Seskab Teddy: Prabowo Satu-satunya Kepala Negara yang Bertemu Bilateral dengan Trump saat BoP

Seskab Letkol Teddy mengatakan Presiden Prabowo Subianto menjadi satu-satunya kepala negara yang melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden AS Donald Trump.

Diterbitkan 21 Februari 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya mengatakan Presiden Prabowo Subianto menjadi satu-satunya kepala negara yang melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di tengah padatnya agenda inaugural Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian.

Teddy menyebut setidaknya ada 15 kepala negara dan kepala pemerintahan yang menghadiri inaugural meeting BoP pada Kamis, 19 Februari 2026 waktu setempat. Namun, hanya Prabowo yang melaksanakan pertemuan bilateral secara langsung dengan Trump.

"Jadi Bapak Presiden melakukan bilateral dengan Presiden Donald Trump, jadi kemarin ada lebih dari 15 Kepala Negara dan Pemerintah, jadi kemudian satu-satunya Kepala Negara yang melakukan bilateral dengan Presiden Trump itu salah satunya, dan satu-satunya adalah Presiden Prabowo," ungkap Teddy dalam konferensi pers di Washington DC, sebagaimana dilihat dari Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (21/2/2026).

Dalam pertemuan itu, Prabowo dan Trump resmi menyepakati tarif perdagangan respirokal atau timbal balik. Teddy menuturkan diplomasi ekonomi yang dilakukan Prabowo berhasil membuat AS menurunkan tarf dagang untuk Indonesia, dari sebelumnya 32 persen menjadi 19 persen.

"Kemudian di situ juga dilaksanakan penandatanganan langsung perjanjian, yang mana saya mengingatkan lagi, jadi perjanjiannya memang 19 persen, menjadi 19 persen, dari sebelumnya tahun lalu itu 32 persen, menjadi 19 persen," tuturnya.

 

Tak Hanya Penurunan Tarif

Selain penurunan tarif, Teddy menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut juga memberikan fasilitas tarif 0 persen untuk 1.819 produk unggulan Indonesia. Mulai dari, kakao, minyak kelapa sawit, hingga kopi.

"Adaa tarif 0 persen untuk 1.819 produk unggulan, khususnya di bidang pertanian dan industri, kopi, kakao, minyak kelapa sawit, kemudian semi konduktor," jelas Teddy.

Usai penandatanganan perjanjian, Prabowo dan Trump melanjutkan pembahasan dalam pertemuan tertutup. Keduanya membahas isu strategis dalam suasana yang konstruktif dan produktif.

Sebelumnya, Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya mengatakan diplomasi Presiden Prabowo Subianto berhasil menurunkan tarif perdagangan resiprokal Amerika Serikat (AS) dari 32 persen menjadi 19 persen. Teddy berbicara peluang tarif respirokal tersebut dapat kembali turun.

 

Seskab Teddy Sebut Peluang Tarif Dagang AS 19 Persen Bisa Kembali Turun

Terlebih, kata Teddy, Presiden Prabowo melakukan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump usai penandatanganan tarif dagang respirokal di Washington DC pada Kamis, 19 Februari 2026 waktu AS.

Teddy menyebut pertemuan tersebut berlangsung 30 menit dan membahas sejumlah hal, termasuk tarif dagang.

"Presiden Prabowo dan Presiden Trump melaksanakan pertemuan, kurang lebih sekitar 30 menit, tentunya banyak pembicaraan di sana, dan kita tunggu, mungkin dalam waktu dekat, yang sekarang 19 persen, ya mungkin ke depan akan menjadi lebih baik lagi untuk Indonesia, kita tunggu saja," jelas Teddy dalam konferensi pers di Washington DC, pada Jumat (20/2/2026).

Dia menjelaskan, tarif dagang yang dikenakan AS untuk Indonesia awalnya 32 persen. Namun, berkat diplomasi yang dilakukan Prabowo, tarif perdagangan turun signifikan menjadi 19 persen.

"Kemudian di situ juga dilaksanakan penandatanganan langsung perjanjian, yang mana saya mengingatkan lagi, jadi perjanjiannya memang 19 persen, menjadi 19 persen, dari sebelumnya tahun lalu itu 32 persen, menjadi 19 persen," kata Teddy.

Menurut Teddy, kesepakatan perdagangan tersebut juga memberikan fasilitas tarif 0 persen bagi 1.819 produk-produk unggulan Indonesia. Khususnya pada sektor pertanian dan industri strategis.

"Kemudian yang kedua, ada tarif 0 persen untuk 1.819 produk unggulan, khususnya di bidang pertanian dan industri, kopi, kakao, minyak kelapa sawit, kemudian semi konduktor," jelas Teddy.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6