Balita Meninggal di Posko Pengungsian Gempa NTT karena Kedinginan

Minimnya persediaan selimut membuat sebagian besar warga Desa Marapokot harus bertahan di tengah dinginnya malam.

Diterbitkan 22 Agustus 2026, 09:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Balita 2 tahun meninggal di pengungsian gempa Flores akibat kondisi buruk.
  • Keterbatasan fasilitas, dingin, dan krisis air bersih memperparah kesehatan korban.
  • Keluarga mendesak pemerintah segera bantu pengungsi dengan fasilitas memadai.

Liputan6.com, Jakarta - Perjuangan hidup seorang anak korban gempa di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, harus berakhir di tengah kondisi dingin di posko pengungsian. Mario Calviano Guru (2), balita asal Nagekeo, meninggal dunia, Kamis (20/8/2026).

Ia sempat bertahan di Posko Pengungsian Bukit Puta pascagempa yang melanda wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026 lalu. Menurut keterangan pihak keluarga, korban sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, nyawa balita tersebut tidak berhasil diselamatkan.

Afik, seorang relawan sekaligus warga setempat, membenarkan informasi duka tersebut. Ia menyebut Calviano merupakan salah satu anak yang bertahan bersama keluarganya di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian.

Selama berada di sana, kondisi kesehatan korban terus menurun. Ia menyebut kondisi di pengungsian serba terbatas.

Minimnya persediaan selimut membuat sebagian besar warga Desa Marapokot harus bertahan di tengah dinginnya malam. Situasi ini semakin diperparah dengan krisis air bersih.

"Anak ini jatuh sakit, sempat dirawat, tapi akhirnya meninggal dunia," kata Afik.

Melawan Dingin

Relawan Posko Askar Kauny itu mendapatkan kabar duka mengenai kepergian Calviano melalui koordinator pengungsian. Kondisi serba darurat serta trauma akibat gempa susulan yang terus terjadi membuat pihak keluarga dan pengungsi diliputi kecemasan mendalam.

"Saat ini ada banyak penyintas lain yang harus bertahan menghadapi dingin, keterbatasan tempat tinggal, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lainnya," tukasnya.

Sebelum meninggal dunia, Calviano sempat dilarikan ke RS Aeramo, kemudian dirujuk ke RS Bajawa akibat demam tinggi. Menurut keluarga, demam tersebut menyebabkan tubuhnya kaku dan mengalami kejang.

"Anak ini sebelumnya sehat dan sangat segar. Ia sakit karena terpapar dingin di pengungsian. Itulah yang membuat saya sangat terpukul," ujar Jack, salah satu anggota keluarga korban.

Jack mendesak pemerintah agar segera bertindak untuk menangani kondisi para pengungsi yang saat ini bertahan tanpa tenda maupun fasilitas yang memadai.

"Kami mohon bantuan segera. Ini situasi yang serius. Korban meninggal baru berusia dua tahun. Ia jatuh sakit hanya karena kondisi keterbatasan di atas bukit, tanpa kelambu dan tanpa tenda. Sebagai keluarga, saya berbicara dengan duka yang mendalam atas kepergian keponakan saya ini," pungkasnya.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6