Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul Bekali Pelaku Usaha agar Jamu Makin Dikenal

Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul menjadi upaya mengenalkan jamu lebih luas sekaligus membekali pelaku usaha angkringan dengan menu baru.

Diterbitkan 05 September 2026, 14:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Solo - Angkringan selama ini dikenal sebagai tempat makan sekaligus ruang berkumpul masyarakat. ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan bersosialisasi. Karakter tersebut membuat angkringan dinilai memiliki potensi untuk menjadi salah satu ruang yang mendekatkan kembali jamu kepada masyarakat, termasuk generasi muda.

Sebagai wujud komitmen perusahaan dalam melestarikan budaya jamu, PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) mengadakan kegiatan pelatihan meracik jamu dalam rangka mendukung "Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul" di Ballroom Borobudur 2, Novotel Hotel Solo, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti 100 pelaku usaha angkringan di Kota Surakarta dan sekitarnya. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai bahan dan manfaat jamu, cara meracik dan menyajikan jamu Sido Muncul serta penerapan kebersihan dan sanitasi dalam pengelolaan usaha.

Direktur Sido Muncul Maria Reviani Hidayat mengatakan, "Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul" merupakan salah satu program perusahaan menyambut usia ke-75 pada November 2026. Selain memberdayakan pelaku usaha angkringan, program tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan tradisi minum jamu di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.

Menurut Maria, ketersediaan produk jamu di warung maupun toko belum otomatis membuat kebiasaan minum jamu tetap bertahan. Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

"Produk-produk kami sudah dijual dan mudah ditemui di warung maupun toko seperti Tolak Angin atau KukuBima. Tetapi, yang ingin kami dorong bukan hanya soal ketersediaan produk. Kami juga ingin ikut melestarikan budaya minum jamu," ujar Maria dalam sambutannya.

Maria melihat angkringan memiliki kedekatan dengan tradisi masyarakat Indonesia. Kebiasaan duduk bersama sambil menikmati minuman, termasuk jamu, menurut Maria merupakan bagian dari pengalaman sosial yang perlu terus dijaga.

"Kita punya budaya yang bagus, salah satunya tradisi duduk di angkringan sambil minum jamu. Itu merupakan bagian dari kebiasaan masyarakat. Kalau tidak kita pertahankan, lama-kelamaan bisa semakin hilang," katanya.

Dari Yogyakarta, Gerakan Berlanjut ke Surakarta

Kegiatan pelatihan angkringan di Surakarta merupakan kelanjutan dari program serupa yang digelar Sido Muncul di Yogyakarta pada 2025 dengan melibatkan 100 pelaku usaha angkringan. Setelah program berjalan, jumlah angkringan yang bergabung kini telah mencapai 200.

Maria mengatakan, pemilihan Yogyakarta dan Surakarta bukan tanpa alasan. Kedua kota tersebut dinilai memiliki kekayaan budaya yang kuat sehingga relevan dengan upaya memperkenalkan kembali jamu sebagai bagian dari tradisi masyarakat.

"Kita ingin melestarikan minum jamu sebagai budaya Indonesia. Karena itu, Yogyakarta dan Surakarta cocok sekali untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Kita tahu kedua kota ini juga sangat kental dengan budaya," ujarnya.

Bekali Pelaku Usaha Angkringan Meracik Jamu Sido Muncul

Pelatihan tidak hanya memperkenalkan jamu sebagai pilihan menu, tetapi juga memberikan pengetahuan praktis yang dapat diterapkan pelaku angkringan dalam menjalankan usahanya.

Peserta mempelajari bahan dan manfaat jamu, teknik meracik dan menyajikannya, serta pentingnya menjaga kebersihan dan sanitasi.

Maria mengatakan, pelaku angkringan memiliki peluang untuk memperkaya menu dengan minuman yang selama ini dekat dengan budaya masyarakat Indonesia.

"Bapak dan Ibu punya potensi untuk menambah kekayaan menu di angkringan masing-masing. Karena itu, kami ingin berbagi pengetahuan tentang jamu, mulai dari bahan dan manfaatnya hingga cara meraciknya agar enak dan mudah diterima konsumen," tuturnya.

Menurut Maria, pemahaman mengenai kebersihan dan sanitasi juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan usaha kuliner. Hal tersebut diberikan agar pelaku angkringan tidak hanya memiliki tambahan pengetahuan mengenai jamu, tetapi juga dapat menerapkannya dalam proses penyajian.

Selain keterampilan meracik, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan media sosial. Kanal digital dinilai dapat membantu pelaku usaha memperkenalkan menu dan menjangkau konsumen secara lebih luas.

"Di zaman sekarang, media sosial menjadi salah satu sarana untuk promosi dan memperkenalkan usaha. Harapannya, pengetahuan ini bisa membantu Bapak dan Ibu mengembangkan angkringan masing-masing," kata Maria.

Angkringan Bisa Mendekatkan Jamu kepada Generasi Muda

Upaya memperkenalkan jamu melalui angkringan juga mendapat dukungan dari UPF Yankestrad RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Saryanto. Ia mengatakan, angkringan memiliki ruang yang cukup dekat dengan kebiasaan masyarakat, termasuk anak muda yang menjadikannya tempat untuk berkumpul.

"Program angkringan ini suatu modalitas atau ranah yang sangat tepat. Karena sekarang anak muda itu, katakanlah, banyak yang nongkrong atau sedang menjalani gaya hidup sehat," ujar Saryanto.

Ia juga melihat keberadaan jamu di angkringan dapat memberikan pilihan lain bagi pengunjung yang selama ini lebih familiar dengan minuman seperti kopi, teh, atau wedang.

"Saya kira jamu di angkringan ini akan tumbuh dengan baik ketika anak muda mau atau sering berada di angkringan, tetapi dengan ada sesuatu yang berbeda, yaitu jamu," katanya.

Saryanto juga menilai penyajian jamu dapat mengikuti perkembangan gaya hidup masyarakat. Contohnya produk jamu yang lebih praktis karena dapat disajikan tanpa ampas.

"Kalau dulu ada serbuk atau jamu komplit, sekarang sudah dibuat jamu komplit yang larut, jadi tidak ada ampasnya. Ketika diseduh, bentuknya cair atau murni, kemudian bisa dikombinasikan dengan enak," ujar Saryanto. 

 

Pengalaman Pelaku Angkringan Meracik Jamu: Dari Eksperimen Rasa dan Menambah Menu Baru

Pelatihan meracik jamu yang diikuti 100 pelaku usaha angkringan di Solo dan sekitarnya tidak sekadar menjadi kesempatan untuk belajar membuat minuman tradisional. Melainkan juga membuka peluang untuk mengembangkan cara baru dalam menyajikan jamu agar lebih dekat dengan selera generasi muda.

Dalam pelatihan ini, Barista Jamu Profesional Tersertifikasi BNSP Adi Febri Yanto membagikan sejumlah menu racikan jamu yang dapat digunakan pelaku usaha angkringan. Sederet menu racikan jamu yang hadir antara lain Jamu Komplit, Kuku Bima Jahe, Teh Susu Jahe, Es Tealang, Slim Shady, hingga Senja Linu

Salah satu pelaku usaha angkringan di Solo, Deddy Cahyo Handoko mengaku proses pelatihan berjalan lancar dan menyenangkan. Saat demo produk, Deddy mencoba membuat minuman dengan memadukan KukuBima TL dan Alang Sari Plus, ditambah biji selasih serta sedikit madu.

"Pelatihan hari ini lancar dan tidak banyak hambatan. Kemudian juga sangat seru. Untuk hasilnya sendiri, hampir sempurna, 9 per 10," kata Deddy.

Menurut Deddy, perpaduan KukuBima san Alang Sari menjadi salah satu cara untuk mengenalkan jamu kepada anak muda, khususnya mahasiswa yang mungkin belum terbiasa mengonsumsi jamu.

"Mungkin banyak mahasiswa ataupun anak muda yang tidak suka minum jamu, dengan gambarannya jamu itu pahit atau mungkin tidak enak," ujarnya.

Deddy berharap kreasi minuman dapat menjadi pintu masuk agar tradisi jamu tetap dikenal generasi berikutnya.

"Harapan kami ke depannya, tentu saja budaya dan tradisi jamu, terutama di Indonesia ini, tetap berlanjut ke generasi-generasi selanjutnya," katanya.

Pengalaman serupa dirasakan Hariani Yuliana, pelaku usaha angkringan di kawasan Gandean, Jebres. Ia belajar meracik Kunyit Asam Sido Muncul yang dipadukan dengan Alang Sari.

Bagi Hariani, pengalaman tersebut menjadi pengetahuan baru yang dapat diterapkan di angkringannya.

"Insya Allah nanti di angkringan kita coba. Ini baru pertama kali kita bikin, kita praktik. Insya Allah nanti ke angkringan saya. Mudah-mudahan saja sukses," tutur Hariani.

Ia menilai pelatihan bersama Sido Muncul ini mengingatkan pelaku usaha untuk ikut menjaga keberadaan jamu sebagai bagian dari kekayaan rempah Indonesia.

"Kita kan harus melestarikan budaya kita. Kita punya kekayaan rempah-rempah, harusnya kita melestarikan," ujarnya.

Peluang Menambah Pilihan Minuman di Angkringan

Masuknya jamu ke angkringan juga menjadi kesempatan untuk memperkaya pilihan menu sekaligus menambah pengetahuan mengenai cara penyajiannya.

Pelaku usaha angkringan di BTC Solo, Wempy mengapresiasi pelatihan dari Sido Muncul karena dapat memberikan pengetahuan sekaligus membuka peluang bagi angkringannya untuk berkembang. Ia juga melihat program tersebut sejalan dengan upaya mengenalkan kekayaan rempah Indonesia melalui jamu.

"Kita juga mau melestarikan jamu yang sudah lama ada, memperkenalkan kekayaan rempah-rempah kita, karena hasil rempah itu berasal dari Indonesia. Dengan adanya program ini, saya juga sangat setuju karena kita bisa memajukan angkringan," ujarnya.

Melalui kolaborasi dengan pelaku angkringan, Sido Muncul berharap tradisi minum jamu dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat, mengikuti perkembangan zaman, dan lebih mudah diterima oleh pasar yang lebih luas.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelestarian jamu sebagai warisan budaya Indonesia, dengan menjadikan angkringan sebagai salah satu ruang untuk memperkenalkannya kepada konsumen.

Setelah Yogyakarta dan Solo, Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul akan diperluas ke sejumlah kota, seperti Semarang, Surabaya, hingga Jakarta,

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6