Warga Teriak Saat Mobil Bupati Lampung Selatan Terjebak Jalan Rusak, 'Jangan Janji Saja'

Bupati Egi mengaku tak menyangka jalanan di Lampung Selatan rusak separah itu.

Diterbitkan 11 Agustus 2026, 12:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mobil dinas Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama harus melaju perlahan bahkan sempat terjebak saat melewati ruas jalan rusak parah di wilayah Desa Helau, Desa Baru Ranji, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan.

Kondisi jalan yang dipenuhi batu dan lubang tersebut terekam dalam video amatir yang kemudian viral di media sosial. Dalam video yang beredar, mobil berwarna hitam dengan pelat nomor merah tampak dikawal sejumlah petugas saat melintasi jalan yang kondisinya memprihatinkan.

Kontras antara mobil dinas yang ditumpangi bupati dengan kondisi jalan yang setiap hari digunakan warga menjadi sorotan dalam rekaman tersebut.

Seorang perempuan yang merekam video itu bahkan menyampaikan keluhan secara langsung kepada Egi.

"Pak, mohon perhatiannya. Tolong jalan diperbaiki, Pak. Sudah lama. Katanya terakhir sentuhan renovasi itu 2007, Pak," ujar perempuan tersebut.

Ia juga meminta bupati merasakan langsung sulitnya warga melintasi jalan tersebut.

"Kan Bapak aja ngeri, Pak? Mobil bagus, Pak," katanya.

Keluhan warga tidak hanya mengenai kondisi jalan yang rusak. Perempuan tersebut menyebut kerusakan telah mengganggu aktivitas masyarakat.

Bahkan, menurut dia, sejumlah warga pernah mengalami kecelakaan hingga pingsan akibat kondisi jalan yang buruk.

"Sudah benar-benar, Pak, korbannya. Sampai ada yang pingsan. Di atas lebih parah lagi, Pak. Tolong Pak, jangan janji-janji saja. Susah sekali kami di sini, Pak," ujarnya.

Dalam video, Egi terlihat membuka kaca jendela mobil dan mendengarkan keluhan warga secara langsung.

Peristiwa tersebut terjadi ketika Egi melakukan monitoring di Desa Helau, Desa Baru Ranji, Kecamatan Merbau Mataram, Sabtu (8/8/2026).

Ruas jalan itu menjadi akses bagi masyarakat Desa Tanjung Baru dan Desa Baru Ranji.

 

Jalanan Lampung Selatan 30% Rusak, 70% Sangat Rusak

Egi membenarkan dirinya melintasi ruas jalan tersebut saat melakukan kunjungan lapangan. Ia mengatakan, berdasarkan informasi dari masyarakat, jalan tersebut terakhir mendapat perbaikan pada 2007.

Menurut Egi, perbaikan ruas jalan itu sebenarnya telah masuk dalam perencanaan pemerintah daerah pada 2026.

"Bismillah, akhir tahun ini ada perbaikan," kata Egi.

Ia mengakui persoalan infrastruktur jalan menjadi salah satu pekerjaan besar yang harus diselesaikan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.

Menurutnya, kondisi jalan di wilayah Lampung Selatan sangat beragam. Sementara itu, kemampuan anggaran daerah terbatas sehingga pemerintah harus menentukan ruas yang menjadi prioritas.

"Jalan di Lampung Selatan 30 persen rusak, 70 persen rusak banget," sebutnya.

Egi juga mengaku baru mengetahui tingkat kerusakan jalan tersebut setelah melihatnya secara langsung.

"Kalau saya enggak ke sini, saya enggak ngerti, Bu, kalau jalanannya separah itu," katanya.

"Saya ampunan pisan. Kalau memang belum ada sentuhan di sini, pikiran saya enggak separah ini. Saya enggak tahu, betul. Karena saya enggak pernah dapat laporan dari lapangan," sambungnya.

 

 

Tegur Camat Cuma Buat Laporan Tertulis

Dia bahkan mengaku menegur camat setempat lantaran tidak mendapatkan laporan yang menggambarkan kondisi jalan secara konkret.

"Makanya tadi saya tegur camat, saya marah betul, karena saya enggak tahu separah itu jalanannya. Jadi Pak Camat, kalau kirim laporan, kirim video, kirim foto," bebernya.

Ia meminta laporan mengenai kerusakan infrastruktur tidak hanya disampaikan secara tertulis. Dokumentasi berupa foto dan video dinilai penting agar pemerintah daerah dapat melihat kondisi sebenarnya di lapangan.

"Kalau perlu, kalau pas ada masyarakatnya jatuh, kirim foto, gitu loh. Jadi saya ngerti kalau situasinya jalanannya benar-benar parah," jelasnya.

Radityo menjelaskan luas wilayah Lampung Selatan membuat kebutuhan pembangunan infrastruktur sangat besar. Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah tidak dapat memperbaiki seluruh ruas jalan secara bersamaan.

"Karena gini, mungkin kalau belum kebagian, karena Lampung Selatan kan luas, cuma duitnya terbatas. Jadi harus pintar-pintar saya membagi jatah," ujarnya.

Ia mengibaratkan pengalokasian anggaran pembangunan seperti mengatur kebutuhan rumah tangga dengan penghasilan yang terbatas.

"Kayak di dapur rumah Bapak-Ibu. Kebutuhannya banyak, uang dapurnya terbatas. Kan harus pintar-pintar membagi," kata Egi.

Meski demikian, ia memastikan ruas jalan yang dilintasinya tersebut telah masuk dalam perencanaan perbaikan pemerintah daerah.

Pemkab Lampung Selatan juga akan memetakan sejumlah titik jalan yang dinilai paling mendesak untuk segera ditangani.

Kini, warga yang selama bertahun-tahun menggunakan jalan rusak tersebut harus menunggu realisasi perbaikan yang dijanjikan pemerintah pada akhir 2026.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6