Sukses

Anti Tertipu, 4 Cara Membedakan Kampas Rem Asli atau Palsu

Liputan6.com, Jakarta - Membeli suku cadang seperti kampas rem memang tak harus selalu di bengkel resmi. Nah, jika Anda termasuk ke dalam konsumen yang membeli di luar toko resmi, maka wajib teliti sebelum membeli.

Sebab, masih ada saja pedagang yang nakal yang menjual spare part KW. Jika tak teliti, Anda sendiri yang akan dirugikan.

Jika membeli kampas rem yang tidak asli, bisa menimbulkan sejumlah masalah. Salah satunya, merusak disc brake dan membuat pengereman tidak pakem.

Nah, supaya enggak tertipu, berikut ada 4 cara membedakan mana kampas rem ori dan KW, seperti dilansir Wahana Honda:

2 dari 5 halaman

1. Harga Murah

Hal yang paling menggoda adalah harga. Tentu saja barang asli dan tiruan selalu punya jarak harga yang cukup jauh.

Ambil contoh, kampas rem milik Honda Beat EsP yang dibanderol Rp 51 ribu. Nah jika menemukan kampas rem di bawah harga tersebut, maka Anda patut curiga.

Meski tak semua barang murah adalah KW, tapi jangan mudah tergiur dengan harga murah ya.

3 dari 5 halaman

2. Kemasan

Seperti halnya membedakan oli asli atau palsu, kampas rem asli atau KW juga bisa dilihat dari kemasannya. Pastikan hologram yang menempel asli. Biasanya, hologram akan membentuk gambar logo penyedia spare part tersebut.

Sedangkan spare part KW, meskipun memiliki hologram tapi tak menunjukkan logo. Selain itu, cermati pula identitas pada bungkusnya. Meski tertera logo perusahaan tapi tak ada alamatnya, maka itu patut dicurigai.

4 dari 5 halaman

3. Kode Produksi

Umumnya, kampas rem yang dibuat oleh pabrikan resmi akan memiliki kode produksi. Biasanya berupa angka atau kombinasi angka dan huruf.

Jika Anda tak menemukan kode produksi pada kemasan kampas rem, maka segera minta ganti.

5 dari 5 halaman

4. Tekstur Kampas Rem

Trik lain yang bisa dipakai patokan untuk membedakan kampas rem asli dan kw adalah melihat detail teksturnya. Kampas rem asli memiliki tekstur padat. Jika terasa rapuh, hal itu bisa jadi indikasi bahwa kampas tak ori.

Loading
Artikel Selanjutnya
Pemerintah Uji Coba Kartu Prakerja di Jakarta dan Bandung
Artikel Selanjutnya
Masuk Daftar 100 Kota Berbahaya di Dunia, Jakarta Masih Lebih Aman dari Kuala Lumpur