Sukses

Kasmuni, Kisah Generasi Kedua Transmigran

Liputan6.com, Kubu Raya - Azan subuh sudah terlewat lama. Kasmuni baru saja menunaikan ibadah salat subuh. Ia langsung membuka jendela. Kabut masih tebal. Pagi itu Kasmuni sangat bersemangat.

Pria 54 tahun ini bergegas mengambil cangkul. Kopi yang dihidangkan sang istri, ia seruput secepat kilat. Tak sempat ia berlama-lama menikmati kopi hangat.

"Pamit. Assalamu alaikum,"kata Kasmuni kepada istrinya.

Sang istri masih sibuk di dapur, membereskan apa yang harus dibereskan setiap pagi. Ia tak sakit hati ketika kopi buatannya hanya diseruput buru-buru.

Kasmuni adalah pekerja di sebuah taman hias milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Jaya di Desa Rasau Jaya Tiga, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Jarak dari rumahnya ke tempat kerja sesungguhnya tak jauh.

Kakinya melangkah menyusuri bantaran sungai. Berbagai tanaman hias ia pelihara. Juga ia merawat kebun pembibitan di lahan seperempat hektare bekas pembuangan sampah warga setempat. Ia lakoni perkerjaanya dengan upah Rp100 ribu perharinya yang dibayar akhir pekan.

"Kalau setengah hari Rp50 ribu. Tapi tetap saja saya memilih berangkat pagi," kata Kasmuni.

Simak video pilihan berikut:

 

2 dari 2 halaman

Jaman Pak Harto

Kasmuni memiliki lima anak. Ia adalah transmigran asal Pekalongan, Jawa Tengah. Mengikuti kedua orang tuanya, Kasmuni merantau ke Kalimantan dalam program Transmigrasi Umum.

"Saya ikut Transmigrasi Umum 1976 zaman Pak Harto. Saat itu ada 100 kepala keluarga. Saya datang baru berumur 11 tahun. Masih kelas 4 SD," kata Kasmuni.

Kedua orangtuanya sudah meninggal dan ia menyetiai merawat lahan dua hektare itu.

"Setengah hektare itu lahan pekarangan. Dan satu hektare setengah lahan untuk bercocok tanam. Saya tanami berbagai macam tanaman, ada tanaman keras tahunan dan sawah," katanya.

Sepagi itu ia sudah sibuk membersihkan pengganggu bunga di Rajati Flowers Garden. Ia mengaku menyemai bunga matahari, bunga celosia atau jengger ayam, bunga kertas atau zinnia, dan bunga-bunga lainnya.

Matahari mulai meninggi, Kasmuni bergegas membersihkan cangkul. Ia tahu, bahwa jika panas menyengat artinya jarum jam menunjukan pukul 12.00 WIB. Ia pulang untuk makan dan salat dzuhur.

Loading
Artikel Selanjutnya
Sambut Pilkada 2020, Nasdem Gelar Safari Konsolidasi di Kalimantan