Strategy Kembali Jual Bitcoin dan Saham demi Menambah Kas

Aksi jual yang dilakukan Strategy membawa cadangan kas mencapai Rp 81,87 triliun.

Diterbitkan 11 Agustus 2026, 17:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan milik Michael Saylor, Strategy Inc kembali menghabiskan satu minggu untuk merevisi struktur modal perusahaan. Hal ini dilakukan dengan merevisi struktur modal perusahaan dengan menjual lebih banyak bitcoin (BTC) dan saham biasa untuk memperkuat cadangan kas.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (11/8/2026), pemegang korporat terbesar aset digital itu pada Senin, 10 Agustus 2026 mengatakan, dalam tujuh hari berakhir apda 9 Agustus 2026, perusahaan telah melepas bitcoin US$ 108,6 juta atau Rp  1,93 triliun  (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.800).

Selain itu, perseroan juga melepas 6,6 juta saham biasa senilai US$ 653 juta atau Rp 11,62 triliun. Selain itu, perseroan juga membeli kembali saham preferen Stratetch (STRC) senilai US$ 108,6 juta. Adapun Strategy memiliki kepemilikan bitcoin sekitar US$ 58 miliar atau Rp 1.032 triliun.

Perusahaan yang namanya mencuat berkat strategi akumulasi Bitcoin selama bertahun-tahun ini telah menjual Bitcoin senilai sekitar US$ 432 juta atau Rp 7,6 triliun sejak Saylor beralih fokus ke manajemen modal pada akhir Mei. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai skema pembiayaannya. Penjualan Bitcoin tersebut telah membantu meningkatkan cadangan Strategy menjadi sekitar US$ 4,6 miliar atau Rp 81,87 triliun.

Sebelumnya, Saylor berupaya meredam kekhawatiran mengenai dilusi saham biasa dengan menjadikan penjualan saham STRC sebagai sumber pendanaan utama perusahaan.

Sejak awal Mei, saham STRC tidak pernah diperdagangkan di atas nilai nominal US$ 100, ambang batas yang diperlukan agar penerbitan sekuritas tersebut menguntungkan. Saat ini, saham preferen tersebut diperdagangkan di kisaran harga US$ 95.

Saylor, salah satu pendiri sekaligus ketua eksekutif perusahaan pembuat perangkat lunak korporat yang beralih menjadi pengumpul kripto, di masa lalu pernah mendesak para investor untuk melakukan segala cara demi membeli Bitcoin.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Australia Bekukan Registrasi Cryptolink, 96 ATM Kripto Resmi Offline

Sebelumnya, regulator kejahatan keuangan Australia, AUSTRAC, membekukan registrasi Cryptolink Pty Ltd sebagai penyedia layanan aset virtual atau virtual asset service provider (VASP) selama 3 bulan mulai Minggu (9/8/2026).

Keputusan tersebut membuat seluruh jaringan 96 ATM kripto milik Cryptolink di Australia harus berhenti beroperasi sementara.

Dikutip dari CoinMarketCap, Senin (10/8/2026), langkah AUSTRAC ini menjadi eskalasi terbaru dari sengketa kepatuhan yang telah berlangsung sejak akhir 2025. Regulator menilai Cryptolink gagal memenuhi kewajiban pelaporan dasar, khususnya terkait threshold transaction reports atau laporan transaksi bernilai besar.

Laporan tersebut penting untuk membantu otoritas melacak aliran dana yang berpotensi terkait aktivitas ilegal, termasuk pencucian uang dan penipuan keuangan.

AUSTRAC menegaskan bahwa tindakan ini merupakan suspensi registrasi, bukan pencabutan permanen atau putusan pidana terhadap Cryptolink. Artinya, perusahaan masih memiliki peluang untuk memulihkan status registrasinya setelah menyelesaikan masalah kepatuhan yang dipermasalahkan regulator.

Dengan berlakunya suspensi tersebut, Cryptolink tidak lagi memiliki kewenangan untuk menyediakan layanan aset virtual selama periode pembekuan berlangsung.

Bagi pengguna ATM kripto milik perusahaan itu, penghentian operasional berarti transaksi melalui mesin tersebut tidak dapat dilakukan hingga ada pemberitahuan lebih lanjut dari Cryptolink maupun AUSTRAC.

 

Tidak Menanggapi Permintaan Regulator

Menurut AUSTRAC, masalah utama bukan hanya kegagalan menyampaikan laporan transaksi ambang batas, tetapi juga karena Cryptolink disebut tidak menanggapi permintaan informasi dari regulator.

Laporan transaksi bernilai besar merupakan salah satu instrumen penting dalam sistem anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme (AML/CTF). Jika penyedia layanan aset virtual berhenti menyampaikan laporan tersebut, otoritas kehilangan visibilitas terhadap transaksi yang berpotensi mencurigakan.

Meski demikian, AUSTRAC tidak merinci secara lengkap cakupan kekurangan pelaporan Cryptolink selain masalah threshold transaction reports dan permintaan informasi yang tidak dijawab.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena ATM kripto dinilai memiliki risiko tinggi disalahgunakan untuk penipuan, pencucian uang, dan aktivitas money mule.

Melalui Crypto Taskforce, AUSTRAC sebelumnya juga telah mengaitkan penggunaan ATM kripto dengan hasil kejahatan penipuan digital yang semakin marak di Australia.

Pemerintah Australia dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan pendekatan yang semakin agresif terhadap pengawasan industri kripto, termasuk dalam penegakan aturan kepatuhan bagi operator aset digital.

Â