Laporan Liputan6.com dari China: Cara BYD Mengatasi Baterai Bekas Mobil Listrik di Indonesia

Populasi kendaraan listrik di Indonesia terus tumbuh, memunculkan pertanyaan krusial: bagaimana nasib ribuan baterai mobil listrik ini ketika masa pakainya habis nanti?

Diterbitkan 27 Januari 2026, 12:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Zhengzhou - Populasi kendaraan listrik (EV) di Indonesia terus tumbuh, memunculkan pertanyaan krusial: bagaimana nasib ribuan baterai mobil listrik ini ketika masa pakainya habis nanti? Raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD, ternyata sudah menyiapkan "peta jalan" untuk menjawab tantangan limbah baterai ini di Tanah Air.

Dalam pertemuan dengan media di Zhengzhou, China, Kamis (26/1/2026), General Manager BYD Asia-Pacific Auto Sales Division, Liu Xueliang menegaskan, pengelolaan baterai bekas bukan sekadar wacana, melainkan agenda prioritas dalam ekosistem bisnis BYD di Indonesia.

"Kami sudah memasukkan ini sebagai agenda, bagaimana membangun ekosistem lengkap untuk baterai mobil BYD di Indonesia," ujar Liu.

Solusi "Nyawa Kedua"

Salah satu strategi kunci yang disiapkan BYD adalah memperpanjang siklus hidup baterai melalui konsep second life atau penggunaan kembali. Liu menjelaskan, baterai mobil listrik yang performanya sudah menurun—misalnya di bawah 80%—mungkin tidak lagi optimal untuk menggerakkan mobil, namun masih sangat layak untuk fungsi lain.

"Baterai yang sudah tidak optimal digunakan di kendaraan masih dapat dimanfaatkan untuk sistem penyimpanan energi (energy storage system)," jelasnya. Dengan skema ini, baterai bekas mobil listrik bisa dialihfungsikan menjadi penyimpan daya untuk perumahan, perkantoran, atau bahkan pembangkit listrik energi terbarukan, sehingga nilai ekonominya tetap terjaga sebelum benar-benar didaur ulang.

Tantangan di Indonesia

Meski konsepnya sudah matang secara global, Liu mengakui realisasi daur ulang baterai di Indonesia masih membutuhkan waktu. Tantangan utamanya bukan pada teknologi, melainkan perencanaan rantai industri yang matang agar sesuai dengan kondisi lokal.

"Kami juga berharap dapat menemukan saluran dan rantai yang sangat sesuai untuk pengembangan baterai dan energi terbarukan di Indonesia, terutama untuk pabrik manufaktur kami," tambah Liu.

Saat ini, BYD tengah melakukan kajian mendalam untuk menemukan skema rantai pasok yang paling efisien. Agenda besar ini akan mencakup siklus lengkap: mulai dari produksi baterai baru, pemanfaatan kembali (repurpose), hingga daur ulang material (recycle) di akhir masa pakai.

"Dalam keseluruhan agenda, bukan hanya produksi, bukan hanya daur ulang, tetapi solusi lengkap. Kami sudah menelitinya. Masih perlu waktu," imbuh Liu, menekankan bahwa BYD tidak ingin menawarkan solusi parsial, melainkan sistem yang berkelanjutan dan terintegrasi penuh.

Langkah ini menjadi sinyal positif bagi konsumen Indonesia yang mulai beralih ke kendaraan listrik, memberikan kepastian bahwa limbah baterai di masa depan akan tertangani dengan standar industri yang bertanggung jawab.