga dapat membuat fokus teguran berpindah dari perilaku yang perlu diperbaiki menjadi penilaian terhadap diri anak secara keseluruhan. Anak yang sering mendengar perbandingan dapat merasa bahwa usaha mereka tidak pernah cukup, terutama jika standar yang digunakan selalu berasal dari pencapaian atau perilaku orang lain, sehingga teguran yang seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar justru berpotensi menimbulkan rasa kecewa terhadap diri sendiri.
Akan lebih baik jika orang tua membicarakan perilaku anak secara langsung tanpa membawa-bawa pencapaian orang lain sebagai ukuran. Ketika anak berhasil memperbaiki kebiasaan tertentu, orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap perubahan tersebut dan menjelaskan bahwa usaha mereka sudah menunjukkan perkembangan, sehingga anak belajar melihat proses perbaikan dirinya sendiri daripada terus berusaha mendapatkan pengakuan dengan mengalahkan atau menyamai orang lain.
Advertisement
4. Memberikan Hukuman Berlebihan karena Emosi
Kesalahan orang tua saat menegur anak berikutnya adalah memberikan hukuman yang terlalu berat karena sedang terbawa emosi. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua mungkin secara spontan mengatakan bahwa anak tidak boleh bermain selama berminggu-minggu atau kehilangan berbagai hak sekaligus, padahal konsekuensi tersebut belum tentu berkaitan langsung dengan perilaku yang dilakukan dan sering kali muncul karena tingkat kemarahan orang tua pada saat itu.
Hukuman yang diberikan dalam keadaan emosi juga dapat berubah-ubah tergantung suasana hati orang tua, sehingga anak kesulitan memahami hubungan antara perilaku dan konsekuensinya. Pada hari tertentu, kesalahan yang sama mungkin hanya mendapatkan teguran ringan, sedangkan pada kesempatan lain anak mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat karena orang tua sedang lelah atau kesal, sehingga aturan menjadi terasa tidak konsisten dan sulit diprediksi.
Agar lebih efektif, orang tua dapat menentukan aturan serta konsekuensi yang masuk akal sejak awal dan menjelaskannya kepada anak ketika suasana sedang tenang. Jika anak tidak merapikan mainan, misalnya, konsekuensinya dapat berupa menyelesaikan tanggung jawab tersebut sebelum melanjutkan aktivitas lain, sehingga anak memahami bahwa konsekuensi diberikan karena ada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan semata-mata karena orang tua sedang marah.
5. Menegur Anak dengan Memberikan Label Negatif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4964085/original/068291500_1728450951-IMG-20241009-WA0018.jpg)
Memberikan label negatif kepada anak saat menegur juga merupakan kebiasaan yang sebaiknya dihindari karena teguran dapat berubah menjadi penilaian terhadap karakter anak. Sebutan seperti “nakal”, “malas”, “bandel”, “keras kepala”, atau “tidak pernah menurut” mungkin terlontar ketika orang tua kehilangan kesabaran, tetapi kata-kata tersebut tidak menjelaskan perilaku mana yang sebenarnya perlu diperbaiki sehingga anak hanya menerima kesan bahwa dirinya adalah sumber masalah.
Perbedaan antara mengkritik perilaku dan memberikan label terhadap anak sangat penting dalam proses komunikasi keluarga. Ketika anak menumpahkan minuman, misalnya, mengatakan “Kamu memang ceroboh” akan memberikan penilaian terhadap dirinya, sedangkan mengatakan “Minumannya tumpah, sekarang mari kita bersihkan bersama dan lain kali pegang gelas dengan dua tangan” membuat pembicaraan tetap berfokus pada kejadian serta langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya.
Dengan menghindari label negatif, orang tua tetap dapat memberikan teguran yang tegas tanpa membuat anak merasa identitasnya ditentukan oleh satu kesalahan. Anak pun memiliki ruang untuk memahami bahwa melakukan kesalahan merupakan sesuatu yang dapat diperbaiki melalui tindakan berikutnya, sehingga teguran menjadi kesempatan untuk belajar bertanggung jawab dan memperbaiki perilaku, bukan pengalaman yang membuat mereka merasa dirinya selalu dianggap buruk oleh orang tua.
Advertisement
6. Mengungkit Kesalahan Anak yang Sudah Berlalu
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah mengungkit berbagai kesalahan lama ketika orang tua sedang menegur anak atas masalah yang baru saja terjadi. Misalnya, ketika anak lupa membereskan kamar hari ini, orang tua kembali membicarakan kejadian beberapa minggu sebelumnya ketika anak tidak menyelesaikan tugas atau pernah bertengkar dengan saudaranya, sehingga pembicaraan yang semula hanya membahas satu masalah berubah menjadi daftar panjang kesalahan.
Kebiasaan tersebut dapat membuat anak kesulitan memahami pesan utama karena terlalu banyak hal dibicarakan dalam satu waktu. Anak mungkin akhirnya lebih fokus membela diri terhadap kesalahan lama atau merasa bahwa apa pun yang mereka lakukan akan selalu dikaitkan dengan kejadian sebelumnya, sehingga mereka tidak mendapatkan kesempatan yang cukup untuk memahami perilaku yang sedang dibicarakan dan tindakan apa yang seharusnya dilakukan setelahnya.
Karena itu, orang tua sebaiknya berusaha menyelesaikan satu masalah pada satu waktu dan membicarakan kesalahan lama hanya jika memang memiliki hubungan langsung dengan persoalan yang sedang terjadi. Jika anak lupa membereskan mainan, misalnya, fokuskan pembicaraan pada tanggung jawab tersebut dan berikan kesempatan untuk memperbaikinya, sementara perilaku positif yang muncul setelah teguran juga dapat diapresiasi agar anak memahami bahwa orang tua memperhatikan perkembangan, bukan hanya mengingat kesalahannya.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kesalahan Orang Tua Saat Menegur Anak
1. Bagaimana cara menegur anak yang tepat?
Sampaikan teguran dengan tenang, jelas, spesifik, dan fokus pada perilaku yang perlu diperbaiki.
2. Apakah boleh memarahi anak di depan umum?
Jika tidak dalam kondisi berbahaya, sebaiknya teguran disampaikan di tempat yang lebih tenang dan privat.
3. Mengapa orang tua sebaiknya tidak membandingkan anak?
Perbandingan dapat membuat anak merasa kurang dihargai dan mengalihkan fokus dari perilaku yang sebenarnya perlu diperbaiki.
4. Apakah hukuman boleh diberikan kepada anak?
Konsekuensi dapat digunakan untuk mengajarkan tanggung jawab, tetapi sebaiknya masuk akal, konsisten, dan sesuai dengan perilakunya.
5. Bolehkah orang tua mengungkit kesalahan lama?
Sebaiknya fokus pada masalah yang sedang terjadi agar anak lebih mudah memahami kesalahan dan mengetahui cara memperbaikinya.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320337/original/020715600_1786345570-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-10T140430.897.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320072/original/053154100_1786333844-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-10T104516.679.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320188/original/007408700_1786339779-cek_fakta_-_sri_mulyani_berbagi_dana_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6210955/original/079363800_1779089133-cek_fakta_BLT_umkm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320377/original/045618600_1786347942-03e8cfbc-3e37-4007-bf70-cdaef1056912.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320326/original/032675800_1786345197-Lomba_17_Agustus_untuk_Orang_Kantoran__AI_Generated_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/812539/original/092302700_1424162111-FOTO_LIPUTAN6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4264196/original/013708100_1671268725-Siap-Siap_Penyesuaian_Tarif_Baru_KRL_Jabodetabek_Tahun_Depan-magang-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2514143/original/092528100_1543834653-a-l-l-e-f-v-i-n-i-c-i-u-s-145443-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320361/original/001674800_1786346859-stasiun_poncol_wikipedia.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320300/original/087821600_1786344193-11d8afcd-45ab-48a3-8c24-40484aca380e.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5554749/original/059859800_1776126995-WhatsApp_Image_2026-04-14_at_06.48.43.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320285/original/073138000_1786343469-Yuzu_oranges__6459456959_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320264/original/073722500_1786342136-0f855500-2cfb-4338-9362-586f268f4f34.jpg)