Sepakbola Italia, Contoh Gamblang Sistem yang Kolaps

Kejayaan juara dunia empat kali Italia sudah runtuh, digerus kegagalan beradaptasi.

Diterbitkan 01 April 2026, 16:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Berdasarkan opini dari:
Pemimpin Redaksi Liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta - ​Pada saat drawing play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa mempertemukan Italia dengan kemungkinan Bosnia atau Wales, beberapa pemain Italia tampak tertawa. Secara tidak langsung, mereka seperti meremehkan Bosnia.

Dalam dramaturgi, itulah gambaran titik krisis yang berakhir klimaks: Italia gagal ke Piala Dunia tiga kali berturut-turut. Italia menjadi satu-satunya juara dunia yang gagal ikut putaran final tiga kali beruntun setelah kalah dari Bosnia di final play-off. Giliran para pemain Bosnia yang kini menertawakan Italia.

​Sepakbola Italia adalah gambaran sebuah sistem yang kolaps. Kegagalan ke Piala Dunia 2026 merupakan hasil pembusukan struktural yang dibiarkan tanpa diagnosis selama dua dekade. Apa yang terjadi pada tim Azzurri adalah degradasi sistemik atau sebuah kondisi di mana energi organisasi habis karena kegagalan beradaptasi dengan hukum alam sepakbola modern.

​Banyak faktor menjadi penyebab kegagalan Italia. Faktor yang paling mencolok tentu erosi kualitas liga domestik (Serie A) yang kini lebih menyerupai teater keluhan daripada arena adu teknis.

Di Serie A, diskursus publik terjebak dalam cultura del sospetto atau budaya kecurigaan yang kronis. Pascapertandingan, energi media dan publik dihabiskan untuk membedah keputusan wasit melalui ribuan tayangan ulang, alih-alih menganalisis struktur taktis atau intensitas permainan. Situasi ini dijelaskan dengan beberapa istilah absurd seperti Marotta League atau voucher penalti.

Sebagai gambaran, ada sebuah akun instagram @erroriarbitrali dengan 101 ribu follower yang selalu membahas kesalahan wasit Serie A dalam setiap postingannya. Dalam setiap unggahan ada puluhan sampai ratusan komentar berisi perdebatan tentang keputusan wasit.

Budaya kecurigaan itu menciptakan tabir asap yang menutupi fakta pahit bahwa Serie A yang pernah begitu berjaya di era 1990-an telah kehilangan daya saing.

Kenyataan itu ditambah lagi dengan problem kedua yaitu infrastruktur sepakbola. Tanpa stadion milik sendiri yang mampu menghasilkan pendapatan mandiri, klub-klub Italia terjebak dalam stadion usang yang membuat mereka tertatih di belakang ekonomi global sepakbola.

Beberapa stadion adalah petilasan Piala Dunia 1990 yang terlalu kuno untuk zaman modern. Rencana Inter dan Milan yang berniat membangun stadion baru sebagai pengganti San Siro misalnya, selalu menjadi perdebatan tanpa ujung.

Problem berikutnya ada pada sistem pembibitan Italia yang seakan mengalami mati suri. Ada ketakutan untuk memberi kepercayaan pada talenta muda lokal.

Para pelatih di Italia, yang tercekik tuntutan hasil instan, lebih memilih pemain asing medioker yang siap pakai daripada mengasah produk Primavera. Pemain muda fenomenal seperti Fransesco Camarda misalnya, tidak pernah bisa menembus posisi inti di AC Milan. Hal serupa Camarda terjadi pada Nicolo Fagioli di Juventus atau Cesare Casadei di Inter.

 

Hilangnya Identitas

Ketimpangan ini diperparah hilangnya identitas taktik pasca Catenaccio. Bayangkan dulu Italia menghasilkan bek-bek sekualitas Gaetano Scirea, Claudio Gentile, Franco Baresi, Paolo Maldini, dan Fabio Cannavaro, kini tidak memiliki center back di level elit dunia.

Italia tidak pernah melakukan apa yang disebut Das Reboot bagi sepakbola Jerman. Das Reboot berupa proyek perombakan total struktur sepak bola Jerman yang dilakukan setelah kegagalan memalukan di Euro 2000.

Italia tidak cuma kehilangan arah setelah era Catenaccio berakhir, juga gagal melahirkan generasi fantasista baru yang dulu menjadi simbol kecerdasan sepakbola mereka.

Kolapsnya sistem ini dipicu keterlambatan Italia merangkul manajemen korporasi global. Selama puluhan tahun, sepakbola Italia bergantung pada patronase keluarga atau para taipan lokal yang mengelola klub sebagai hobi atau alat politik.

Era ini memiliki lambang pengusaha media Silvio Berlusconi di AC Milan, baron minyak Massimo Moratti di Inter Milan, konglomerasi otomotif keluarga Agnelli di Juventus atau mogul industri film Vittorio Cecchi Gori di Fiorentina.

Ketika krisis ekonomi menghantam bisnis utama sang patron, klub pun kehilangan oksigen finansial. Secara bersamaan, pada saat Premier League bertransformasi menjadi industri global dengan standar intensitas fisik yang sangat tinggi, Serie A tetap proteksionis dan lamban.

Dampaknya, secara taktik, Italia mengalami stagnasi ide; mereka tidak lagi mampu memproduksi permainan dengan pressing ketat dan transisi cepat yang kini menjadi standar sepakbola dunia.

​Seperti pernah dikatakan Silvio Berlusconi, sepakbola adalah metafora kehidupan. Kolapsnya sistem sepakbola Italia bisa menjadi pelajaran penting bagi setiap institusi. Negara pun bisa belajar banyak dari kegelapan sepakbola Italia. Pada intinya, sebuah institusi atau negara bisa runtuh jika berhenti berinvestasi pada sumber daya manusia dan lebih sibuk meratapi prosedur birokrasi daripada mengejar substansi kemajuan.

Ketika sebuah bangsa mengabaikan regenerasi anak muda, membiarkan infrastruktur fisiknya usang, dan hanya mengandalkan elitisme lama yang proteksionis, bangsa tersebut sedang berjalan menuju dekadensi yang sunyi namun pasti.

Institusi yang gagal beradaptasi dengan perubahan zaman akan tertinggal. Mereka membiarkan diri stagnan karena takut pada kompetisi global dan sibuk mencari kambing hitam atas kegagalannya sendiri. Pada akhirnya, mereka akan bernasib seperti Azzurri, raksasa yang lumpuh oleh bayang-bayang kejayaan masa lalu.