Sukses

Naik Ojol Bintang Lima, Fasilitasnya dari Permen hingga TV

Liputan6.com, Jakarta - Kehadiran ojek online (ojol) terbukti dapat mempermudah kehidupan masyarakat di kota besar. Beragam kisah unik pun dibagikan oleh penumpang saat menggunakan jasa ojol.

Baru-baru ini, tengah viral ojek online yang memiliki fasilitas ‘Bintang Lima’. Meski hanya menggunakan moda transportasi motor, namun ojek online ini dilengkapi dengan televisi mini. 

Dalam video yang diunggah oleh akun @cicipelin di TikTok, ia mengisahkan tentang perjalanan singkatnya yang berkesan berkat ojol ‘Bintang Lima’ tersebut.

Berikut ini merupakan kisah ojol 'Bintang Lima' dirangkum dari berbagai sumber oleh Liputan6.com.   

2 dari 5 halaman

Fasilitas Lengkap

Dilansir dari akun TikTok @cicipelin, ia bertemu dengan ojol tersebut dalam perjalanannya dari Menteng Dalam ke Kemang. Tak disangka-sangka, ojek yang akan ia tumpangi tersebut memiliki fasilitas yang sangat lengkap.

Cukup unik ketimbang ojol pada umumnya, ojek ini memiliki fasilitas mulai dari tisu, power bank, permen, hingga televisi mini yang menempel pada helm sang driver. 

Sumber: Hot Liputan6.com ditayangkan 21 Sep 2020, 20:41 WIB

Penulis: Mardella Savitri Murtisari

3 dari 5 halaman

Alasan Anies Izinkan Ojol Beroperasi Saat PSBB, sedang Perkantoran Ditutup

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan alasan mengapa pihaknya kini mengizinkan ojek atau ojek online beroperasi selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), namun melarang karyawan perkantoran.

Anies menyebut, persentase ojol yang terpapar positif Covid-19 terbilang rendah dibandingkan dengan kasus klaster perkantoran.

"Ojek online salah satu jumlah kasus terkecil di Jakarta. Kalau angka mereka di Wisma Atlet pengemudi ojek cuma 0,7 persen. Sementara, karyawan 46 persen," ucapnya dalam wawancara daring yang diunggah pada Rabu (16/9/2020).

Anies menyatakan, pemberian izin salah satu profesi bukan hasil lobi-lobi politik. Ia memastikan DKI mengambil keputusan berdasarkan data. 

"Ini bukan kompromi politik, ini berdasar data," ungkap mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini. 

"Kami tidak menambah nama data. Kami tidak mengurang data. Kami tidak sampaikan data untuk menyenangkan. Kami tidak menyampaikan untuk menakuti. Kami sampaikan apa adanya," jelas Anies.

Selain itu, Anies juga mengungkap ada berbagai pihak yang tidak menginginkan adanya pengetatan PSBB pada 14 September lalu.

"Ada berbagai kalangan yang tidak menginginkan adanya pengetatan (PSBB). Yang menginginkan (PSBB) transisi jalan terus, tapi pengawasannya ditingkatkan," kata dia.    

4 dari 5 halaman

Infografis Polemik Penundaan Pilkada Serentak 2020

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: