4 Februari Hari Kanker Sedunia, WHO: Paparan Lingkungan Berkontribusi terhadap Risiko

Dalam memperingati Hari Kanker Sedunia 4 Februari, polusi udara, air, dan zat berbahaya ditelisik sebagai faktor risiko kanker yang kerap luput disadari.

Diterbitkan 05 Februari 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setiap tanggal 4 Februari diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia, sebuah momentum penting untuk mengingat bahwa kanker bukan hanya penyakit genetik atau gaya hidup melainkan banyak faktor.

Termasuk lingkungan yang juga berkontribusi secara signifikan terhadap munculnya berbagai jenis kanker. Paparan terhadap zat-zat berbahaya di udara, air, tanah, dan makanan merupakan bagian dari risiko yang tidak boleh diabaikan.

Tema Hari Kanker Sedunia 2025-2027 adalah 'United by Unique' atau Bersatu karena Keunikan, yang akan mengeksplorasi berbagai dimensi perawatan kanker yang berpusat pada manusia dan cara-cara baru untuk membuat perbedaan

Menurut World Health Organization (WHO) sejumlah faktor risiko kanker terjadi karena paparan lingkungan. Salah satunya adalah polusi udara yang masuk daftar faktor risiko bersama tembakau, pola makan tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik. Polusi udara termasuk salah satu ancaman yang serius karena sifatnya yang luas dan tak terlihat.

Badan Penelitian Kanker WHO, International Agency for Research on Cancer (IARC) telah mengklarifikasikan polusi udara luar ruangan dan partikel halusnya (PM) sebagai karsinogenik bagi manusia.

Bagaimana Polusi Udara Dapat Menyebabkan Kanker?

Polusi udara merupakan campuran zat-zat dari kendaraan bermotor, proses industri, pembangkit listrik, dan pembakaran sampah atau biomassa di rumah tangga yang menghasilkan partikel halus dan senyawa berbahaya.

Berdasarkan laporan National Center for Biotechnologi Information dalam lamannya, menjelaskan polusi udara baik di laur maupun di dalam ruangan adalah faktor yang paling banyak diteliti dan paling penting dalam berkontribusi terhadap beban kanker lingkungan pada populasi manusia.

Polusi udara saja diperkirakan menyebabkan 350.167 kematian akibat kanker paru-paru di seluruh dunia pada tahun 2017. Paparan jangka panjang terhadap polusi ini dapat menyebabkan peradangan kronis pada jaringan paru-paru bahkan pada orang yang tidak pernah merokok.

Lingkungan Lain yang Berkontribusi pada Kanker

Selain udara, lingkungan juga menjadi sumber paparan karsinogen atau zat yang dapat meningkatkan risiko kanker, seperti:

  • Bahan kimia berbahaya di tempat kerja dan lingkungan, termasuk asbestos, benzena, arsenik dan pestisida yang telah diidentifikasi sebagai penyebab kanker di berbagai organ tubuh
  • Radiasi ultraviolet (UV) dari matahari yang meningkatkan risiko kanker kulit.
  • Polusi air dan tanah, terutama di sekitar area industri atau tempat pembuangan limbah yang tidak dikelola dengan baik, yang memungkinkan kontaminan masuk ke dalam makanan/minuman.

Seberapa Besar Pengaruhnya?

Laporan State of Global Air 2024 oleh Health Effects Institue (HEI) mengungkapkan bahwa polusi udara menyebabkan 8,1 juta kematian global pada tahun 2021, menjadikannya faktor risiko kematian tertinggi kedua.

Menurut data WHO, saat ini antara 30 hingga 50% kanker dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko dan menerapkan strategi pencegahan berbasis bukti yang sudah ada, termasuk paparan lingkungan. Angka kematian akibat kanker dapat menurun ketika kasus terdeteksi dan diobati sejak dini. Deteksi dini terdiri dari dua komponen, meliputi diagnosis dini dan skrining.

Polusi udara telah menjadi faktor lingkungan yang signifikan memengaruhi kesehatan manusia, dan didefinisikan sebagai polutan yang berpotensi berbahaya.

Apa Yang Bisa Dilakukan?

Menangani kanker dari perspektif lingkungan berarti memprioritaskan:

  • Perbaikan kualitas udara, melalui pengurangan emisi kendaraan bermotor, transisi ke energi bersih, dan pengelolaan sampah yang lebih baik.
  • Pengendalian bahan kimia berbahaya, di industri dan konsumen, termasuk pembatasan pemggunaan bahan yang terbukti karsinogen.
  • Peningkatan standar kualitas air dan tanah, agar sumber daya alam tidak menjadi media penyebaran zat penyebab kanker.
  • Upaya pencegahan ini tidak sekedar melindungi generasi hari ini, tetapi juga masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6