Sukses

Tengkleng Yu Tentrem, Kuliner di Gang Kampung Langganan Keluarga Cendana

Liputan6.com, Solo - Tengkleng sudah menjadi identitas kuliner dari Solo. Makanan khas kampung halaman Presiden Jokowi itu terbuat dari tulang-tulang daging kambing yang direbus dan dibumbui dengan rempah-rempah.

Cara makannya adalah dengan menguliti daging yang menempel di tulang. Selain itu, juga menyeruput sumsum tulang yang rasanya sudah bercampur dengan rempah-rempah.

Jika ingin menikmati tengkleng lain dari yang lain adalah tengkleng Yu Tentrem. Warung ini bukan berada di pinggir jalan atau sentra kuliner di Solo, melainkan menyempil di gang kampung.

Tengkleng Yu Tentrem yang berada di gang kampung beralamat di Kampung Ngadisono, RT. 04/RW 14 Kadipiro, Banjarsari, Kadipiro, Banjarsari. Untuk sampai ke tempat itu, pembeli harus masuk gang dua kali.

Jangan kaget begitu menjejakkan kaki di warung ini. Warung tengkleng Yu Tentrem hanya memanfaatkan ruang tamu ukuran  6 x 9 meter.

Ada satu set meja kursi tamu yang tertata. Di sisi kiri meja tamu ada dua set kursi meja warung. Ruangan ini bisa menampung 30 pembeli. Para pembeli bisa nyaman menikmati tengkleng layaknya di rumah sendiri.

2 dari 6 halaman

Manfaatkan Ruang Tamu

Walau warungnya seadanya, santapannya memiliki cita rasa yang khas. Tetelan dagingnya sangat empuk, kuahnya bening, dan tanpa bau prengus. Inilah yang menjadi ciri khas dari tengkleng Yu Tentrem. 

Usaha warung makan ini sudah dirintis sejak 1980-an. Kala itu, ibunya menjajakan tengkleng dengan jalan kaki menjelajahi kampung terdekat. Ia ingat betul, saat dirinya masih SMP kerap ikut ibunya untuk berjualan secara keliling.

"Kemudian pada tahun 1990-an, ibu berjualan manggrok (mangkal) di jalan dekat rumah. Beberapa tahun setelahnya, ibu jualan di rumah," jelas dia.

Warung kini dikelola oleh anak-anak Yu Tentrem. Sang empunya kuliner sudah meninggal pertengahan tahun lalu.

Memasak tengkleng resep Yu Tentrem membutuhkan waktu yang lebih lama. Diawali dengan dibersihkannya tulang kambing muda, termasuk tengkoraknya.

"Gigi-gigi dari kepala kambing juga disikat. Setelah itu dibakar menggunakan tungku. Lantas, tulang-tulang itu dikerik agar tidak ada bulunya. Karena bulu-bulu ini yang membuat prengus hasil masakannya," kata Winarno, salah satu anak Yu Tentrem.

3 dari 6 halaman

Berkuah Bening

Tulang-tulang yang akan diolah menjadi tengkleng ini pun dipilah-pilah. Lemak bakal dibuang. Lantaran memasaknya lebih lama, daging-daging yang menempel di tulang pun terasa empuk. Jadi ketika memakannya, tidak harus menguras tenaga ekstra.

"Untuk kuahnya, juga kita saring berkali-kali agar terlihat bening," ujar Winarno.

Begitu disantap, rasa kuahnya gurih, asam, pedas dan asin. Rasanya tidak eneg, tetapi segar.

Rasa nikmat itu berasal dari campuran belasan bumbu rempah seperti lengkuas, serai, kemiri, kunyit, bawang merah, bawang putih, daun salam, ketumbar, dan lengkuas,

"Bumbu-bumbu tersebut direbus bersama tulang kambing, termasuk bagian kepala kambing. Biar bumbunya meresap hingga ke tulang. Cara memasak kami bisa diadu," jelas Winarno.

4 dari 6 halaman

Diundang Keluarga Cendana

Tengkleng merupakan makanan rakyat. Sesuai dengan cerita orangtua zaman dulu, makanan tengkleng ini memanfaatkan daging dan tulang sisa dari para bangsawan.

"Kemudian oleh rakyat biasa, daging sisa itu dimasak," ucapnya.

Tengkleng Yu Tentrem kian laris saat kuliner olahan ibunya itu dipesan oleh Presiden Soeharto.  Kala itu, Presiden Soeharto mantu putra bungsunya, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang menikah dengan keturunan darah biru Mangkunegaran, Tata Cahyani.

"Pesanan ke luar Solo menjadi yang pertama. Dan langsung dipesan oleh Presiden Soeharto. Kami berempat bersama dengan kakak dan ibu masak di Istana. Di sana empat hari. Tengkleng ini sebagai makanan tamu-tamu pernikahan Mas Tommy," kata Winarno.

Presiden Soeharto menjatuhkan pilihan tengkleng Yu Tentrem tak terlepas dengan seringnya keluarga Tien Soeharto di Kalitan, Solo memesan tengkleng olahan ibunya. "Saat ada acara-acara di sana (Kalitan), pesan tengkleng di sini," jelas dia.

5 dari 6 halaman

Deretan Pejabat

Seiring waktu, tengkleng Yu Tentrem kian laris. Tengkleng saat ini bahkan lebih banyak dipesan ke luar kota. Dikemas dengan menggunakan kuali lalu ditutup daun pisang dan dibalut plastik kemudian ditali, tengkleng Yu Tentrem terlihat higienis.

"Setiap harinya, kami menghabiskan enam-tujuh ekor kambing. Kami buka jam 10.00 WIB, paling jam dua siang sudah habis," katanya.

Tengkleng Yu Tentrem juga menjadi favorit para pejabat. Sejak zaman Soeharto, banyak pejabat yang memesan hingga makan di tempat. Pejabat eselon di kementerian kerap memesan tengkleng ini. Selain itu, juga pangdam dan pejabat di BUMN.

"Ya, ada yang pesan makan di sini dan dibawa pulang," ujar dia.

Selain menjadi langganan pejabat, tengkleng Yu Tentrem juga kerap dipesan Sri Sultan Hamengkubuwono X setiap kali Lebaran. "Kalau Sultan ada acara pasti pesan sini. Lalu pabrik gula Madukismo jika ada prosesi giling tebu juga pasti pesan tengkleng sini," tutur dia.

Keluarga Presiden Jokowi juga kerap pesan tengkleng olahan Yu Tentrem. Tak hanya itu, setiap kali Presiden pulang kampung. Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) yang bertugas juga selalu pesan tengkleng Yu Tentrem.

"Keluarga Pak Jokowi juga pesan, tetapi kalau Pak Jokowinya setahu saya enggak suka tengkleng, sukanya satai kambing," ujarnya.

6 dari 6 halaman

Ramah di Kantong

Satu porsi tengkleng Yu Tentrem terbilang cukup murah, Rp 35.000. Itu pun termasuk nasi, minuman es teh, dan jeruk. "Itu masih ditambah kerupuk. Silakan makan kerupuk sepuasnya, kalau memang masih tersedia," jelasnya.

Sementara, harga untuk pesanan juga cukup murah. Untuk kuali kecil Rp 900.000, kuali sedang Rp 1.000.000 dan kuali besar Rp 1.200.000. Kuali memang menjadi wadah bila tengkleng hendak dibawa pulang. Itu pun kuali dibersihkan dulu untuk membuang bau tanah liat.

"Setiap hari pasti ada pesanan. Apalagi kalau Lebaran hingga sebulan setelahnya, pesanan banyak sekali, sehari bisa sampai 12 ekor kambing," tuturnya.

Tengkleng Yu Tentrem tidak mengenal hari libur. Tetapi jika tidak ingin kecele, ada baiknya bisa telepon dulu. Lantaran kalau sudah habis, tidak akan memasak kembali dan harus menunggu sehari setelahnya.

"Bisa telepon ke nomor telepon (0271) 854852, 081329349340," katanya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading