Mengurai Benang Kusut Macet Jalan Raya Sawangan Depok

Pemkot Depok menyiapkan jalan pintas baru dan moda Transjakarta untuk mengurai kemacetan parah di jalur Sawangan.

Diterbitkan 23 September 2026, 17:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Warga Depok menghadapi kemacetan parah di Jalan Raya Sawangan dan Muchtar.
  • Penyebab kemacetan adalah volume kendaraan tinggi dan ketergantungan pada kendaraan pribadi.
  • Pemkot Depok melebarkan jalan dan mengintegrasikan Transjakarta untuk atasi kemacetan.

Liputan6.com, Jakarta - Bagi warga Depok, melintasi Jalan Raya Sawangan dan Jalan Raya Muchtar saban hari butuh kesabaran ekstra.

Ruas jalan yang menjadi nadi utama pergerakan warga menuju tempat kerja ini hampir selalu diwarnai deretan kendaraan yang mengular. Pada jam-jam sibuk pagi, sore, hingga malam, jarak tempuh terasa merayap lambat hingga puluhan menit, tak jarang memancing emosi para pengendara.

Titik penumpukan kendaraan tersebar di sejumlah persimpangan krusial. Pengendara harus berjuang menembus kemacetan mulai dari simpang Kodim, Parung Bingung, hingga simpang Arco Rangkapan Jaya Baru.

Memasuki Jalan Raya Muchtar, hambatan kembali menanti di simpang batu tugu Sawangan dan persimpangan Pasar Kemiri menuju Jalan Abdul Wahab.

Pemkot Depok kini berupaya membuka jalan keluar. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melebarkan Jalan Raya Pemuda dan Enggram sebagai jalur alternatif pengurai arus lalu lintas.

Progres pengerjaan fisik di kedua ruas jalan tersebut saat ini telah mencapai 65 persen.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok, Aan Syurahman, menjelaskan bahwa pengerjaan proyek jalan ini secara tidak langsung ikut menyumbang antrean kendaraan dalam jangka pendek.

"Terkait kemacetan di Sawangan itu sendiri, dengan adanya pembangunan pasti ada dampaknya. Masyarakat bisa memahami dengan kondisi seperti itu," ujar Aan.

Di lapangan, petugas Dishub bersama Satlantas Polres Metro Depok rutin disiagakan pada jam-jam rawan untuk mengatur lalu lintas. Namun, akar masalahnya juga dipicu oleh tingginya ketergantungan warga pada kendaraan pribadi.

 

Mayoritas Pergerakan ke Jakarta

Berdasarkan data Dishub, sekitar 60 hingga 70 persen pergerakan warga pada pagi dan sore hari bertujuan menuju Jakarta untuk bekerja.

Pada hari kerja, volume kendaraan di simpang Kodim bisa menembus 1.662 unit pada jam sibuk sore. Angka ini sedikit melandai saat akhir pekan, meski kepadatan tetap terlihat di jam-jam tertentu.

Untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi, Pemkot Depok menjajaki kerja sama dengan Dishub DKI Jakarta guna menghadirkan armada Transjakarta yang terintegrasi.

"Kemarin sudah bertemu dengan Dinas Perhubungan DKI, kita akan menambahkan layanan Transjakarta menjadi pilihan moda untuk pergerakan," jelas Aan.

Langkah perluasan jalur dan integrasi transportasi umum ini diharapkan bisa menjadi penawar jangka panjang bagi kemacetan kronis di wilayah Sawangan.

"Jadi ini sebagai bentuk antisipasi (kemacetan) penyediaan pelayanan transportasi publik terintegrasi," tutup Aan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6