Tinggal Nestapa di Gang Sempit, Anak Sayuti Melik Kenang Main Gundu Bareng Megawati

Meski penglihatannya memudar, Heru Baskoro masih menyimpan kenangan tentang Sayuti Melik, Bung Karno, dan masa kecilnya bermain gundu bersama Megawati.

Diterbitkan 15 Juli 2026, 09:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sorot matanya tak lagi mampu menangkap wajah orang di depannya. Ucapan yang keluar pun harus diucapkan perlahan, diselingi jeda yang cukup panjang. Namun ketika nama ayahnya, Sayuti Melik, disebut, ingatan Heru Baskoro seperti kembali membuka lembaran-lembaran lama.

Di sebuah kontrakan sederhana yang telah ditempatinya selama empat bulan terakhir bersama sang istri, Treyzia Noviani, Heru mulai bercerita.

Sesekali ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya. Di sampingnya, Treyzia membantu mengingatkan potongan-potongan kisah yang mulai memudar dimakan usia dan penyakit.

Kenangan pertama yang muncul bukan tentang Proklamasi Kemerdekaan atau sejarah besar yang melibatkan sang ayah. Heru justru lebih dulu mengingat bagaimana Sayuti Melik mendidik anak-anaknya di rumah.

“Bapak Sayuti itu orangnya apa disiplin terlalu keras harus mengikuti aturan,” kata Heru kepada Liputan6.com, Senin (13/7/2026).

“Bapak kita pesan aja supaya mengikuti peraturan yang baik dan tidak melanggar peraturan,” sambungnya.

Bagi Heru, disiplin menjadi pelajaran yang paling membekas dari sosok ayahnya. Ketegasan Sayuti Melik tidak hanya terlihat dalam perjuangannya untuk bangsa, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari sebagai kepala keluarga.

 

 

Di balik sosok yang dikenal sebagai pengetik naskah Proklamasi, Heru mengenang ayahnya sebagai pribadi yang sederhana dan gemar bermain catur.

Kegemaran itu rupanya menurun kepada dirinya.

“Saya itu ingatnya cuma karena beliau suka main catur, jadi saya ikut pintar main catur,” katanya sambil tersenyum tipis.

Cerita demi cerita terus mengalir.

Di masa kecilnya, Heru tumbuh di lingkungan yang akrab dengan keluarga Presiden pertama RI, Soekarno. Salah satu teman bermainnya adalah putri Bung Karno yang kelak menjadi Presiden ke-5, Megawati Soekarnoputri.

“Teman kecilnya justru Ibu Megawati itu adalah sama-sama suka main gundu,” ujar Treyzia.

Main gundu menjadi permainan yang mempertemukan anak-anak para tokoh bangsa saat itu. Bagi Heru, itu hanyalah bagian dari masa kecil yang dijalaninya tanpa pernah membayangkan bahwa teman bermainnya kelak akan memimpin Indonesia.

Namun waktu berjalan begitu cepat.

Hingga kini, Heru belum pernah lagi bertemu dengan Megawati. Treyzia mengaku beberapa kali berusaha mencari kesempatan untuk mempertemukan keduanya, tetapi belum berhasil.

Hubungan Bung Karno dan Sayuti Melik, Bukan Sekedar Juru Ketik

Selain mengingat masa kecilnya, Heru juga masih mengingat kedekatan Sayuti Melik dengan Presiden Soekarno.

Menurutnya, hubungan keduanya bukan sekadar hubungan antara pemimpin dan pembantu. Sayuti Melik kerap menjadi teman berdiskusi sekaligus orang yang memahami cara berpikir Bung Karno.

“Pak Sayuti ngomong A, Bung Karno ngomong A. Dia sudah menerjemahkan maksudnya,” ujar Heru.

Bagi Heru, kedekatan itu bukan sesuatu yang istimewa ketika masih kecil. Baru setelah dewasa ia menyadari bahwa sang ayah memiliki peran penting di sekitar Bung Karno, termasuk menyiapkan berbagai kebutuhan ketika Presiden hendak berpidato di berbagai daerah.

Kini, kenangan-kenangan itu menjadi salah satu yang masih tersisa di tengah kondisi kesehatan Heru yang terus menurun.

Pria berusia 84 tahun itu mengalami gangguan penglihatan sejak 2016. Kini, menurut pengakuannya, hanya mata kirinya yang masih dapat melihat.

“Yang lihat cuma mata kiri, kanan nggak melihat,” ucapnya.

Selain gangguan mata, Heru juga menderita diabetes yang memengaruhi fungsi saraf hingga mulai muncul gejala demensia.

Di tengah keterbatasan itu, Treyzia setia mendampinginya.

 

Harta Habis Demi Berobat Mata

Perempuan yang merupakan cucu Haji Agus Salim itu bercerita, sebelum sakit Heru pernah bekerja sebagai Direktur Keuangan Trans Bakrie. Setelah itu ia berkarier di perusahaan minyak di Texas, Amerika Serikat.

Pasangan ini kemudian menetap cukup lama di Kanada karena mempertimbangkan sistem layanan kesehatan di negara tersebut.

“Eh akhirnya jadi tertarik karena kesehatan terjamin. Kita pikir, sudah deh kita di sini saja,” kata Treyzia.

Namun perjalanan mereka berubah ketika Heru mengalami gangguan mata.

Rumah keluarga di Indonesia akhirnya dijual untuk membiayai pengobatan. Pada 2021, Heru menjalani transplantasi kornea donor di salah satu rumah sakit mata terkemuka menggunakan biaya pribadi. Sayangnya, operasi tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.

“Jadi kita sudah habis-habisan. Rumah dijual untuk berobat mata suami. Begitu balik lagi ke Kanada, reimburse-nya tidak diturunkan,” tutur Treyzia.

Kini, pasangan itu tinggal di sebuah kontrakan sederhana di Bekasi sambil menunggu harapan agar Heru dapat kembali menjalani operasi menggunakan kornea buatan di Kanada.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6