Harga Cabai Keriting di Jakarta Naik, Pramono Anung Targetkan Normal dalam Dua Pekan

Menurut Pramono, kenaikan harga cabai disebabkan adanya gangguan suplai cabai dari daerah pemasok.

Diterbitkan 19 Februari 2026, 12:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut komoditas cabai keriting mengalami lonjakan harga di awal Ramadan. Dia menyebut, kenaikan harga cabai disebabkan adanya gangguan suplai cabai dari daerah pemasok.

Pramono merinci, penurunan suplai berasal dari Jawa dan Sulawesi Selatan. Dia menyatakan curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan produksi menurun sehingga distribusi ke Jakarta berkurang.

“Sekarang ini memang terjadi kenaikan cabai keriting. Harga cabai keriting itu naik karena suplai dari Jawa maupun Sulawesi Selatan kuantitasnya mengalami penurunan karena hujan,” kata Pramono Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Meski begitu, Pramono optimistis kondisi naiknya harga cabai tersebut bersifat sementara karena intensitas hujan mulai menurun. Dia menargetkan harga cabai di Jakarta akan normal kembali dalam waktu dua pekan ke depan.

“Dengan sekarang ini curah hujan mulai turun, saya yakin dalam satu sampai dua minggu ke depan harga cabai di Jakarta bisa normal kembali,” jelas Pramono.

Intervensi Pasar

Selain itu, untuk menekan lonjakan harga dan menjaga stabilitas inflasi pangan selama Ramadan, dia memastikan bahwa Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan langkah intervensi pasar.

Pemprov DKI, lanjut Pramono akan membeli cabai langsung dan menyalurkannya kepada pengecer atau pedagang dengan skema margin keuntungan sebesar Rp 5.000 per kilogram.

“Kami akan membeli cabai kemudian menjual kepada pengecer atau pedagang, memberikan keuntungan Rp 5.000 supaya harganya terkontrol,” jelasnya.

Skema ini diharapkan mampu menjaga harga tetap stabil di tingkat konsumen sekaligus memastikan pedagang tetap memperoleh keuntungan yang wajar.

“Saya yakin dengan cara seperti ini inflasi di Jakarta pasti akan bisa kita kontrol. Dan ini sudah kita lakukan,” kata dia.

Harga Cabai Rawit Merah Juga Naik

Harga cabai rawit merah juga mengalami kenaikan. Pada Kamis, (19/2/2026), harganya mencapai Rp 82.950 per kilogram (kg). Sementara itu, harga bawang merah sentuh Rp 45.350 per kg dan telur ayam ras Rp 32.300 per kg.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia (BI) pada Kamis pagi pukul 10.03 WIB, harga bawang putih tembus Rp 40.750 per kg. Demikian seperti dikutip dari Antara pada Kamis pekan ini.

Sementara itu, beras kualitas bawah I di harga Rp14.750 per kg, beras kualitas bawah II Rp15.100 per kg. Sedangkan beras kualitas medium I Rp15.950 per kg, dan beras kualitas medium II di harga Rp16.250 per kg.

Selain itu, beras kualitas super I di harga Rp 17.200 per kg, dan beras kualitas super II Rp 16.850 per kg.

Kemudian PIHPS mencatat harga cabai merah besar mencapai Rp 45.000 per kg, cabai merah keriting Rp 51.100 per kg, dan cabai rawit hijau Rp 59.200 per kg.

Selanjutnya, daging ayam ras di harga Rp 41.050 per kg, daging sapi kualitas I Rp 146.200 per kg, daging sapi kualitas II di harga Rp 133.950 per kg.

Harga komoditas berikutnya yakni gula pasir kualitas premium tercatat Rp 20.500 per kg, gula pasir lokal Rp 18.600 per kg.

Di sisi lain, minyak goreng curah di harga Rp 19.050 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I di harga Rp 22.750 per liter, serta minyak goreng kemasan bermerek II di harga Rp 21.800 per liter.

Bapanas Ungkap Penyebab Kenaikan Harga Cabai

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap penyebab harga cabai rawit merah tembus Rp 100.000 per kilogram (kg). Curah hujan tinggi membuat petani tidak memanen hasilnya.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa memastikan kenaikan harga bukan karena tidak tersedianya stok cabai. Hanya saja, cuaca ekstrem tadi membuat petani menahan diri.

"Ini hujan yang menyebabkan memang. Kita bukan tidak ada barang. Barang sangat banyak di standing crop-nya (tanaman siap panen), tapi tidak ada yang berani metik karena hujan. Begitu hujan tinggi, tidak ada cabai, tidak bisa ada yang metik. Ini menjadi tantangan tersendiri," kata Ketut, mengutip keterangan resmi, Kamis (19/2/2026).

Solusinya, pemerintah telah meramu respons cepat dengan menjembatani stok CRM dari daerah produsen ke para pedagang di pasar-pasar induk, seperti Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) dan Tanah Tinggi.

Harapannya pasokan CRM dari Champion Cabai binaan Kementerian Pertanian (Kementan) yang harganya masih wajar, dapat meredakan harga cabai rawit merah untuk masyarakat di Ramadan ini.

"Kami upayakan, kemarin kami sudah lakukan rapat dengan Champion. Hari ini teman-teman mencari lokasi. Kemungkinan dapat di Bandung dan sekitarnya, Lembang dan lain sebagainya. Nah kita akan dorong ke pasar induk. Jadi pasar induk kita kasih banyak cabai dulu, biar agak turun di pasar induk," kata Ketut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6