Ketum Golkar Minta Kadernya Perkuat Persatuan di Tengah Dinamika Politik

Ketum Golkar Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa salah satu tujuan utama berdiri partainya adalah mempertahankan ideologi Pancasila dan menjaga kebinekaan.

Diterbitkan 07 Februari 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Golkar bertujuan menjaga ideologi Pancasila dan kebinekaan sebagai aset bangsa.
  • Persatuan Indonesia dengan beragam suku dan bahasa adalah mukjizat sejarah.
  • Memperdebatkan latar belakang daerah berpotensi memecah belah bangsa.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengingatkan ke kadernya bahwa tujuan partainya dibentuk adalah menjaga ideologi bangsa Indonesia.

Hal ini disampaikannya saat Golkar menggelar Training of Trainers (ToT) Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bagi seluruh Anggota MPR/DPR Fraksi Partai Golkar.

"Jadi menurut saya, Partai Golkar sebagai partai yang didirikan oleh para pendahulu kita yang salah satu tujuannya adalah mempertahankan ideologi Pancasila, harus menjaga kebinekaan sebagai bagian dari aset negara terbesar kita," kata Bahlil di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, seperti dikutip Sabtu (7/2/2026).

Bahlil mengajak kepada para kader menengok kembali perjalanan panjang bangsa Indonesia yang menyatukan wilayah Nusantara yang terdiri dari 17.400 pulau, 1.413 suku, dan 718 bahasa bukanlah perkara mudah.

“Lahirnya kesadaran berbangsa, mulai dari Kebangkitan Nasional 1908 hingga Sumpah Pemuda 1928, adalah mukjizat dan buah dari kebesaran jiwa para pendahulu. Sumpah Pemuda itu adalah perekat untuk mengikat kita dalam satu perspektif yang sama. Bahwa persatuan untuk mengabaikan perbedaan adalah merupakan sebuah langkah menuju untuk mencapai kemerdekaan," jelas Bahlil. 

Potensi Perpecahan

Bahlil pun mewanti soal potensi perpecahan jika masyarakat atau elite politik masih mempersoalkan latar belakang kedaerahan di era modern ini.

“Fondasi Bhinneka Tunggal Ika sudah final dan tidak seharusnya didebatkan kembali jika bangsa ini ingin terus maju.

"Jadi, kalau hari ini bangsa ini masih memperdebatkan antara satu dari NTT, satu dari Sulawesi, satu dari Aceh, satu dari Papua, satu dari Maluku, dan satu dari Kalimantan, maka tunggu saatnya saja (perpecahan)," Bahlil menandasi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6