Pemerintah Sasar Efisiensi Anggaran bagi ASN, Rekrutmen Pegawai Baru akan Disesuaikan

Pemerintah mengkaji dampak kebijakan efisiensi anggaran terhadap aparatur sipil negara (ASN).

Diterbitkan 17 Maret 2026, 15:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pemerintah kaji efisiensi anggaran ASN, termasuk penyesuaian rekrutmen pegawai baru.
  • Jumlah ASN terdampak belum pasti, dibahas untuk jaga keseimbangan fiskal negara.
  • Efisiensi anggaran respons ketidakpastian global dan konflik geopolitik dunia.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah tengah mengkaji dampak kebijakan efisiensi anggaran terhadap aparatur sipil negara (ASN), termasuk potensi penyesuaian dalam rekrutmen pegawai baru.

Menanggapi pertanyaan mengenai jumlah ASN yang terdampak, Prasetyo menegaskan hingga saat ini pemerintah belum dapat menyampaikan angka pasti. Namun, isu tersebut telah dibahas dalam konteks menjaga keseimbangan fiskal negara.

"Dibahas itu sebagai salah satunya. Maka tadi saya sampaikan bahwa kalau pertanyaan jumlah kita belum siang ini belum bisa menyampaikan jumlah secara pasti," kata Mensesneg seusai menghadiri Rapat Koordinasi Program Strategis Presiden di Gedung Kemenhan, Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa setiap tahun secara alami terdapat ASN yang memasuki masa pensiun, sehingga pemerintah mempertimbangkan untuk menyesuaikan jumlah rekrutmen ASN baru dengan jumlah pegawai yang pensiun, sebagai bagian dari strategi pengendalian anggaran.

“Berkenaan dengan fiskal, sebenarnya setiap tahun memang secara alami ada sejumlah ASN yang memang memasuki batas usia pensiun,” ujarnya.

Prasetyo menambahkan kebijakan tersebut tetap diarahkan untuk memastikan keberlanjutan program-program prioritas pemerintah, sehingga kebutuhan tenaga kerja di sektor strategis tetap dapat terpenuhi secara optimal.

Imbas Perang di Timur Tengah

Pemerintah mengambil langkah efisiensi anggaran sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik perang yang masih berlangsung di berbagai kawasan.

Situasi geopolitik tersebut memicu tekanan terhadap perekonomian dunia, mulai dari fluktuasi harga energi dan pangan hingga terganggunya rantai pasok internasional.

Sejumlah konflik, seperti perang antara Rusia dan Ukraina serta ketegangan di kawasan Timur Tengah, telah memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global.

Kondisi ini turut mempengaruhi berbagai indikator makroekonomi, termasuk inflasi, nilai tukar, dan harga komoditas strategis.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6