Sukses

Rois dan Sogir Melawan Saat Ditangkap

Liputan6.com, Bogor: Peristiwa penangkapan Hasan, Apuy, Rois dan Sogir alias Abdul Fatah pada 5 November silam menggegerkan warga di Kampung Kaum, Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat. Warga benar-benar tidak menyangka tersangka pengebom yang dicari-cari polisi ternyata ada di kampungnya. Demikian komentar warga Kampung Kaum saat ditemui SCTV, baru-baru ini.

Beberapa warga setempat mengaku tidak mengenal mereka karena keempat tersangka jarang keluar rumah. Rois dan kawan-kawannya hanya sesekali mau mengobrol dengan tetangga. Kepada warga, keempatnya mengaku sebagai pedagang sandal di Pasar Leuwiliang. Warga juga mengaku sering berpapasan dengan Rois pada pagi hari. Ketika itu, Rois membawa kantung plastik hitam.

Rois cs sengaja mengontrak di rumah-rumah petakan di perkampungan padat penduduk sebagai tempat bersembunyi agar tidak memancing kecurigaan. Di Kampung Kaum, mereka mengontrak rumah petak milik Kamiluddin sejak 17 Oktober silam seharga Rp 100 ribu per bulan. Untuk mencapai rumah petak dua lantai itu, cukup memasuki sebuah jalan tikus yang langsung menghadap Jalan Raya Leuwiliang. Rumah kontrakan itu akan ditemui setelah berjalan sekitar 100 meter dari mulut gang. Kendati tidak bisa dilalui mobil, gang selebar dua meter ini selalui ramai dilewati warga sekitar.

Yang pertama tinggal di sana adalah Rois dan Apuy. Sepekan kemudian, Sogir menyusul. Rencananya, Rois dan kawan-kawan hendak menempati rumah itu selama tiga bulan. Namun, baru 16 hari menetap, mereka keburu ditangkap.

Proses penangkapan terjadi ketika Tim Cobra Kepolisian Daerah Metro Jaya dan Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri datang ke kontrakan para tersangka. Mereka langsung mengepung rumah itu. Para personel Densus 88 menunggu di pinggir Jalan Raya Leuwiliang, sedangkan personel Tim Cobra berupaya memancing para tersangka keluar.

Menurut penuturan Kamiluddin, Hasan dan Apuy tertangkap lebih dulu. Sedangkan Rois dan Sogir ditangkap anggota Detasemen 88 setelah sempat mencoba kabur ke Jalan Raya Leuwiliang. Saat diringkus, Rois dan Sogir sempat mengeluarkan pistol dari tas pinggang yang juga berisi bom berdaya ledak tinggi. Untuk melumpuhkan keduanya, 12 personel Detasemen 88 turun tangan. Beberapa di antaranya memegangi tangan dan kaki kedua tersangka. Sebagian lagi memotong sabuk tas pinggang berisi bom.

Rois alias Iwan Darmawan alias Hendi alias Agaf diketahui bertugas sebagai perekrut anggota jaringan Doktor Azahari. Rois menuturkan bahwa Sogir adalah pembuat bom yang meledak di Kuningan, setelah mendapat pelatihan dari Azahari. Sedangkan Hasan bertugas membonceng Azahari saat meninggalkan lokasi peledakan di depan Kedubes Australia, 9 September silam. Hasan membawa Azahari ke daerah Cikampek, Jabar. Polisi menduga, bom tersebut dirakit di rumah kontrakan di Perumahan Cikande Permai, Serang, Banten. Sementara dalang Bom Kuningan adalah Doktor Azahari yang juga bertindak sebagai pengawas perakitan bom [baca: Rois Perekrut Jaringan Kelompok Azahari].(OZI/Widiyaningsih dan Erwin Arief)