Sukses

Habis Dikritik Dosen, Teh Daun Sukun Tembus Pasar Nasional

Liputan6.com, Yogyakarta - Penolakan dari kampus tidak menyurutkan niat Suhartono, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), untuk mengembangkan usaha teh dari daun sukun. Bersama dua temannya yang merupakan alumni UGM, Retno Wulandari dan Yunita Praptiwi, ia memasarkan teh daun sukun ke berbagai wilayah di Indonesia.

Bisnis teh daun sukun Laasyaka itu lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM 2013. Ide mengolah daun sukun sebagai teh herbal itu sempat ditolak dosen pembimbingnya.

"Ide kami ini sempat ditolak sama dosen pembimbing karena dinilai kurang berkualitas," ujar Suhartono, beberapa waktu lalu.

Mereka tidak patah arang dengan berusaha mencari dukungan dari dosen lain. Keyakinan mereka akan teh daun sukun itu membuahkan hasil. Mereka bisa melaju ke PKM dan memperoleh dana hibah Rp 7,25 juta dari Dirjen Dikti.

Lebih dari separuh uang yang diterima untuk membeli alat press. Dana yang terbatas membuat mereka mencetak dan mendesain kardus sendiri.

Pada tahap awal sekitar 2014, mereka menggunakan saluran penjualan langsung. Namun, hasilnya tidak mencapai target. Akhirnya, penjualan beralih menjadi online melalui situs tehdaunsukun.com dan tehdaunsukun.co.id, serta menerapkan sistem agen.

Teh daun sukun itu dikemas dalam dua bentuk, yakni celup dan tubruk. Satu pak teh celup berisi 20 kantong teh celup siap pakai dengan berat 50 gram dibanderol dengan harga Rp 20.000, sedangkan kemasan tubruk dengan berat 35 gram dijual dengan harga Rp 5.000.

Bisnis yang berkembang menjadi usaha rumah tangga di Purwomartani Kalasan Sleman itu mampu memproduksi 400-500 pak teh daun sukun setiap bulan dan memberdayakan warga setempat untuk proses pemetikan hingga pengeringan daun. Omzet per bulan berkisar Rp 8-10 juta.

2 dari 2 halaman

Manfaat Teh Daun Sukun

Suhartono mengungkapkan alasan pengembangan teh daun sukun karena melihat banyaknya pohon sukun di daerah tempat tinggalnya dan belum semua bagian dari pohon sukun dimanfaatkan oleh warga.

"Baru buahnya saja," ucap dia.

Sementara, bagian lain seperti daun sukun belum banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar dan hanya menjadi sampah. Melihat potensi daun sukun yang melimpah tersebut, dia bersama kedua rekannya berpikir untuk memanfaatkan bahan tersebut.

Mereka pun mencari referensi dan literatur ilmiah terkait manfaat daun sukun. Berdasar penelitian LIPI (Tjandrawati) menunjukkan daun sukun mengandung senyawa flavonoid, riboflavin, dan sirosterol yang bermanfaat untuk menjaga jantung dari kerusakan sistem kardiovasikuler.

"Selain bermanfaat dalam membantu penyembuhan sakit ginjal, darah tinggi, diabetes, juga menurunkan kolesterol serta mengatasi inflamasi," kata mahasiswa Departemen Ilmu Komputer FMIPA ini.

Cara pengolahan teh daun sukun ini tergolong sederhana. Daun-daun muda dan segar dipetik langsung dari pohon kemudian dicuci hingga bersih. Selanjutnya, daun dipotong-potong dan dijemur di bawah sinar matahari selama 3-4 hari hingga mengering.

"Setelah itu, daun kering dihaluskan lalu dioven dan dikemas dalam bentuk teh celup," kata dia.

Retno menambahkan teh daun sukun Laasyaka terbuat 100 persen dari daun sukun asli tanpa menggunakan bahan pengawet. Teh ini baik dikonsumsi siapa saja mulai anak-anak hingga dewasa.

Sebelum menikmati teh daun sukun, tutur dia, teh perlu direndam lebih lama sekitar 4 sampai 5 menit untuk memunculkan warna cokelat kehijauan.