Sukses

Menikmati Pagi Bersama Petani Minapadi di Lereng Gunung Slamet

Liputan6.com, Purbalingga - Sebagian wilayah Purbalingga berada diberkahi berlimpahnya sumber air. Misalnya, di Desa Gembong, Kecamatan Bojongsari, sebuah kawasan yang terletak di tenggara Gunung Slamet.

Tak aneh jika kebanyakan warga Gembong membudidayakan ikan atau menjadi petani. Dan kini, mereka berhasil menggabungkan keduanya, dengan sebuah sistem yang disebut sebagai sistem minapadi.

Pagi, bagi petani adalah harapan. Terlebih, usai sistem minapadi mulai menampakkan hasil berlimpah, dan berlipat dibanding sistem pertanian biasa.

Minapadi, adalah sebuah sistem pertanian yang menggabungkan antara bertani padi dengan budidaya ikan. Ikan dibudidayakan di genangan air sawah yang ditumbuhi tanaman padi.

Dari teknik ini, petani mendapat dua keuntungan sekaligus, yakni panen padi dan ikan. Tahun ini, petani memelihara ikan Nila.

"Agustus mulai digarap, September tebar benih ikan. Jadi panen ikan sekarang baru dua bulan umur ikannya tapi hasilnya sudah bagus," kata Ketua Kelompok Tani Sri Rahayu Desa Gembong, Udoyoko, Jumat, 29 November 2019.

Sistem minapadi sangat menguntungkan. Pendapatan petani bertambah dengan pemanfaatan genangan ini.

Bahkan, dia mengklaim produktivitas tanaman padi dalam sistem minapadi justru meningkat meski luasannya berkurang. Sebab, padi relatif lebih sehat oleh keberadaan ikan yang memangsa hama padi.

"Kebetulan dari hasil panen itu justru meningkat walaupun lahannya dikurangi untuk budidaya ikan tapi hasilnya justru lebih bagus," dia mengungkapkan.

Simak video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Minapadi Gembong Jadi Destinasi Wisata

Pada tahun 2019 ini lahan persawahan yang sudah menggunakan sistem minapadi seluas 10 hektar dan nantinya akan ditambah tujuh hektare pada musim tanam kali ini. Dengan demikian total area persawahan yang menggunakan sistem minapadi di Desa Gembong mencapai 17 hektar .

“Sri Rahayu sendiri mengelola 25 hektare sawah, namun yang baru menggunakan sistem minapadi baru 17 hektar," dia menerangkan.

Dia menuturkan, semula petani di Desa Gembong ragu untuk menerapkan sistem minapadi. Namun, setelah beberapa bulan melihat hasilnya, kini petani justru lebih bersemangat.

"Kalau dampak perekonomian sendiri jelas meningkat, ini kan baru awal jadi secara bertahap insya allah akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat Desa Gembong," dia menjelaskan.

Dia menambahkan, keberhasilan penerapan sistem minapadi di Desa Gembong tak lepas dari suplai air sepanjang tahun. Ketersediaan air berlimpah ini sangat cocok untuk budidaya ikan dengan sistem minapadi.

Sistem pertanian intensif ini juga membuka peluang baru. Area minapadi Desa Gembong berpotensi jadi destinasi wisata minat khusus.

Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Ikan Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Ir Supriyadi M.Si mengatakan lantaran menerapkan pertanian sistem minapadi, sejumlah petani dari luar daerah bahkan luar pulau tertarik untuk belajar budi daya ikan dengan metode ini.

Beberapa yang datang ke Gembong antara lain dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, Garut, Kuningan Jawa Barat dan Bantul Yogyakarta. Dengan penataan dan pengembangan, area minapadi Purbalingga berpotensi menjadi wisata edukasi sistem pertanian.

“Minapadi bisa dilanjutkan dengan pariwisata. Ini akan mengundang masyarakat untuk belajar. Bisa berkunjung ke tempat kami di SUkabumi bagaimana minapadi bisa menjadi wisata yang viral di media sosial,” kata Supriyadi.

3 dari 3 halaman

Keuntungan Berlipat Sistem Minapadi

BBPBAT Sukabumi berkomitmen membantu budidaya minapadi di kawasan seluas 35 hektare lahan. Saat ini luasan itu sudah terealisasi.

“Total bantuan yang telah kami berikan senilai Rp960 juta untuk seluas 35 hektare di wilayah Purbalingga. Untuk Desa Gembong akan dikembangkan menjadi 17 Hektare dengan total bantuan sebesar Rp470.684.000,” dia mengungkapkan.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi berharap sistem mina padi di Desa Gembong terus dikembangkan. Dengan begitu, kesejahteraan petani dan pembudidaya ikan akan meningkat.

“Kalau sudah menggunakan sistem ini beras-beras yang dihasilkan akan organik, apalagi jarang Purbalingga memiliki demplot pertanian organik. Padahal beras organik memiliki nilai ekonomi yang sangat bagus,” kata bupati.

Petani di Desa Gembong Kecamatan Bojongsari menerapkan pertanian sistem mina padi. Sistem mina padi yang didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI ini berhasil meraup panen ikan sebanyak 1,2 ton ikan nila per hektare.

“Ikan bisa dipanen dalam jangka waktu dua bulan. Hasilnya cukup besar, bisa mencapai 3-4 ekor per satu kilogramnya dimana nilai ekonomisnya saat ini mencapai Rp 25ribu per kilogram. Satu setengah bulan kemudian tinggal panen padi,” kata Tiwi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Purbalingga, Sediyono mengatakan, kolam budidaya ikan di Purbalingga saat ini hanya 110 hektare. Melalui sistem mina padi ini, harapannya pemanfaatan lahan untuk perikanan bisa ditingkatkan.

“Sehingga kami optimis tahun 2019 ini tingkat konsumsi ikan Purbalingga akan meningkat lebih dari 20 kilogram per kapita per tahun, sesuai apa yang jadi arahan bupati,” kata Sediyono.

Loading
Artikel Selanjutnya
MoU Kementan dan Bank Mandiri Demi Terbentuknya Petani Mandiri dan Modern
Artikel Selanjutnya
IPB Populerkan Produk Petani Lewat Festival Bunga dan Buah Nusantara 2019