Sukses

Gempa Blora dan Ancaman Serius Sesar Naik Pati

Liputan6.com, Blora - Gempa bumi darat dengan Magnitudo 3,6 terjadi di wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Rabu, 25 Desember 2019, sekitar pukul 16.11 WIB. Guncangan gempa ini membuat sejumlah warga sempat panik.

Salah satunya dirasakan Arifin, warga Kecamatan Japah yang mengaku getaran terasa di wilayah tersebut. Menurut pengakuannya, barang yang bergelantungan di rumahnya sempat bergoyang-goyang.

"Terasa hoyak di sini, kira-kira sekitar 7 detik. Tetangga sekitar saya juga merasakan hal yang sama," katanya kepada Liputan6.com.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora, Sunardi mengatakan, laporan warga ada lima kecamatan yang merasakan getaran gempa bumi tersebut.

Namun, pihaknya memastikan tidak ada dampak kerusakan yang ditimbulkan dari kejadian tersebut.

"Berdasarkan laporan dari masyarakat goncangan dirasakan di Blora II, yakni bagian barat. Gempa sempat dirasakan meskipun sebentar terjadi di Kecamatan Japah, Kunduran, Todanan, Tunjungan, Ngawen," katanya.

Sunardi mengimbau, warga yang merasakan gempa tersebut agar tidak panik dan melaporkan kepada pihak pemerintah desa setempat jika terjadi kerusakan.

"Masyarakat jangan panik dan jangan terpengaruh isu atau kabar yang belum jelas. Segera hubungi BPBD Blora bisa melalui pemdes setempat bila terjadi kedaruratan akibat gempa tersebut," ujarnya.

Informasi BMKG, pusat gempa berada 16 kilometer barat laut Blora dengan kedalaman pusat gempa 13 kilometer, yang disebabkan oleh Sesar Naik Pati.

"Info gempa Magnitudo 3.6, lokasi 6.87 LS,111.30 BT, 16 km barat laut Blora-Jateng," bunyi keterangan dari Stasiun Geofisika BMKG Yogyakarta, Rabu (25/12/2019).

2 dari 3 halaman

Sesar Naik Pati

Sementara itu, Daryono Kabid Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (28/12/2019) mengatakan, gempa Blora dipicu aktivitas Sesar Naik Pati (Pati Thrust).

"Sesar naik Pati merupakan sesar aktif yang patut diwaspadai. Sesar Naik Pati memiliki magnitudo tertarget mencapai M 6,5 dengan laju pergeseran sesar sebesar 0,1 mm per tahun," katanya.

Lebih jauh dirinya menjelaskan, Sesar Pati adalah sesar dengan kelurusan yang panjang, berarah baratdaya-timurlaut. Ciri morfologi lain yang mengindikasikan keberadaan sesar ini adalah sebuah pola kelurusan (lineament) dari selatan Semarang ke arah timurlaut melewati daerah Lasem dan menerus ke Laut Jawa.

Jika kita mencermati aktivitas gempa di Jawa tengah, tampak sejak 18 Desember 2019 sudah terjadi 3 kali gempa di wilayah antara Pati, Lasem, dan Blora.

Gempa pertama memiliki Magnitudo 2,9 pada 18 Desember 2019 pukul 12.19.31 WIB. Gempa kedua terjadi dengan Magnitudo 2,7 pada 18 Desember 2019 pukul 20.33.04 WIB.

Gempa ketiga terjadi pada 25 Desember 2019 dengan Magnitudo 3,6 terjadi pada pukul 16.11.58 WIB. Ketiga gempa ini semua lokasi episenternya tepat berada pada jalur Sesar Naik Pati.

Sejarah gempa mencatat, pada masa lalu, Sesar Naik Pati sudah beberapa kali memicu terjadinya gempa kuat dan merusak. Pada 1836 gempa merusak di daerah Rembang hingga Tuban hingga mencapai skala intensitas VII MMI.

Selanjutnya pada 1847 gempa merusak juga terjadi di daerah Lasem dan sekitarnya. Gempa ini juga bersumber dari sesar yang sama.

Pada 1890 gempa kuat melanda Pati dengan Magnitudo 6,8. Gempa dangkal ini menyebabkan guncangan sangat kuat menimbulkan kerusakan yang parah mencapa skala intensitas VI-VII MMI dengan radius kerusakan mencapai sekitar 500 km.

Jika melihat polanya, gempa bumi besar terakhir yang disebabkan Sesar Naik Pati terjadi pada tahun 1800-an. "Ya, anehnya setelah itu tidak ada gempa lagi. Saya curiga ini karena dokumentasi Belanda yang kurang bagus. Bisa saja stekah itu ada gempa merusak hanya tidak dicatat lagi dan didokumentasikan. 

Yang terpenting, Daryono mewanti-wanti agar masyarakat tetap waspada dengan meningkatnya aktivitas gempa tektobik di kawasan Pati dan Blora akhir-akhir ini.

3 dari 3 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini: