Sukses

Melestarikan Bahasa Sentani Lewat Pidato Pahlawan oleh Murid-Murid SD di Papua

Liputan6.com, Jayapura - Pemuda di Kampung Ifar Besar, Kabupaten Jayapura mengadakan Festival Ajau Bhuyakha-Sentani III tingkat Kabupaten Jayapura, dalam rangka peringatan kemerdekaan Indonesia. Festival Ajau Bhuyakha-Sentani III, antara lain berisi lomba pidato berbahasa setempat.

Ketua Panitia Lomba Pidato Bahasa Daerah Sentani, Harold Kopeuw menyebutkan peserta lomba pidato akan diikuti dari siswa sekolah dasar, dengan mengangkat tema dalam bahasa daerah Sentani: Ndane Rai Wali atau dalam bahas Indonesia yang berarti Disini lah Hidupku.

"Kami mengusung tema pahlawan nasional dari Papua dalam lomba pidato itu, antara lain Silas Papare, Martin Indey, dan Frans Kaisepo," ujarnya, Minggu (11/8/2019).

Sementara untuk tema umumnya, peserta bebas memilih pahlawan nasional lainnya. Selama lomba pidato, peserta harus menggunakan bahasa Sentani.

"Kami sengaja memilih peserta lomba dari tingkat sekolah dasar, karena pelestarian budaya mesti dilakukan sejak dini, sebelum mereka tumbuh dewasa," jelasnya.

Sampai saat ini, peserta lomba tercatat dari SD Sentani Timur dan SD Sentani Barat. Panitia berharap dengan tema bahasa daerah, murid SD sejak dini dapat mencintai budayanya sebagai orang asli Sentani.

Festival Ajau Bhuyakha-Sentani III akan dipusatkan di Jembatan Kuning Hebakey, Kampung Ifar Besar, Sentani yang akan dimulai pada 12 - 13 Agustus 2019.

Penggagas Festival Ajau Bhuyakha-Sentani III, Jimmi Yoku menyebutkan dalam festival akan dideklarasikan pemuda dari Sentani timur, barat, dan tengah mendukung terselengaranya PON 2020 di Papua dan Adipura untuk Kabupaten Jayapura.

"Akan ada banyak lomba dalam festival itu, antara lain lomba balapan speedboat, balapan kepiting, lomba dayung tradisional, lomba pidato bahasa daerah, lomba renang, dan lomba memancing," kata Jimmi. 

Balai bahasa setempat menyebutkan penutur bahasa daerah di wilayah Tabi yang di dalamnya termasuk Kabupaten Jayapura terancam punah. Salah satunya karena penuturnya sudah berkurang, lokasi daerah, kebutuhan, dan asimilasi yang terjadi. 

Salah satu upaya yang sedang dilakukan pemda setempat adalah membuat muatan lokal di sekolah untuk penggunaan bahasa daerah setempat.

Loading
Artikel Selanjutnya
Majukan Generasi Muda, Youth Center Akan Dibangun di Papua
Artikel Selanjutnya
Polri: Terduga Teroris Jack Sparrow Berencana Jihad ke Papua