Dari Lebanon untuk Ayah: Panggilan Terakhir Kapten Zulmi

Berjarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Lebanon, suara Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar masih sempat menjangkau ayahnya hangat.

Diterbitkan 01 April 2026, 23:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pagi itu, sebuah panggilan sederhana menjadi kenangan terakhir yang kini tak tergantikan. Di tengah jarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Lebanon, suara Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar masih sempat menjangkau ayahnya hangat, penuh perhatian, dan tanpa firasat bahwa itu akan menjadi percakapan terakhir.

Iskandarudin, sang ayah, mengingat momen itu dengan suara bergetar. Hari Senin pagi, hanya beberapa jam sebelum ledakan proyektil merenggut nyawa putranya dalam misi perdamaian PBB, Zulmi menghubunginya melalui WhatsApp. Percakapan itu tak panjang, namun sarat makna.

"Senin pagi dia telepon WA. 'Assalamualaikum, Pah. Rencana hari ini mau ke mana?'. Dia bilang 'Nanti Papa kalau berangkat jangan sendirian' karena mungkin mengingat umur ya, dia juga berpesan 'Papa sudah tua, bawa teman atau gantian sopir'," kenang Iskandarudin dengan nada bergetar saat ditemui di rumah duka di Cimahi, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026), seperti dilansir dari Antara.

Perhatian itu kini terasa semakin dalam, seolah menjadi pesan perpisahan yang tak pernah disadari. Bagi Iskandarudin, Zulmi bukan hanya seorang anak, tetapi juga sosok prajurit yang ia banggakan sepenuh hati.

Sebagai seorang pensiunan anggota TNI, Iskandarudin memahami betul kerasnya kehidupan militer. Namun, ia melihat sesuatu yang lebih dalam pada diri putranya: ketekunan, kepemimpinan, dan masa depan yang menjanjikan.

"Karena saya merasa dari bawah selama berkarir jadi anggota saya belum pernah menduduki jabatan karena memang dari golongan terendah, karenanya saya sampaikan kepada dia: 'Jadilah pemimpin yang baik, yang dikenal oleh anggota'," tuturnya.

Zulmi menapaki jalan itu. Ia tumbuh menjadi perwira yang dipercaya memimpin, sosok yang tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga mengemban tanggung jawab dengan penuh dedikasi. Namun takdir berkata lain.

 

Kepergian Menyayat Hati

Kepergiannya terasa semakin menyayat karena waktu seolah tinggal menghitung hari. Ia dijadwalkan menyelesaikan misi internasionalnya dan kembali ke Tanah Air pada 30 Mei 2026. Sebuah kepulangan yang kini tak lagi dalam bentuk pelukan, melainkan dalam sunyi peti jenazah.

Rencana masa depan pun telah disusun. Sepulang dari Lebanon, Zulmi akan melanjutkan pendidikan untuk menempati jabatan baru, langkah berikutnya dalam karier yang terus menanjak. Semua itu kini tinggal harapan yang tak sempat terwujud.

Di rumah duka di Cimahi, keluarga bersiap menyambut kepulangan yang berbeda. Bukan lagi langkah kaki yang dinanti, melainkan iring-iringan penghormatan terakhir.

"Di situ nanti kita akan shalatkan, kita bawa ke makam pahlawan," ujar Iskandarudin menutup pembicaraan.

Di balik kesedihan yang mendalam, keluarga memilih keikhlasan. Iskandarudin meyakini bahwa putranya gugur dalam kemuliaan, menjalankan tugas negara sebagai penjaga perdamaian dunia.

 

Jadi Duka Keluarga dan Bangsa

Peristiwa ini bukan hanya duka bagi satu keluarga, tetapi juga bagi bangsa. Zulmi adalah satu dari tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) pada Maret 2026.

Berdasarkan data TNI, mereka yang gugur adalah Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kapten (inf) Zulmi Aditya Iskandar.

Farizal meninggal akibat serangan artileri tidak langsung di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, Minggu, 29 maret 2026. Sedangkan Nur Ichwan dan Zulmi meninggal akibat ledakan kendaraan di dekat Bani Haiyyan, Senin, 30 Maret 2026.

Kini, yang tersisa adalah kenangan, tentang panggilan terakhir, tentang pesan sederhana seorang anak kepada ayahnya, dan tentang pengabdian yang berujung pengorbanan. Sebuah kisah sunyi dari garis depan perdamaian dunia, yang selamanya hidup dalam ingatan mereka yang ditinggalkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6