Kursi Ketua DPR, Ujian buat Koalisi Kebangsaan

Partai Golkar menunjuk Agung Laksono, Mahadi Sinambela, Budi Harsono, Andi Mattalata sebagai calon ketua DPR. Beberapa kandidat independen mulai membayangi dan mengancam langkah mereka.

Diterbitkan 30 September 2004, 14:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Sehari menjelang pemilihan ketua DPR, Koalisi Kebangsaan terus merapatkan barisan. Mereka tak mau gagal lagi, tidak mau kecolongan. Tampaknya, Koalisi Kebangsaan ambisius sekali mengangkangi Parlemen. Mereka sudah pilih-pilih jabatan: ketua DPR untuk Partai Golongan Karya, sedangkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan kebagian kursi ketua MPR.

Golkar tak main-main dengan target itu. Partai beringin, Rabu (29/9) malam, sudah menunjuk jago-jagonya: Agung Laksono, Mahadi Sinambela, Budi Harsono, Andi Mattalata. Untuk memuluskan langkah ketiganya, anggota legislatif terpilih dari Golkar terus berkonsolidasi.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Golkar Theo L. Sambuaga mengatakan, partainya memang mengincar posisi ketua DPR. "Bagi Golkar kesepakatan itu sudah final," tegas Theo [baca: Golkar: Theo Sambuaga Calon Ketua MPR].

Di atas kertas, semua memang bisa diatur. Namun, di lapangan, apa pun bisa terjadi. Pergeseran inilah yang harus dicermati Golkar. Walau Koalisi Kebangsaan sudah sepakat dengan pembagian jatah di atas, tampaknya tetap ada duri dalam daging. Ada yang tak rela.

Beberapa calon independen mulai bermunculan. Sebut saja Arifin Panigoro dan Sutardjo Soerjogoeritno. Keduanya dari PDIP. Bahkan Arifin menegaskan, serius untuk ikut berebut kursi pimpinan Parlemen. Dia yakin Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri sudah mengetahui niatnya untuk memimpin DPR.

Pun demikian tekad Sutardjo. Wakil Ketua DPR periode 1999-2004 ini mengaku sudah didukung partainya untuk maju ke pencalonan ketua DPR. Bahkan dia mengklaim sebagai satu-satunya calon yang akan diusung PDIP.

Apa pun kata mereka, toh semua keputusan ada di tangan Megawati. Menurut Ketua DPP PDIP Roy B.B. Janis, sejauh ini Megawati belum memutuskan apa pun. Masalah ini baru diputuskan setelah Megawati kembali dari Bali.

Ancaman bagi Golkar tak cuma datang dari Arifin dan Sutardjo. Kekuatan dari luar Koalisi Kebangsaan pun patut diperhitungkan. Sekretaris Jenderal DPP Partai Bulan Bintang M.S. Kaban menilai, Koalisi Kebangsaan masih cair. Anggotanya masih bisa dipengaruhi. Jadi, menurut dia, peluang dari fraksi lain masih terbuka.

Dari Partai Kebangkitan Bangsa, misalnya, yang sudah menetapkan Muhaimin Iskandar dan Ali Masykur Musa sebagai calon ketua DPR. Sampai berita ini ditulis, Fraksi PKB terus membangun lobi untuk mengegolkan calonnya.

Ancaman lain datang dari calon yang akan didukung koalisi PBB dan Partai Demokrat. Memang sampai kini, kedua partai belum menetapkan jagonya. Namun upaya mereka serius mengingat Partai Amanat Nasional dan Partai Keadilan Sejahtera memilih netral. Suara dari kedua partai ini tentu layak diperebutkan.

Hitung-hitungan kasar, kandidat dari Koalisi Kebangsaan memang paling berpeluang. Koalisi ini memiliki 320 suara atau lebih dari separuh jumlah kursi di DPR. Sedangkan kekuatan lawan hanya memiliki kursi pas-pasan. Partai Demokrat dengan 56 kursi, PAN (53 kursi), PKS (45 kursi), PKB dengan 52 kursi, PBB (11 kursi) serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia dengan satu kursi. Tapi semua akan terbukti, besok.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6