Update Korban Banjir Bandar Lampung: 3 Warga Hanyut, 1 Orang Ditemukan Tewas

Satu korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Diterbitkan 06 Maret 2026, 21:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Bandar Lampung menelan korban jiwa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung mencatat tiga warga dilaporkan hanyut terseret arus saat banjir terjadi pada Jumat (6/3/2026).

Humas BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, mengatakan satu korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Korban yang ditemukan merupakan seorang laki-laki dewasa.

“Benar, kami menerima laporan ada tiga warga yang hanyut akibat banjir di Kota Bandar Lampung. Satu orang sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,” kata Wahyu, Jumat (6/3/2026).

Namun, saat ditemukan korban tidak membawa identitas sehingga belum diketahui identitas lengkapnya.

Wahyu menjelaskan, dua korban lainnya yang masih dalam pencarian merupakan anak-anak. Salah satunya diketahui berinisial SA berusia 10 tahun, sementara satu korban lainnya berusia sekitar 6 tahun.

“Korban yang ditemukan tidak membawa identitas. Sementara dua korban lainnya yang masih dicari merupakan anak-anak, yakni SA usia 10 tahun dan satu anak berusia sekitar enam tahun,” jelasnya.

Saat ini tim gabungan masih melakukan pencarian dengan menyisir sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi hanyutnya para korban. Proses pencarian melibatkan tim gabungan dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, serta unsur relawan dan masyarakat setempat.

“Tim gabungan masih terus melakukan penyisiran untuk mencari dua korban yang belum ditemukan,” ujar Wahyu.

Hujan Disertai Angin Kencang Landa Lampung

Hujan berintensitas lebat yang disertai angin kencang melanda Kota Bandar Lampung pada Jumat (6/3/2026) siang hingga sore hari. Cuaca ekstrem tersebut memicu banjir dan genangan di sejumlah titik wilayah kota.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II Lampung Selatan, Nanang Buchori mengatakan hujan terjadi sekitar pukul 14.00 hingga 16.00 WIB dengan intensitas tinggi dalam durasi relatif singkat.

“Curah hujan yang tinggi menyebabkan kapasitas drainase di beberapa wilayah tidak mampu menampung aliran air secara optimal sehingga terjadi limpasan yang memicu genangan,” kata Nanang.

Akibatnya, sejumlah kawasan permukiman dan ruas jalan di Bandar Lampung terendam air dengan ketinggian bervariasi.

"Berdasarkan laporan sementara di lapangan, ketinggian air di beberapa titik mencapai selutut orang dewasa hingga setinggi knalpot sepeda motor. Bahkan di beberapa permukiman, air dilaporkan masuk ke dalam rumah warga," ungkap dia.

Kondisi tersebut juga berdampak pada aktivitas transportasi. Sejumlah ruas jalan utama mengalami genangan cukup tinggi sehingga arus lalu lintas terpaksa dialihkan.

 

38 Titik Banjir

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung mencatat sedikitnya 38 titik banjir yang tersebar di sejumlah wilayah Kota Bandar Lampung.

Humas BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, mengatakan banjir dilaporkan terjadi di 10 kecamatan dengan mayoritas titik berada di kawasan permukiman padat penduduk.

“Dari data laporan yang kami himpun hari ini, terdapat 38 titik banjir yang tersebar di 10 kecamatan di Kota Bandar Lampung,” kata Wahyu.

Dia menjelaskan sebagian besar genangan terjadi di kawasan perumahan dan lingkungan padat penduduk sehingga air dengan cepat meluap ke jalan maupun rumah warga.

Adapun 10 kecamatan yang dilaporkan terdampak banjir meliputi Way Halim, Rajabasa, Tanjung Karang Pusat, Tanjung Karang Timur, Sukarame, Sukabumi, Kedamaian, Tanjung Karang Barat, Enggal, dan Tanjung Seneng.

 

Dipicu Dinamika Atmosfer dan Kondisi Laut

Dia menjelaskan, hujan lebat yang terjadi di Bandar Lampung dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor dinamika atmosfer dan kondisi laut yang mendukung pembentukan awan hujan secara intensif.

"Salah satunya adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sedang aktif di wilayah Lampung sehingga meningkatkan suplai uap air di atmosfer. Kondisi tersebut diperkuat oleh adanya pola konvergensi angin tepat di atas wilayah Lampung yang memicu pertumbuhan awan konvektif secara signifikan," bebernya.

Selain itu, lanjut Nanang, anomali suhu muka laut yang lebih hangat di perairan timur Lampung turut meningkatkan proses penguapan sehingga memperkaya kandungan uap air di udara.

"Pengamatan radar cuaca BMKG juga mencatat nilai reflektivitas awan mencapai 55 dBZ pada pukul 14.05 WIB, yang menandakan adanya sel awan konvektif dengan intensitas hujan lebat. Suhu puncak awan tercatat hingga minus 68,3 derajat Celsius yang menunjukkan pertumbuhan awan hujan sangat tinggi dan tebal.Aktivitas badai guntur juga terdeteksi cukup aktif, dengan sekitar 60 kejadian petir tercatat pada periode pukul 14.20 hingga 15.55 WIB," terang dia.

Nanang menambahkan, sejumlah alat pemantau cuaca di Lampung mencatat curah hujan cukup tinggi saat kejadian tersebut. Di antaranya:

1. AWS Kampus ITERA: 161,8 mm2. ARG KPH Tahura: 72,8 mm3. AWS Stasiun Klimatologi Lampung: 51,6 mm4. ARG Bergen: 41,2 mm5. AWS Digi Stamet Lampung: 39,0 mm6. ARG Taman Bogo: 36,2 mm7. ARG Sukadana: 34,0 mm

Dia menyebut, potensi hujan lebat sebenarnya telah terdeteksi sejak sehari sebelumnya melalui peringatan dini cuaca tiga harian yang dirilis pada 5 Maret 2026.

Peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Bandar Lampung mulai diberlakukan pada Jumat sekitar pukul 13.30 WIB. Seiring meningkatnya intensitas hujan dan dampak di lapangan, status peringatan banjir kemudian ditingkatkan secara bertahap, mulai dari Waspada pada pukul 14.20 WIB, Siaga pukul 15.10 WIB, hingga Awas pada pukul 15.20 WIB.

"Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, maupun angin kencang yang dapat terjadi saat hujan lebat. Masyarakat juga diminta terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini yang disampaikan BMKG melalui kanal resmi agar dapat mengantisipasi dampak cuaca ekstrem," tandasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6