Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan yang dihindari orang IQ tinggi sering menjadi bahan perbincangan karena dianggap mencerminkan cara seseorang mengelola waktu, informasi, dan rasa ingin tahunya. Meski begitu, tingkat kecerdasan tidak otomatis membuat seseorang selalu bijak dalam bertindak.
Melansir dari YourTango, psikolog pendidikan Kendra Cherry menyebut orang ber-IQ tinggi cenderung fleksibel serta mau mencoba hal baru dan berbagai cara memecahkan masalah. Di sisi lain, penelitian Adrian Ward dan rekan berjudul Brain Drain: The Mere Presence of One's Own Smartphone Reduces Available Cognitive Capacity (2017) di Journal of the Association for Consumer Research menemukan bahwa keberadaan ponsel saja dapat mengurangi kapasitas kognitif yang tersedia.
Karena itu, perilaku yang dijauhi orang berkecerdasan tinggi lebih tepat dibaca sebagai kecenderungan, bukan ciri mutlak. Berikut adalah kebiasaan yang dihindari orang IQ tinggi dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (1/10/2026).
Advertisement
1. Terlalu Sering Mengikuti Tren Tanpa Berpikir
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314472/original/081828600_1785748239-zEoM0I1YZQPQF6pk9ubtnSz7LRwnts169P9wjQwx.jpg)
Tren hadir di mana-mana, mulai dari gaya berpakaian, makanan, tempat wisata yang viral, hingga opini yang ramai diperbincangkan di media sosial. Mengikuti tren sebenarnya bukan kesalahan. Persoalan muncul ketika seseorang ikut-ikutan hanya agar diterima oleh mayoritas, tanpa menimbang apakah hal tersebut sesuai dengan kebutuhannya.
Orang dengan kemampuan kognitif tinggi sering digambarkan lebih dulu bertanya sebelum ikut arus. Mereka menimbang manfaat, biaya, dan alasan di balik sesuatu yang sedang populer. Dengan cara itu, keputusan yang diambil lebih berpijak pada pertimbangan pribadi daripada tekanan lingkungan.
Bukan berarti mereka selalu menolak tren. Mereka tetap bisa menikmati hal yang sedang digemari banyak orang, asalkan alasannya jelas. Sebagai latihan sederhana, cobalah bertanya, "Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?" sebelum membeli atau melakukan sesuatu yang sedang viral.
2. Takut Mencoba Hal Baru
Berada di zona nyaman memang menenangkan karena semuanya terasa akrab dan mudah diprediksi. Namun, terlalu lama menghindari pengalaman baru membuat kesempatan untuk belajar menjadi sempit. Padahal, rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap pengalaman termasuk ciri yang kerap dikaitkan dengan kecerdasan.
Kaitan itu didukung data. Melansir dari meta-analisis Jeromy Anglim dan rekan berjudul Personality and Intelligence: A Meta-Analysis di jurnal Psychological Bulletin (2022), keterbukaan terhadap pengalaman termasuk ciri kepribadian yang paling berkaitan dengan kecerdasan umum. Sebelumnya, tinjauan Phillip Ackerman dan Eric Heggestad berjudul Intelligence, Personality, and Interests: Evidence for Overlapping Traits (1997) juga membahas tumpang tindih antara ciri kepribadian, minat, dan kemampuan intelektual.
Mencoba hal baru tidak harus berupa perubahan besar. Anda bisa memulainya dengan membaca topik yang belum pernah dipelajari, mengikuti kelas singkat, mencoba aktivitas berbeda, atau berdiskusi dengan orang yang pengalamannya tidak sama. Langkah kecil yang konsisten sering lebih berguna daripada rencana besar yang tidak pernah dijalankan.
Advertisement
3. Menghabiskan Terlalu Banyak Waktu untuk Hal yang Tidak Penting
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4934327/original/017108500_1725253540-friends-telling-secrets.jpg)
Setiap orang membutuhkan waktu untuk bersantai, entah dengan menonton film, bermain gim, atau menjelajahi media sosial. Aktivitas tersebut tidak selalu buruk. Masalahnya muncul ketika sebagian besar waktu habis untuk hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan, misalnya berniat membuka media sosial selama lima menit, tetapi baru berhenti setelah berjam-jam.
Orang dengan kemampuan kognitif tinggi sering digambarkan lebih selektif dalam memakai waktu. Mereka mengalokasikannya untuk belajar, menyelesaikan pekerjaan, atau mengembangkan kemampuan. Mereka juga menyadari bahwa waktu merupakan sumber daya yang tidak bisa diulang.
Meski begitu, seseorang tidak harus selalu produktif. Istirahat tetap penting untuk memulihkan energi. Yang perlu diperhatikan adalah apakah waktu dipakai dengan sadar atau justru berlalu tanpa arah. Menetapkan batas waktu untuk hiburan dan menyiapkan daftar prioritas harian dapat membantu menjaga keseimbangan itu.
4. Menolak Pendapat yang Berbeda
Saat mendengar pendapat yang bertolak belakang, banyak orang refleks ingin membantah. Reaksi itu wajar karena setiap orang memiliki pengalaman dan cara berpikir masing-masing. Namun, mendengarkan tidak berarti harus langsung menyetujui.
Keterbukaan terhadap sudut pandang lain sering dikaitkan dengan orang IQ tinggi karena mereka digambarkan tidak terburu-buru menerima atau menolak sebuah gagasan. Mereka mencoba memahami alasan di balik pendapat tersebut sebelum menentukan sikap. Dari situ, mereka bisa menemukan informasi yang sebelumnya belum dipertimbangkan.
Bahkan jika akhirnya tetap tidak setuju, memahami argumen lawan bicara membantu seseorang mempertahankan pendapatnya dengan alasan yang lebih kuat. Meski demikian, orang IQ tinggi tetap bisa memiliki bias dan melakukan kesalahan. Karena itu, sikap terbuka perlu dilatih terus-menerus, bukan dianggap melekat begitu saja.
5. Berhenti Belajar karena Merasa Sudah Tahu Banyak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4435829/original/014883000_1684728123-20230522083107__fpdl.in__young-woman-reading-textbook-couch-home_1150-15492_normal.jpg)
Merasa sudah tahu banyak hal terkadang membuat seseorang berhenti mencari informasi. Padahal, pengetahuan terus berkembang dan selalu ada sudut pandang baru yang belum sempat dipertimbangkan. Rasa ingin tahu menjadi salah satu karakteristik yang sering dikaitkan dengan orang IQ tinggi.
Mereka digambarkan tidak mudah puas dengan jawaban sederhana dan cenderung ingin memahami bagaimana serta mengapa sesuatu terjadi. Ketika menemukan informasi baru, misalnya, mereka mencari sumber lain, membandingkannya, dan memahami konteksnya terlebih dahulu.
Kebiasaan belajar sebenarnya bisa dilakukan siapa saja. Membaca beberapa halaman buku setiap hari, mengikuti kursus daring, mendengarkan podcast edukatif, atau bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman sudah cukup untuk menjaga rasa ingin tahu tetap menyala.
6. Menelan Informasi Mentah-Mentah tanpa Memeriksa Kebenarannya
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menyaring kabar menjadi keterampilan penting. Melansir dari penelitian Gordon Pennycook dan David Rand berjudul Lazy, Not Biased: Susceptibility to Partisan Fake News Is Better Explained by Lack of Reasoning Than by Motivated Reasoning di jurnal Cognition (2019), orang yang lebih analitis cenderung kurang percaya pada berita palsu dan lebih mampu membedakannya dari berita asli. Penelitian yang melibatkan 3.446 partisipan ini menyimpulkan bahwa kerentanan terhadap berita palsu lebih dipengaruhi oleh kemalasan berpikir daripada keberpihakan politik.
Perlu dicatat, studi tersebut mengukur kecenderungan berpikir analitis, bukan skor IQ secara langsung. Namun, temuannya menunjukkan bahwa kebiasaan memeriksa ulang sebelum percaya merupakan ciri berpikir kritis yang bisa dilatih.
Pemerintah juga mengampanyekan sikap serupa. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong literasi digital lewat prinsip "saring sebelum sharing". Prinsip ini mencakup memeriksa sumber, membaca informasi secara menyeluruh, dan memastikan kebenarannya melalui situs pemeriksa fakta sebelum membagikannya.
Advertisement
7. Membiarkan Ponsel Mengganggu Fokus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539900/original/021439100_1774666351-2.jpg)
Notifikasi, pesan, dan media sosial membuat perhatian mudah terpecah. Studi Adrian Ward, Kristen Duke, Ayelet Gneezy, dan Maarten Bos berjudul Brain Drain (2017) menemukan bahwa keberadaan ponsel milik sendiri dapat mengurangi kapasitas kognitif yang tersedia, termasuk kapasitas memori kerja dan kecerdasan fluida. Dampak itu muncul meski pemiliknya berhasil menahan diri untuk tidak mengeceknya, dan paling besar pada orang yang paling bergantung pada ponsel.
Penelitian tersebut tidak secara khusus meneliti orang ber-IQ tinggi. Namun, temuannya memberi alasan kuat bagi siapa pun yang ingin menjaga ketajaman berpikir untuk menjauhkan ponsel saat mengerjakan tugas yang menuntut konsentrasi. Menaruh ponsel di dalam tas atau di ruangan lain saat bekerja dapat menjadi langkah sederhana.
8. Gengsi Mengakui Keterbatasan dan Kesalahan
Tidak semua orang nyaman berkata, "Saya belum tahu" atau "Saya keliru". Studi klasik Justin Kruger dan David Dunning berjudul Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One's Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments (1999) di Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa orang dengan kemampuan rendah cenderung menilai dirinya terlalu tinggi. Temuan ini mengingatkan bahwa menyadari keterbatasan diri merupakan bagian penting dari berpikir cerdas.
Dalam pembahasan populer, orang IQ tinggi digambarkan lebih nyaman mengakui batas pengetahuannya karena sikap itu membuka jalan untuk belajar. Mengakui kesalahan juga membantu memperbaiki keputusan lebih cepat dan menjaga kepercayaan orang lain. Anda bisa melatihnya dengan membiasakan kalimat sederhana seperti "Biar saya cek dulu" ketika belum yakin.
Apakah Kebiasaan Ini Ciri Mutlak Orang IQ Tinggi?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4633793/original/098483300_1698946383-pexels-george-milton-7034072.jpg)
IQ adalah skor yang mengukur kemampuan kognitif tertentu, seperti penalaran dan pemecahan masalah. Skor itu tidak menentukan sikap seseorang dalam setiap situasi. Orang ber-IQ tinggi tetap bisa terjebak tren, menunda pekerjaan, atau sulit menerima kritik.
Sebaliknya, siapa pun dapat menerapkan hal-hal di atas tanpa perlu mengetahui skor IQ-nya. Dengan demikian, kebiasaan yang dihindari orang IQ tinggi lebih bermanfaat bila dijadikan bahan refleksi diri, bukan alat untuk menilai atau membandingkan orang lain. Pada akhirnya, yang lebih penting bukan setinggi apa IQ seseorang, melainkan bagaimana ia memanfaatkan kemampuannya sehari-hari.
Langkah Praktis Membangun Kebiasaan Berpikir yang Sehat
Beberapa langkah kecil berikut dapat dicoba untuk menggantikan kebiasaan yang kurang membantu.
| Situasi | Langkah kecil yang bisa dicoba | Waktu yang dibutuhkan |
|---|---|---|
| Tergoda mengikuti tren | Tunggu 24 jam sebelum membeli atau ikut serta | 1 hari |
| Sulit memulai hal baru | Pilih satu topik baru, lalu baca satu artikel atau tonton satu video | 15-20 menit |
| Waktu habis di media sosial | Pasang batas pemakaian harian di pengaturan aplikasi | 2 menit untuk mengatur |
| Menerima kabar mencurigakan | Cari minimal dua sumber lain sebelum membagikan | 5 menit |
| Sulit fokus saat bekerja | Simpan ponsel di dalam tas selama satu sesi kerja | 25-30 menit |
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Kebiasaan IQ Tinggi
1. Apa saja kebiasaan yang dihindari orang IQ tinggi?
Beberapa di antaranya adalah ikut tren tanpa berpikir, takut mencoba hal baru, membuang waktu untuk hal tidak penting, menolak pendapat berbeda, dan berhenti belajar. Daftar ini bersifat kecenderungan, bukan ciri mutlak.
2. Apakah IQ tinggi menjamin seseorang bebas dari kebiasaan kurang baik?
Tidak. Orang ber-IQ tinggi tetap bisa memiliki bias, menunda pekerjaan, atau sulit menerima kritik. Sikap sehari-hari lebih ditentukan oleh kebiasaan yang dilatih.
3. Apakah orang IQ tinggi tidak boleh mengikuti tren?
Boleh. Mereka tetap dapat menikmati tren selama keputusannya lahir dari pertimbangan sendiri, bukan sekadar karena ingin diterima mayoritas.
4. Mengapa ponsel dikaitkan dengan menurunnya fokus?
Studi Ward dan rekan (2017) menemukan bahwa keberadaan ponsel di dekat seseorang dapat mengurangi kapasitas kognitif yang tersedia. Karena itu, menjauhkan ponsel saat mengerjakan tugas penting dapat membantu.
5. Bisakah orang awam melatih kebiasaan ini?
Bisa. Membaca secara rutin, memeriksa sumber informasi, membatasi waktu layar, dan terbuka terhadap pendapat lain adalah kebiasaan yang dapat dilatih siapa saja.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362845/original/009810400_1790832367-cek_fakta_-_bibit_ikan_tawar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362823/original/015208400_1790831366-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-01T120806.334.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3912867/original/070770300_1643009764-20220124-Kapolri-raker-dengan-komisi-III-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334325/original/020353700_1787832097-cek_fakta_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322185/original/009170700_1786520975-jakob-owens-fQPOZPLuWdE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5225161/original/048273700_1747654130-front-view-young-female-student-grey-coat-with-books-her-head-smiling-pink-background-lessons-university-college-study.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152215/original/037201300_1741241082-WhatsApp_Image_2025-03-06_at_1.04.13_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322185/original/009170700_1786520975-jakob-owens-fQPOZPLuWdE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314472/original/081828600_1785748239-zEoM0I1YZQPQF6pk9ubtnSz7LRwnts169P9wjQwx.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647573/original/048909500_1699930802-pexels-maisie-kane-4590202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5204724/original/086243700_1746009699-confident-female-manager-asian-saleswoman-holds-arms-crossed-with-professional-look-white-background_1258-169244.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290591/original/063879400_1783486383-Cover.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3658991/original/062965900_1639124030-pexels-cottonbro-4855327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5213159/original/024955500_1746679492-Berdiri_tegak_dan_menatap_langsung_lawan_bicara.jpg)