7 Riset Ilmuwan Indonesia Unjuk Gigi di AS

Tujuh makalah riset ilmuwan Indonesia dipresentasikan di konferensi internasional IGARSS 2026 di AS.

Diterbitkan 11 Agustus 2026, 17:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington - Indonesia menunjukkan kiprah semakin kuat di panggung riset penginderaan jauh dunia. Sebanyak tujuh makalah ilmuwan Indonesia dipresentasikan dalam International Geoscience and Remote Sensing Symposium (IGARSS) 2026 di Washington Hilton, Washington DC, 9–14 Agustus 2026.

Konferensi internasional ke-46 yang diselenggarakan oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) Geoscience and Remote Sensing Society tersebut mengangkat tema The Future of Earth Observations dan dihadiri sekitar 2.400 peserta dari berbagai negara.

Sekitar 3.500 makalah dipresentasikan dalam forum yang menjadi salah satu pertemuan utama dunia di bidang remote sensing dan Geographic Information System (GIS).

Kehadiran para ilmuwan Indonesia menjadi penting karena riset yang dibawa tidak berhenti pada aspek teknologi, tetapi berkaitan langsung dengan persoalan strategis Indonesia, mulai dari dinamika laut, perikanan, perkembangan kawasan metropolitan, kebencanaan geologi, penurunan muka tanah, hingga teknologi radar.

Salah satu penelitian yang mendapat perhatian adalah Understanding the Impact of Ocean Variability on Sardinella Lemuru Production Using Ocean Color Data in the Bali Strait, Indonesia yang dipresentasikan Jonson Lumban-Gaol dari IPB University bersama Aninda Wisaksanti Rudiastuti dari BRIN dan Charles P.H. Simanjuntak dari IPB University.

Penelitian tersebut mengkaji hubungan antara dinamika laut dengan produksi ikan lemuru di Selat Bali, menunjukkan bagaimana data penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk memahami sumber daya kelautan secara lebih presisi.

Dari kawasan perkotaan, penelitian Jabodetabek as One of the Largest Metropolitan Areas in the World: Spatial Expansion and Urban Dynamics mengangkat dinamika spasial dan ekspansi kawasan metropolitan Jabodetabek.

Penelitian ini melibatkan Alinda Fitriany Malik Zain dari IPB University, Dewayany Sutrisno dari BRIN, Janthy Trilusianthy Hidajat dari Pakuan University, serta sejumlah peneliti IPB University, bekerja sama dengan Ami A.M. Mizuno dari Kyoto University, Jepang.

Sementara di bidang kebencanaan geologi, para peneliti Indonesia membawa riset Multi-Epoch InSAR Tracking of Ground Deformation at Ibu Volcano Using ALOS PALSAR and Sentinel-1 Satellite.

Penelitian yang dipaparkan Agustan dari BRIN/MAPIN bersama Arif Aditiya dari Badan Informasi Geospasial, Heri Sadmono, Yudi Anantasena, Djoko Nugroho dari BRIN, serta Takeo Ito dari Nagoya University, Jepang, memanfaatkan data satelit untuk memantau deformasi permukaan Gunung Ibu.

Riset penginderaan jauh Indonesia juga hadir melalui penelitian urban land subsidence di Surabaya dengan memanfaatkan Sentinel-1 Time-Series InSAR. Penelitian ini dipresentasikan Agustan dari BRIN/MAPIN bersama Mohamad Jaelani dari ITS Surabaya dan sejumlah peneliti Indonesian Society for Remote Sensing/MAPIN.

Dua penelitian lainnya bergerak di bidang teknologi radar dan pemrosesan sinyal, masing-masing mengenai pemodelan dan pengukuran Synthetic Ultra- and C-Band Subbands, serta deteksi probabilitas sinyal Nonlinear Frequency Modulation dalam skenario target jarak dekat. Keduanya melibatkan peneliti dari ITB dan mitra internasional dari La Trobe University, Australia.

 

 

Observasi Bumi Jadi Tulang Punggung Pengelolaan Indonesia

Salah satu momen penting IGARSS 2026 adalah keynote address yang disampaikan Prof. Dr. Indroyono Soesilo, pakar remote sensing Indonesia yang juga menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat.

Dalam pidatonya, Indroyono menegaskan bahwa teknologi observasi Bumi telah menjadi bagian penting dalam pengelolaan Indonesia, termasuk untuk pemantauan hutan dan lahan gambut, penilaian karbon, perencanaan tata ruang, serta mitigasi bencana.

Menurutnya, perkembangan teknologi pengamatan Bumi ke depan akan semakin ditopang oleh konstelasi satelit cerdas, resolusi data yang semakin tinggi, digital twin, serta integrasi berbagai sumber data.

Namun kemajuan teknologi, kata dia, harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab ilmiah dan sosial.

Integritas ilmiah, keadilan akses, relevansi terhadap kebutuhan masyarakat, etika penggunaan data, serta kerja sama internasional menjadi faktor penting agar perkembangan teknologi observasi Bumi memberikan manfaat yang luas, merata, dan berkelanjutan.

 

Indonesia Bukan Lagi Sekadar Pengguna Teknologi

Partisipasi ilmuwan Indonesia di IGARSS 2026 sekaligus menunjukkan perkembangan kapasitas nasional dalam teknologi remote sensing, mulai dari pemanfaatan drone dan satelit hingga pengolahan data digital serta aplikasinya.

Teknologi penginderaan jauh memiliki arti strategis bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan sumber daya alam yang sangat besar dan menghadapi berbagai tantangan, termasuk perlindungan hutan, pengelolaan sumber daya alam, tata ruang, serta mitigasi bencana.

Data penginderaan jauh menjadi salah satu fondasi penting bagi pengambilan kebijakan berbasis bukti.

Kiprah tujuh makalah Indonesia di IGARSS 2026 karena itu bukan sekadar catatan keikutsertaan dalam konferensi internasional. Kehadiran tersebut memperlihatkan bahwa ilmuwan Indonesia semakin aktif menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan nasional sekaligus memiliki daya saing di tingkat global.

Dari dinamika ikan lemuru di Selat Bali, pertumbuhan Jabodetabek, deformasi Gunung Ibu, penurunan muka tanah Surabaya, hingga teknologi radar, riset Indonesia memperlihatkan satu pesan penting: Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi pengamatan Bumi, tetapi telah tampil sebagai kontributor dalam inovasi global untuk memahami dan mengelola planet ini.