Mouth Taping untuk Tidur, Di Balik Tren Viral Ada Peringatan Medis yang Harus Diwaspadai

Mouth taping, tren viral menempel plester di mulut saat tidur, diklaim tingkatkan kualitas tidur. Namun, ahli medis peringatkan risiko serius dan bukti ilmiah y

Diterbitkan 29 Agustus 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam lanskap kesehatan dan gaya hidup modern, tren baru kerap muncul dan menyebar luas, tak terkecuali melalui platform media sosial. Salah satu praktik yang kini menjadi sorotan adalah mouth taping, yakni menempelkan plester pada mulut saat tidur. Para pendukungnya mengklaim beragam manfaat, mulai dari peningkatan kualitas tidur hingga perbaikan kesehatan secara menyeluruh. Namun, pertanyaan besar muncul: apakah tren ini aman dan didukung oleh sains, atau justru menyimpan bahaya tersembunyi?

Mouth taping didefinisikan sebagai tindakan menempelkan plester perekat di atas mulut selama tidur, dengan tujuan utama mendorong pernapasan melalui hidung dan mencegah pernapasan mulut. Praktik ini semakin populer berkat platform seperti TikTok dan buku laris berjudul Breath: The New Science of a Lost Art, bahkan telah memicu lahirnya industri produk plester mulut bernilai miliaran dolar.

Secara umum, pernapasan hidung dianggap lebih unggul dibandingkan pernapasan mulut dari sudut pandang kesehatan. Hidung memiliki fungsi vital sebagai filter dan pelembap udara, menyaring alergen dan mengatur suhu udara yang dihirup. Selain itu, bernapas melalui hidung dapat mencegah iritasi tenggorokan serta mulut kering saat tidur, sekaligus berpotensi mengurangi dengkuran. Pernapasan hidung juga merangsang reseptor di hidung yang membantu menjaga keteraturan pernapasan dan mempertahankan tonus otot di orofaring, sehingga mengurangi risiko kolaps saluran napas.

Klaim Manfaat Versus Realitas Ilmiah

Para pendukung mouth taping mengemukakan berbagai klaim manfaat, termasuk tidur yang lebih nyenyak, pernapasan yang lebih baik, pencegahan bau mulut dan mulut kering, pengurangan dengkuran, pembentukan garis rahang atau struktur wajah, kulit yang lebih bersih, penurunan tekanan darah, hingga peningkatan kadar oksigen dalam tubuh.

Namun, di tengah klaim-klaim menarik ini, komunitas medis dan ilmiah menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati. Penelitian mengenai mouth taping secara umum dinilai berkualitas rendah. Dr. Faisal Zahiruddin, seorang pulmonolog dan spesialis kedokteran tidur di Houston Methodist, menegaskan bahwa data yang tersedia belum memadai untuk merekomendasikan praktik ini. Senada, Dr. Jessica Camacho, asisten profesor kedokteran internal di CU Anschutz, menyatakan bahwa bukti yang ada tidak berkualitas tinggi dan menunjukkan hasil yang beragam.

Hingga tahun 2026, belum ada pedoman klinis resmi yang mendukung mouth taping sebagai metode pengobatan untuk gangguan tidur apa pun. Bahkan, American Academy of Sleep Medicine secara tegas merekomendasikan untuk tidak melakukan mouth taping. Klaim bahwa praktik ini dapat meningkatkan kualitas tidur atau membentuk garis rahang juga tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.

Beberapa studi kecil memang mengindikasikan adanya pengurangan dengkuran yang signifikan setelah penerapan mouth taping. Meskipun demikian, bukti mengenai dampaknya terhadap sleep apnea ringan masih tidak konsisten. Sebuah studi menemukan bahwa menutup mulut dapat meningkatkan aliran udara pada individu dengan pernapasan mulut sedang, namun justru memperburuk aliran udara pada mereka yang memiliki pernapasan mulut yang lebih parah. Sebuah studi percontohan pada tahun 2023, yang melibatkan 30 peserta, menunjukkan bahwa plester mulut berpori dapat mengurangi indeks apnea-hipopnea (AHI) pada pasien dengan sleep apnea obstruktif ringan. Namun, para penulis studi tersebut secara eksplisit memperingatkan agar hasilnya tidak digeneralisasi karena ukuran sampel yang kecil.

Potensi Bahaya dan Risiko Kesehatan Serius

Para ahli kesehatan sangat mengkhawatirkan potensi risiko dari mouth taping, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu. Salah satu risiko paling serius adalah asfiksia atau gangguan pernapasan. Dr. Zahiruddin menjelaskan bahwa bagi sebagian orang yang mengalami penyumbatan hidung, baik itu akibat hidung tersumbat, septum yang menyimpang, maupun alergi, pernapasan mulut menjadi krusial untuk menjaga aliran udara yang memadai. Ia menambahkan, mouth taping berpotensi menyebabkan asfiksia pada individu dengan obstruksi hidung, sleep apnea, regurgitasi, atau refluks asam.

Dr. Brian Chen, seorang spesialis kedokteran tidur anak, turut menekankan bahwa praktik ini dapat mengakibatkan kesulitan bernapas yang parah dan penurunan kadar oksigen yang signifikan. Membatasi aliran udara dengan plester mulut dapat sangat berbahaya bagi mereka yang sudah memiliki saluran napas yang menyempit atau tersumbat. Oleh karena itu, mouth taping tidak dianjurkan bagi siapa pun yang memiliki riwayat alergi kronis dan hidung tersumbat, sleep apnea, penyakit refluks gastroesofageal (GERD), atau kondisi jantung dan paru-paru, termasuk asma.

Bagi penderita sleep apnea, kurangnya aliran udara atau penurunan kadar oksigen saat tidur dapat memberikan beban berlebih pada jantung, paru-paru, dan organ vital lainnya. Selain risiko pernapasan, penggunaan plester juga dapat memicu masalah kulit seperti iritasi, reaksi alergi, ruam, atau kemerahan di sekitar mulut, terutama jika menggunakan plester yang tidak hipoalergenik. Plester juga berpotensi memerangkap keringat dan kelembapan, menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri. Lebih jauh, perasaan mulut yang tertutup rapat dapat meningkatkan kecemasan dan mengganggu kualitas tidur.

Saran Profesional dan Alternatif Lebih Aman

Konsensus di kalangan para ahli kesehatan menegaskan bahwa mouth taping bukanlah solusi universal dan harus didekati dengan sangat hati-hati. Penting untuk berbicara dengan dokter sebelum mencoba melakukan mouth taping. Jika seseorang tetap berkeinginan untuk mencoba, Dr. Zahiruddin menyarankan penggunaan plester mikropori hipoalergenik dan menempelkan strip kecil di bagian tengah bibir yang tertutup, sehingga masih memungkinkan sedikit aliran udara.

Lebih penting lagi, identifikasi dan penanganan penyebab mendasar dari pernapasan mulut, seperti alergi, septum yang menyimpang, atau hidung tersumbat kronis, adalah langkah yang direkomendasikan. Apabila Anda mengalami dengkuran terus-menerus, tersedak saat tidur, atau kantuk berlebihan di siang hari, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan. Fokus pada kebiasaan tidur yang sehat dan konsultasi medis adalah pendekatan yang paling aman dan efektif untuk meningkatkan kualitas tidur.