Eks Pejabat PBB Ungkap Langkah Menyelamatkan WNI yang Ditangkap Israel

Makarim Wibisono mendorong pemerintah Indonesia memanfaatkan posisinya sebagai Ketua Dewan HAM PBB untuk mendesak pembebasan WNI.

Diterbitkan 21 Mei 2026, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2005, Prof Makarim Wibisono, menyampaikan sejumlah saran kepada pemerintah Indonesia terkait upaya penyelamatan Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditangkap Israel saat berada di kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla.

Menurut dia, Indonesia sebagai ketua Dewan HAM PBB saat ini bisa mendesak warga negaranya, termasuk yang berprofesi sebgai pewarta dan pihak lain yang juga ditangkap untuk segera dibebaskan.

“Pertama gunakan kekuasaan kita sebagai Ketua Dewan HAM. Kedua, gunakan perwakilan kita untuk raise isu ini mengenai keselamatan wartawan-wartawan di daerah peperangan yang terjadi di Dewan Keamanan,” kata Prof Makarim saat Kelas Jurnalis HAM, Bandung, seperti dikutip Kamis (21/5/2026). 

Dia menambahkan, upaya yang dapat dilakukan Indonesia juga dengan membawa tindakan penculikan kapal beserta awaknya itu ke pengacilan internasional seperti International Criminal Court (ICC) dan International Court Justice (ICJ)

“Kalau kita merasa bahwa hak warga negara kita itu dirampas oleh negara lain, kita bisa mengajukan itu kepada International Court of Justice,” ungkap Prof Makarim. 

“Kalau International Criminal Court (ICC), itu kalau dianggap bahwa apa-apa yang dilakukan oleh negara lain itu melanggar tindak pidana secara kriminal pada warga-warga negara kita, itu bisa diajukan hal itu,” imbuh dia. 

Prof Makarim yakin, banyak hal bisa dilakukan untuk membebaskan mereka. Dia berharap, Menteri Luar Negeri sebagai representasi presiden bisa mendorong hal tersebut.

“Menteri Luar Negeri itu kan alat daripada Presiden ya. Jadi dia itu begitu dikasih (arahan), dia bergerak dalam waktu singkat, dia akan bergerak,” kata dia.

Daftar 5 WNI yang Ditangkap Tentara Israel

Sebelumnya, lima warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan ditangkap Israel saat berupaya menembus blokade Gaza melalui misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Dari lima WNI tersebut, empat di antaranya merupakan jurnalis dari media nasional.

Steering Committee Global Sumud Flotilla asal Indonesia, Maimon Herawati mengatakan, lima WNI yang ditangkap terdiri dari Toudy Badai Rifan dan Bambang Noroyono alias Abeng dari Republika, Rahendro Herubowo dari iNews, Andre Prasetyo dari Tempo, serta seorang relawan Rumah Zakat bernama Angga.

“Jadi jumlah yang terkonfirmasi saat ini diculik oleh Israel lima orang, yaitu empat wartawan, Toudy dan Abeng dari Republika, Heru dari I-News, dan Andre dari Tempo. Lalu relawan kami dari Rumah Zakat, yaitu Angga,” ujar Maimon dalam pernyataan video yang diterima Liputan6.com.

Meski demikian, Maimon menyebut kondisi para WNI tersebut diduga masih aman berdasarkan video yang dirilis Kementerian Luar Negeri Israel. Namun hingga kini, pihaknya belum dapat berkomunikasi langsung dengan para WNI yang ditangkap.

“Jika melihat dari video yang dikeluarkan oleh Kemenlu Israel, kondisi teman-teman sepertinya aman. Tapi kami belum bisa menghubungi satupun di atas kapal yang sudah dikonfirmasi dibajak,” tuturnya.

Maimon juga membantah kabar bahwa kapal yang membawa WNI terkena penembakan. Menurutnya, insiden penembakan terjadi di kapal lain yang tidak ditumpangi warga Indonesia.

Diduga Dibawa ke Pelabuhan Asdod

Dia menduga para WNI kemungkinan dibawa ke Pelabuhan Asdod, Israel, atau ke Siprus sebagaimana insiden serupa sebelumnya. Jika itu terjadi, komunikasi dengan para relawan dan jurnalis kemungkinan akan difasilitasi melalui tim pengacara.

Sementara itu, empat WNI lainnya dipastikan masih melanjutkan pelayaran menuju Gaza menggunakan dua kapal berbeda.

“Masih ada dua kapal yang berlayar yang membawa warga negara Indonesia, yaitu kapal Kastri Sadabad dan kapal Zephyro. Di kapal Zephyro ada Ronggo dan Herman, sedangkan di kapal Kastri Sadabad ada As’ad dan Hendro,” kata Maimon.

Global Sumud Flotilla (GSF) sendiri merupakan koalisi kemanusiaan maritim internasional yang terdiri dari jaringan masyarakat sipil berbagai negara. Misi mereka adalah mengirim bantuan pangan dan obat-obatan untuk menembus blokade laut Israel di Gaza.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6