Pramono Anung Minta Pembongkaran Tiang Monorel Dipercepat, Target 4 sampai 5 Tiang Sehari

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta percepatan pembongkaran 109 tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said.

Diterbitkan 06 Februari 2026, 13:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta meminta anak buahnya untuk mempercepat pembongkaran deretan tiang monorel mangkrak di median Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. 

Ia menilai, 4-5 tiang mangkrak yang berjejer dari Stasiun LRT Setiabudi, Sisi Timur hingga Hotel Grand Melia itu bisa dibongkar dalam waktu sehari. Pasalnya, di sepanjang kawasan itu, total ada 109 tiang monorel mangkrak. 

"Saya mencanangkan kan diselesaikan di bulan September. Tetapi setelah melihat kerjaan di lapangan, saya minta dipercepat. Kalau dulu hanya satu tiang satu hari, saya minta enggak, kalau perlu empat lima tiang sehari dan sekarang sudah dilakukan," kata Pramono di Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026). 

Adapun pembongkaran tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said dilakukan sepenuhnya oleh Dinas Bina Marga DKI Jakarta.

"Untuk yang pemotongan, kebetulan kemarin saya lewat, yang dilakukan sekarang adalah yang mulai ada betonnya. Sehingga untuk beton ini pasti memerlukan waktu yang lebih lama, tapi yang tiang-tiang saja hampir semuanya sudah terpotong," ungkap Pramono.

Lebih lanjut, dia kembali meluruskan bahwa pembongkaran tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said merupakan bagian dari penataan kawasan di wilayah tersebut, seperti  perbaikan jalan, pembuatan selokan hingga pedestrian. 

“Sekali lagi saya ingin meluruskan karena sekarang ini masih ada yang menganggap bahwa pemotongan tiang itu Rp 100 miliar. Padahal enggak, Rp 100 miliar itu secara keseluruhan buat selokan, buat jalan, taman, pendestrian, dan sebagainya,” kata Pramono. 

Pemprov DKI Pastikan Tak Ada Penutupan Jalan

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan pembongkaran tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan (Jaksel) rampung dikerjakan pada September 2026.

Menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, seluruh proses pembongkaran tiang monorel dan penataan kawasan Jalan Rasuna Said dilakukan pada malam hari agar tidak mengganggu arus lalu lintas di salah satu jalan utama Jakarta tersebut.

"Bahwa ini pengerjaannya akan dilakukan malam hari ya. Sehingga dengan demikian tidak ada penutupan jalur, dan mudah-mudahan saya sudah minta ke Bina Marga dan Perhubungan untuk pengaturan lalu lintas agar tidak macet. Karena ini jalan utama kita," ujar Pramono di sekitar Stasiun LRT Setiabudi, Jaksel, Rabu (14/1/2026).

Ada pun penataan kawasan di Jalan HR Rasuna Said meliputi, pembongkaran 109 tiang monorel yang telah mangkrak selama lebih dari dua dekade, sekaligus penataan ulang jalan.

Pramono menjelaskan, anggaran yang dikucurkan oleh Pemprov DKI Jakarta mencapai Rp102 miliar. Anggaran ini dialokasikan untuk penataan kawasan tersebut secara menyeluruh, bukan hanya pembongkaran 109 tiang monorel mangkrak.

"Jadi penataannya yang dibuat adalah penataan dibuat jalan, kemudian saluran trotoar, penerangan jalan umum, dan sarana kelengkapan lainnya dan juga tentunya estetika dari trotoar dan taman-taman yang ada. Sehingga Rp102 miliar itu untuk kebutuhan tersebut. Dan itu sudah dikaji secara mendalam," tegas Pramono.

Selesai September 2026

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan atau Dishub DKI Jakarta Syafrin Liputo menjelaskan, proses penataan ditargetkan selesai dalam waktu delapan bulan atau hingga September 2026.

Syafrin menyebut, proses pembongkaran tiang monorel dilakukan tanpa adanya penutupan jalan. Pekerjaan akan dilakukan pada malam hari pada pukul 23.00 WIB hingga 05.00 WB, dengan skema pemotongan satu kolom tiang monorel per malam.

"Jadi rekayasa lalu lintasnya adalah pertama tidak ada penutupan jalan. Dan karena pekerjaannya itu pada malam hari, dan sesuai rencana bahwa nantinya akan ada pemotongan tiang, itu rencana satu tiang satu malam," kata Syafrin.

Menurutnya, penutupan hanya dilakukan secara bertahap pada lajur lambat dengan sistem staging, sementara arus kendaraan tetap akan berjalan.

"Untuk lajur lambatnya, jalur lambatnya ini akan dilakukan penutupan secara staging. Jadi misalnya di ruas ini yang akan ditutup, tadi di ujung kami lakukan penutupan, kemudian di bukaan depan itu otomatis yang dari lajur cepat itu bisa masuk ke jalur lambatnya. Demikian seterusnya sampai dengan di Simpang Gatot Subroto nantinya," tutup Syafrin.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6