Liputan6.com, Cimahi: Proses evakuasi korban longsoran sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Desa Cilimus, Cimahi, Jawa Barat, dihentikan sementara karena hujan deras, Kamis (24/2) sore. Sementara sepanjang hari ini, tim pencari korban menemukan kembali 12 jenazah di bawah timbunan sampah.
Sejumlah alat berat yang dioperasikan untuk mengeruk sampah tak bisa bergerak. Hujan lebat membuat keadaan di lokasi bencana makin rawan. Untuk menghindari hal-hal lebih buruk, akhirnya proses pencarian korban dihentikan.
Namun usaha tim pencari bukan tanpa hasil. Sebagian besar jenazah yang ditemukan hari ini berasal dari satu keluarga. Tujuh dari 12 mayat diketahui sebagai anggota keluarga besar Warsito, warga Kampung Pojok. Temuan makin melengkapi kepedihan keluarga ini. Sebab, sebelumnya tim pencari menemukan 14 mayat kerabat Warsito lainnya, termasuk Warsito, istri, dan lima anak mereka.
Musibah ini, bisa dibilang, nyaris mengubur semua keluarga Warsito. Betapa tidak, hanya dua dari mereka yang selamat. Itupun karena dua minggu sebelum bencana keduanya pindah rumah. Kalau tidak, niscaya keduanya pun menjadi korban.
Sampai berita ini disusun, tim pencari sudah menemukan 63 jenazah. Walau simpang siur, diperkirakan masih ada 80 jenazah lagi yang terkubur di reruntuhan. Laporan sementara menyebutkan guguran sampah menimbun 143 warga dari dua kampung: Kampung Cilimus, Kabupaten Bandung dan Kampung Pojok, Kotamadya Cimahi.
Musibah membuat warga sekitar TPA Leuwigajah sengsara. Selain kehilangan anggota keluarga, mereka juga menderita kerugian materi yang tak sedikit. Sebagian besar rumah mereka ambruk digodam sampah.
Penderitaan warga makin lengkap karena pemerintah seperti tak peduli. Buktinya, sampai empat hari pascamusibah, baru Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab yang datang ke lokasi bencana. Padahal hingga kini ratusan warga masih tinggal di sejumlah gedung sekolah dengan kondisi seadanya. Sementara rencana relokasi masih belum jelas.
Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi membantah pemerintah tak memberikan perhatian lebih kepada bencana longsor sampah di Cimahi. Menurut dia, pemerintah pusat menyerahkan penanganan bencana kepada pemerintah daerah setempat.
Sementara itu, siang tadi, Kepolisian Resor Cimahi telah memanggil Direktur Utama Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung, Awan Gumelar dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Cimahi, Arlina Gumira K. Keduanya dimintai keterangan sehubungan dengan musibah ini.
Kepada polisi, Awan mengaku, memahami penyebab longsor di TPA Leuwigajah. Namun dia tak merinci sebab-sebab itu. Yang terang, menurut Awan, TPA Leuwigajah memang berada di Cimahi namun pengelolaannya ditangani Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung [baca: Pengelolaan TPA Leuwigajah Kurang Koordinasi].
Sebaliknya Arlina tak mau berkomentar banyak seputar musibah yang sudah menewaskan puluhan orang itu. Dia tutup mulut ketika dihadang para wartawan seusai pemeriksaan di Polres Cimahi.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)
Sejumlah alat berat yang dioperasikan untuk mengeruk sampah tak bisa bergerak. Hujan lebat membuat keadaan di lokasi bencana makin rawan. Untuk menghindari hal-hal lebih buruk, akhirnya proses pencarian korban dihentikan.
Namun usaha tim pencari bukan tanpa hasil. Sebagian besar jenazah yang ditemukan hari ini berasal dari satu keluarga. Tujuh dari 12 mayat diketahui sebagai anggota keluarga besar Warsito, warga Kampung Pojok. Temuan makin melengkapi kepedihan keluarga ini. Sebab, sebelumnya tim pencari menemukan 14 mayat kerabat Warsito lainnya, termasuk Warsito, istri, dan lima anak mereka.
Musibah ini, bisa dibilang, nyaris mengubur semua keluarga Warsito. Betapa tidak, hanya dua dari mereka yang selamat. Itupun karena dua minggu sebelum bencana keduanya pindah rumah. Kalau tidak, niscaya keduanya pun menjadi korban.
Sampai berita ini disusun, tim pencari sudah menemukan 63 jenazah. Walau simpang siur, diperkirakan masih ada 80 jenazah lagi yang terkubur di reruntuhan. Laporan sementara menyebutkan guguran sampah menimbun 143 warga dari dua kampung: Kampung Cilimus, Kabupaten Bandung dan Kampung Pojok, Kotamadya Cimahi.
Musibah membuat warga sekitar TPA Leuwigajah sengsara. Selain kehilangan anggota keluarga, mereka juga menderita kerugian materi yang tak sedikit. Sebagian besar rumah mereka ambruk digodam sampah.
Penderitaan warga makin lengkap karena pemerintah seperti tak peduli. Buktinya, sampai empat hari pascamusibah, baru Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab yang datang ke lokasi bencana. Padahal hingga kini ratusan warga masih tinggal di sejumlah gedung sekolah dengan kondisi seadanya. Sementara rencana relokasi masih belum jelas.
Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi membantah pemerintah tak memberikan perhatian lebih kepada bencana longsor sampah di Cimahi. Menurut dia, pemerintah pusat menyerahkan penanganan bencana kepada pemerintah daerah setempat.
Sementara itu, siang tadi, Kepolisian Resor Cimahi telah memanggil Direktur Utama Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung, Awan Gumelar dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Cimahi, Arlina Gumira K. Keduanya dimintai keterangan sehubungan dengan musibah ini.
Kepada polisi, Awan mengaku, memahami penyebab longsor di TPA Leuwigajah. Namun dia tak merinci sebab-sebab itu. Yang terang, menurut Awan, TPA Leuwigajah memang berada di Cimahi namun pengelolaannya ditangani Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung [baca: Pengelolaan TPA Leuwigajah Kurang Koordinasi].
Sebaliknya Arlina tak mau berkomentar banyak seputar musibah yang sudah menewaskan puluhan orang itu. Dia tutup mulut ketika dihadang para wartawan seusai pemeriksaan di Polres Cimahi.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1791827/original/015659300_1512525714-10321102_10205492268656460_4374129301795033883_o.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483882/original/074480700_1769405806-SBY_sakit.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/432992/original/240205cLongsor1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288916/original/039645400_1783343653-AP26187200791478.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5245840/original/052909900_1749414785-cristiano_ronaldo_gol_portugal_spanyol_UNL_090625_ap_matthias_schrader.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288081/original/061472300_1783298244-nor8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9238165/original/069215800_1783129384-mes9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782165/original/058199200_1782878254-carlo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288052/original/043334700_1783289642-000_B9BW8VG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288258/original/062355500_1783308425-eng1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288078/original/014194100_1783298244-nor5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288177/original/067177000_1783307508-000_B9C82QK-Inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288136/original/097177200_1783304121-000_B9BW9YM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8359730/original/054220900_1782235074-063_2282965616.jpg)