Tanggap Darurat Penanggulangan Bencana Sumut Belum Maksimal

Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumut mencatat 22.884 pengungsi korban gempa bumi di Pulau Nias. Distribusi bantuan dan kesehatan menemui kesulitan karena warga tinggal di tenda darurat secara terpisah.

Diterbitkan 08 April 2005, 18:05 WIB
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Nias: Masa tanggap darurat penanganan bencana gempa di Pulau Nias, Sumatra Utara, memasuki pekan kedua. Namun, penanganan korban bencana belum maksimal. Masih banyak warga yang belum kembali atau tak memiliki lagi tempat tinggal. Berdasarkan data Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Sumut di Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, hingga Jumat (8/4), tercatat jumlah pengungsi mencapai 22.884 orang.

Para pengungsi di Pulau Nias tidak seperti korban gempa bumi dan Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam. Warga tinggal secara terpisah-pisah atau tidak dikoordinir dalam satu tempat. Ada yang bertahan di reruntuhan bangunan rumah mereka. Ada pula yang tinggal di tenda-tenda darurat. Hal ini juga yang menjadikan distribusi bantuan dan kesehatan sulit. Aparat desa yang diharapkan dapat membantu koordinasi bantuan pun tidak berjalan baik.

Amir Syahrul adalah salah satu pengungsi dari 15 kepala keluarga dari kawasan Gunung Sitoli yang tinggal di tenda darurat itu. Dia tinggal bersama istri dan enam anaknya. Letak tenda darurat Amir tidak jauh dari rumahnya yang telah hancur karena gempa 8,7 skala Richter pada 28 Maret silam. Hampir setiap hari Amir datang ke rumah ini mencari barang-barang yang masih dapat dipergunakan untuk mewujudkan keinginannya membangun kembali rumah.

Amir dan warga lain yang mengalami nasib serupa mengaku telah berpindah beberapa kali ke tempat pengungsian dengan bantuan yang minim. "Kami hendak minta bantuan, kalau bisa dibantu," kata Amir [baca: Kecamatan Gomo Masih Perlu Bantuan].

Dari data Satkorlak PBP Sumut menyebutkan, terdapat 21.720 rumah yang rusak setelah guncangan gempa yang melanda Pulau Nias. Rumah-rumah yang rusak ini baru akan direkonstruksi setelah masa tanggap darurat pascagempa di Pulau Nias berjalan dua pekan.

Di sisi lain, para relawan dan warga tampak membersihkan sebuah masjid di salah satu wilayah di Gunung Sitoli, untuk melaksanakan salat Jumat. Masjid itu menjadi salah satu bangunan yang utuh ketimbang yang lain. Kendati demikian, para jemaah sedikit was-was karena tembok ada yang retak.(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6