Liputan6.com, Jakarta - Rosita Istiawan, memilih menetap dan mengelola lahan kosong agar kembali hijau di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang pernah dikenal sebagai wilayah dengan lahan rusak dan rawan longsor.
Sejak awal 2000-an, ia merawat tanah bekas kebun yang gersang hingga berubah menjadi hutan organik yang kini memberi manfaat ekologis bagi lingkungan sekitar.
Lebih dari 25 tahun, Rosita bertahan mengurus kawasan tersebut secara langsung. Awalnya, lahan yang dikelola hanya sekitar 2.000 meter persegi dengan tanah asam. Perlahan, melalui pembelian bertahap dari warga, luasnya berkembang hingga sekitar 30 hektare.Â
Advertisement
"Kalau pemiliknya tidak tinggal di situ, batas lahan bisa berubah tanpa disadari dan tanah bisa berpindah," ujar Rosita kepada Liputan6.com, dalam acara Talk Show Rooted in Purpose Women Shaping Climate Outcomes, Selasa 10 Februari 2026.
Keputusan tinggal di lokasi menjadi penting karena batas lahan sering berubah jika tidak dijaga. Dengan berada di tempat, Rosita bisa memastikan kawasan tetap berfungsi sebagai ruang hijau. Ia juga tidak membangun pagar tembok.
Batas kawasan dibuat dari pohon keras agar hutan tetap terbuka dan menyatu dengan kehidupan masyarakat sekitar.
"Saya tidak mau hutan ini tertutup. Batasnya cukup pohon supaya tetap hidup bersama lingkungan sekitar," cerita Rosita.
Pendekatan ini membuat kawasan tetap terbuka dan menyatu dengan aktivitas warga, sehingga hutan tidak terpisah dari lingkungan sekitarnya.
Menghijaukan Lahan Gersang dengan Agroforestri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3483161/original/088606400_1623749024-arnaud-mesureur-7EqQ1s3wIAI-unsplash_Fotor.jpg)
Proses mengubah lahan rusak menjadi hutan tidak terjadi cepat. Rosita tidak memiliki latar belakang kehutanan. Ia belajar dari pengalaman langsung.Â
Pada awalnya, ia mencoba menanam tanaman yang cepat panen agar bisa memberi hasil ekonomi lebih cepat. Namun, banyak tanaman tidak tumbuh baik karena kondisi alam Megamendung yang lembap dan bercurah hujan tinggi.
Dari situ, Rosita mengubah cara tanam menjadi sistem agroforestri atau tumpang sari. Dalam satu hektare lahan, ia menanam sekitar 1.500 pohon dengan berbagai jenis. Pohon-pohon itu dipadukan dengan tanaman pangan seperti pakcoy dan buncis yang bisa dipanen berkala.
"Saya sempat ingin cepat hasil, tapi ternyata alam tidak bisa dipaksa. Hutan itu harus pelan-pelan," kata Rosita.
Hingga sekarang, sekitar 44 ribu pohon dari 122 jenis tumbuh di kawasan tersebut. Keragaman tanaman ini membuat hutan terbentuk bertahap. Tanah yang dulu keras kini mulai gembur karena akar pohon membantu menyimpan air dan memperbaiki struktur tanah.
"Perjuangan membangun hutan tidak berhenti pada penanaman. Perawatan yang konsisten menjadi kunci agar tanaman dapat tumbuh dan membentuk ekosistem," ucap Rosita.
Advertisement
Air Kembali Muncul dan Satwa Datang Lagi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3014395/original/064223700_1578364376-forest-1598756_960_720.jpg)
Setelah puluhan ribu pohon tumbuh, perubahan mulai terlihat. Kawasan yang dulu sulit air kini memiliki beberapa mata air. Pohon membantu menahan air hujan agar tersimpan di tanah dan keluar perlahan.Â
"Dulu saya sampai bawa air sendiri. Sekarang sudah cukup dan bisa mengalir ke warga," kata Rosita.
Selain air, kehidupan satwa juga kembali. Banyak jenis burung muncul, termasuk elang jawa yang menandakan lingkungan sudah lebih sehat. Udara di sekitar hutan terasa lebih sejuk karena tutupan pohon semakin rapat.
Tutupan pohon membantu menekan risiko longsor karena tanah lebih kuat menahan air hujan, hal yang penting bagi kawasan perbukitan seperti Megamendung.
Hutan organik Megamendung tidak dibuka sebagai wisata. Rosita mengelolanya lewat yayasan agar tidak diperjualbelikan dan tetap terjaga dalam jangka panjang. Warga sekitar ikut terlibat, terutama kelompok perempuan yang membantu pembibitan dan perawatan tanaman.
Perjuangan Rosita Istiawan menunjukkan bahwa menjaga lingkungan butuh waktu panjang. Dari lahan kosong yang rusak, kini tumbuh hutan organik yang memberi air, udara segar, dan perlindungan bagi lingkungan sekitar.
Upaya ini menjadi contoh bahwa perubahan bisa dimulai dari satu orang yang mau konsisten merawat alam.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3582664/original/042592600_1632516996-Sayuran_2.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499013/original/086704900_1770743034-WhatsApp_Image_2026-02-10_at_23.18.43.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9076838/original/076638200_1783028282-000_B8H386V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072363/original/048211400_1783026161-000_B9476UW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072362/original/069449700_1783026157-000_B94788B.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411138/original/071923000_1782295017-leao.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260345/original/097053600_1781587471-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257805/original/092292600_1781257252-9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8936811/original/000994900_1782963967-Kepala_DLKH_Depok.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8799919/original/000117000_1782902848-Wamenhut.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8407960/original/020894400_1782291107-ChatGPT_Image_24_Jun_2026__15.43.56.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782150/original/095901200_1782877989-henrik-l-pSrbsvmIxSU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8790512/original/064355700_1782898493-Jenewa.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5209049/original/095547800_1746424139-image__12_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782451/original/096347000_1782887081-Cakung_Barat.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782422/original/035473700_1782885706-Degradasi.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782438/original/039428600_1782886412-GSDC.jpeg)