Sukses

MUI Ajak Umat Beragama Palu Jaga Keamanan Jelang Pemilu 2019

Liputan6.com, Palu - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah mengajak umat beragama di daerah tersebut untuk menjaga perdamaian jelang dan saat Pemilu 2019 berlangsung.

"Perdamaian menjadi kunci terpenting menentukan kualitas pesta demokrasi (Pemilu)," ujar Ketua MUI Palu Prof Zainal Abidin, seperti dilansir Antara, Selasa (25/12/2018).

Rois Syuria Nahdlatul Ulama Sulawesi Tengah itu mengatakan, umat beragama harus terlibat dan aktif mengingatkan satu sama lain tentang pentingnya perdamaian.

Menurut Zainal, pesan-pesan soal kedamaian dan ketenteraman merepresentasikan keimanan setiap orang yang beragama.

Hal itu karena, kata dia, menentramkan, memberikan kenyamanan, dan kedamaian merupakan salah satu dari anjuran agama.

"Agama menjadi instrumen yang mengantar orang menuju kedamaian, ketenteraman dan kenyamanan. Bukan sebaliknya," ucapnya.

Dia memaparkan, terdapat beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam rangka mewujudkan perdamaian dan ketenteraman dalam kehidupan sosial serta menghadapi Pemilu.

Pertama, lanjut Zainal, setiap orang atau individu harus menghormati perbedaan yang ada, termasuk berbeda dukungan Pemilu. Dia menegaskan, perbedaan merupakan bagian dari ketentuan yang tidak dapat diintervensi oleh manusia.

"Perbedaan agama, suku RAS, dan segalanya yang terjadi, merupakan kehendak Tuhan. Bukan kehendak manusia, karena itu sebagai seorang yang beragama harus menghormati perbedaan itu," kata Zainal.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 dari 2 halaman

Poin Selanjutnya

Poin kedua, lanjut Zainal, jangan berprasangka buruk kepada seseorang atau kepada sekelompok orang. Karena, kata dia, prasangka yang buruk dapat melahirkan fikiran dan tindakan yang buruk.

"Dengan begitu maka persaudaraan antarsesama manusia dalam kehidupan sosial akan putus bila diwarnai dengan prasangka buruk," tuturnya.

Ketiga, sambung dia, tidak boleh mengklaim bahwa faham dan aliran serta pendapat dari yang lahir dari seseorang atau sekelompok menjadi kebenaran mutlak, sehingga yang lain dianggap salah bila tidak sependapat.

"Perbedaan mazhab, aliran dan faham, serta perbedaan lainnya tidak terlepas dari ketentuan Tuhan. Karena itu harus dihormati, tidak boleh memonopoli kebenaran," terang dia.

Zainal juga menghimbau kepada masyarakat untuk tidak saling menghujat, saling menjelekkan, dan memfitnah hanya karena berbeda dukungan.

Anies Janji Penertiban PKL Tanah Abang Terus Dilakukan

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Disdukcapil Bekasi Bakar Puluhan Ribu E-KTP Rusak
Artikel Selanjutnya
KPU Sosialisasi Pemilu 2019 kepada Difabel Intelektual