Sukses

Performa Wuling Cortez Mengecewakan?

Liputan6.com, Semarang - Wuling Motors menggelar acara media test drive Wuling Cortez dengan rute Semarang - Solo - Magelang pada pekan lalu. Sedikitnya 20 media nasional termasuk Liputan6.com mengikuti gelaran ini.

Menempuh jarak hingga 250 kilometer dengan berbagai medan jalan yang dilalui, kami merasakan kelebihan dan kekurangan multi purpose vehicle (MPV) berbanderol Rp 218 hingga Rp 264 juta (on the road Jakarta) tersebut.

Pada sesi test drive ini, unit yang kami gunakan adalah Cortez 1.8L Lux+ yang tak lain tipe tertinggi dari Wuling Cortez. Kami cukup terpukau saat pertama kali berada di kabin mobil ini.

Mobil ini menawarkan kesan mewah, mulai dari konfigurasi tempat duduk, aksen kayu pada dasbor, panel pengaturan AC digital, head unit 8 inci, tombol pengaturan di setir, banyaknya ruang penyimpanan hingga sunroof.

Mobil ini juga punya fitur berlimpah, seperti electric parking brake, automatic vehicle holding (AVH), hill hold control (HHC), electronic stability control (ESC), traction control system (TCS), Isofix, tire pressure monitoring system (TPMS), immobilizer, dual SRS airbags, dan two side airbag baris pertama.

Wuling Cortez 1.8L Lux+ i-AMT. (Septian/Liputan6.com)

Tidak cuma itu, Cortez juga memiliki fitur seatbelt warning. Jika ada penumpang tidak mengenakan seatbelt, posisinya akan terlihat di panel meter dengan menampilkan jok berwarna merah.

Cortez juga dilengkapi fitur fatigue driving warning untuk mengingatkan sopir beristirahat. Fitur ini bisa diatur sesuai lama berkendara yang diinginkan sopir dengan durasi satu hingga empat jam.

Dari kelebihan yang ditawarkan ada beberapa hal yang menurut kami kurang dari mobil ini, yakni material plafon dan tutup sunroof yang kurang kokoh. Lalu bagaimana dengan performa mesinnya?

 

1 dari 4 halaman

Performa

Bicara soal performa, Wuling Cortez yang kami gunakan mengadopsi mesin 1,8 liter berkekuatan 129 tenaga kuda (Tk) dengan torsi 174 Nm. Mesin ini dikawinkan dengan transmisi intelligent-Automated Mechanical Transimission (i-AMT).

Bagi kami, sistem transmisi ini cukup unik karena bisa otomatis dan juga manual. Jadi, Anda harus benar-benar memahami karakter mesinnya alias tidak boleh asal ngegas saja. Bisa dibilang pilihan manual ataupun otomatis tergantung jalan yang dilalui.

Misalkan saat berkendara di jalur mendatar khas perkotaan, mode 'D' (Drive) nyaman untuk digunakan. Tapi untuk akselerasi menggunakan mode ini, jangan harap bisa responsif. Saat di-kick down mobil tidak akan langsung melesat.

Tentu saja ini membuat gregetan saat akan mendahului kendaraan di depan yang berjalan pelan, sementara Anda harus menyalip dengan cepat untuk menghindari kendaraan dari arah berlawanan. Untuk menyiasati Anda bisa mengaktifkan mode berkendara 'S' (Sport).

2 dari 4 halaman

Menguji Kecepatan Tinggi

Saat melalui jalan menanjak seperti di Kawasan Wisata Umbul Sidomukti, Bandungan, Semarang, mode 'D' praktis tak terpakai dan harus menggunakan manual. Saat menggunakan mode manual tenaga mesin terasa lebih responsif dan galak. Tanjakan terjal sekalipun tidak menjadi hambatan sama sekali.

Jalan tol Semarang – Solo menjadi tempat yang tepat untuk menggeber Cortez. Jalan bebas hambatan yang memiliki permukaan jalan cukup baik ini menawarkan tantangan tersendiri karena menanjak dan terpaan angin samping yang cukup kuat.

Di sini, menggeber Cortez dengan kecepatan konstan 150 km/jam, mobil terasa stabil dan mantap. Meski belum teruji daya tahannya, mesin 1,8 liter milik Cortez ini cukup memuaskan.

3 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Sparepart Mobil Tiongkok Lebih Murah Dibanding Brand Jepang?
Artikel Selanjutnya
Wuling Motors Serius Soal Mobil Listrik, Tapi Ada Syaratnya