Sandiaga Bangun Kemandirian Warga Jepara Lewat Kriya Limbah Kayu

Sandiaga menambahkan, pelatihan di Jepara menjadi bagian pemberdayaan desa.

Diterbitkan 09 Februari 2026, 04:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • YIS, Bank Infaq, NRC, Gentanala gelar pelatihan olahan limbah kayu di Jepara.
  • Tujuannya memberdayakan warga secara ekonomi melalui pemanfaatan limbah kayu.
  • Pelatihan ini menciptakan produk bernilai tinggi dan menjaga lingkungan.

Liputan6.com, Jakarta - Yayasan Indonesia Setara (YIS) bekerja sama dengan Bank Infaq, NRC, dan Gentanala menggelar pelatihan olahan limbah kayu di Jepara, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026).

Kegiatan ini bertujuan memberdayakan warga agar mandiri secara ekonomi lewat pemanfaatan limbah kayu. Kegiatan yang diikuti 30 orang peserta itu berupa workshop pembuatan holder ponsel serta liontin kalung dari limbah kayu.

Selain itu, peserta diajarkan hardskill pembuatan holder ponsel dan gantungan kunci resin, bahan yang dipilih karena murah dan mudah dimodifikasi dari limbah kayu. Setelah sesi offline, peserta mengikuti pendampingan daring selama tiga minggu.

Mereka dapat berdiskusi dengan trainer apabila menghadapi tantangan, ataupun diberikan bimbingan terkait pengembangan usaha, pembuatan konten promosi hingga strategi digital marketing.

Founder YIS, Sandiaga Uno, menyampaikan apresiasi kepada NRC dan Bank Infaq atas kolaborasi dalam program ini.

"Senang rasanya bisa berkolaborasi. Semoga program ini menjadi langkah awal untuk kolaborasi berikutnya. Hal ini memang menjadi fokus kami sejak lama, untuk memberdayakan potensi bangsa, termasuk perempuan, anak muda, penyandang disabilitas dan masyarakat desa,” ujar Sandiaga dalam keterangan diterima, Senin (9/2).

Ia menambahkan, pelatihan di Jepara menjadi bagian pemberdayaan desa. Kota ini dikenal sebagai sentra kerajinan kayu dan furnitur, sehingga inovasi pengolahan limbah kayu menjadi produk bernilai tambah sangat relevan.

 

Inovasi

Sementara itu, Perwakilan NRC, Wawan, menekankan pentingnya inovasi dalam pengolahan limbah kayu.

"Dengan dibantu Mas Reza, peserta dapat belajar menghasilkan karya-karya baru. Harapan kami, peserta terus mengembangkan produk inovatif di lingkungan mereka," ujarnya.

Salah satu peserta dan mentor pelatihan, Reza, yang sebelumnya tergabung dalam program Rocket Youthpreneur, berbagi pengalaman mengolah limbah kayu menjadi jam tangan.

Dirinya menjelaskan merek Gentanala yang dibangunnya fokus memanfaatkan limbah kayu menjadi produk bernilai tinggi, seperti kotak, jam tangan, case handphone, dan aksesoris lainnya.

"Limbah kayu jati yang biasanya terbuang bisa diolah kembali, menghasilkan produk bernilai jual tinggi, bahkan diekspor. Ini juga turut menjaga lingkungan karena limbah tidak dibakar atau dibuang,” kata Reza.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6