Menlu Malaysia Kecam Serangan Israel ke Iran: Dunia Tidak Perlu Perang Baru

Menurutnya, serangan tersebut jelas melanggar prinsip hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa, resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB.

Diterbitkan 01 Maret 2026, 00:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Malaysia mengecam keras serangan Israel ke Iran, menyerukan penghentian segera dan perundingan.
  • Serangan ini melanggar hukum internasional, kedaulatan negara, serta mengancam stabilitas regional.
  • Kemlu RI imbau WNI di Iran waspada; serangan terjadi di tengah perundingan nuklir AS-Iran.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengatakan Malaysia mengecam keras serangan Israel ke Iran, dan menyatakan dunia saat ini tidak memerlukan perang baru.

"Tindakan agresif ini hanya akan menambah penderitaan rakyat yang tidak bersalah dan membuka peluang terjadinya konflik yang lebih luas. Dunia saat ini tidak membutuhkan perang baru," kata Mohamad Hasan dalam keterangannya, Sabtu (28/2).

Hasan mengatakan tindakan serangan itu sangat mengkhawatirkan dan berisiko memicu ketegangan yang lebih besar di kawasan tersebut.

Menurutnya, serangan tersebut jelas melanggar prinsip hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa, resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB, Majelis Umum PBB, serta prinsip-prinsip dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dia menilai serangan tersebut juga telah melanggar kedaulatan sebuah negara serta mengancam keamanan dan stabilitas regional.

"Apa pun alasan yang diberikan, kekerasan bukanlah jalan penyelesaian," kata Hasan.

Dia menekankan Malaysia mengecam sekeras-kerasnya tindakan kejam Israel, dan menyerukan serangan segera dihentikan.

"Perundingan perlu dilakukan demi menjamin perdamaian serta stabilitas global," kata Hasan.

 

Iran Diguncang Serangan Udara Israel, Kemlu Minta WNI Tingkatkan Kewaspadaan

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus mencermati situasi keamanan di Iran serta mengimbau WNI agar tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, mengikuti aturan setempat, dan menjaga komunikasi dengan KBRI Tehran. Kemlu RI Imbau WNI di Iran tetap tenang dan waspada.

“KBRI Tehran telah memastikan terjadi serangan bersenjata melalui udara di beberapa kota sekitar pukul 09.45 waktu setempat,” kata Juru bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang seperti dilansir Antara, Sabtu (28/2).

Yvonne mengatakan bahwa KBRI Tehran memfokuskan komunikasi intensif dengan WNI di Iran serta telah menerbitkan edaran terbaru yang memuat saran dan langkah konkret yang dapat ditempuh guna memastikan keselamatan dan keamanan mereka.

“Kita akan terus melakukan penilaian menyeluruh terhadap situasi keamanan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keselamatan WNI,” kata Yvonne.

Dia juga menyampaikan bahwa dalam keadaan darurat, WNI dapat segera menghubungi hotline KBRI Tehran.

 

Serangan

Sebelumnya, pada Sabtu (28/2), media melaporkan Israel dan AS telah melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan itu menjadi serangan kedua oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump setelah serangan pertama ke Iran pada Juni 2025.

Trump menyatakan bahwa pasukan AS meluncurkan operasi militer berskala besar di Iran untuk melindungi rakyatnya dengan meniadakan ancaman yang disebutnya berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran.

AS dan Iran telah melakukan tiga putaran perundingan program nuklir Iran secara tidak langsung yang dimediasi oleh Oman.

Putaran pertama dan kedua perundingan telah digelar awal bulan ini di Muscat dan Jenewa, yang berfokus pada pembatasan pengayaan dan persediaan uranium Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Sedangkan putaran ketiga dilakukan pada Kamis (26/2) di Jenewa.

Pada Jumat (27/2), Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Al-Busaidi menyatakan perundingan nuklir AS-Iran menyepakati kebijakan tanpa penimbunan uranium yang diperkaya, dengan pengurangan stok ke tingkat terendah dan konversi menjadi bahan bakar permanen di bawah verifikasi penuh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6